Konten dari Pengguna

Alasan Pelajaran Bahasa Indonesia Sulit

Atika Putri Setiawan

Atika Putri Setiawan

Mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi di Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atika Putri Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pixabay.com

Bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran pokok yang menjadi salah satu mata pelajaran pada ujian nasional. Sebagai warga negara Indonesia tentu penggunaan bahasa Indonesia sendiri tidak sulit, namun dalam hal akademis sangat disayangkan bahasa Indonesia menjadi salah satu pelajaran yang tergolong sulit. Bahkan tidak jarang nilai bahasa Indonesia para siswa lebih rendah dibandingkan nilai bahasa asing seperti bahasa inggris.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan sebagai salah satu alat persatuan bangsa seharusnya tidak sulit untuk dipelajari. Dengan adanya kenyataan bahwa terdapat banyak siswa yang nilai bahasa Indonesia lebih rendah dari bahasa asing tentu menjadi sesuatu yang aneh dan perlu diperhatikan.

Lalu, mengapa pelajaran bahasa Indonesia sulit?

Pelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya memuat tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam penggunaannya di kehidupan sehari-hari yang seharusnya sangat mudah dipahami. Faktor yang menyebabkan bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang sulit sebenarnya berasal dari siswa sendiri, seperti :

  1. Kebanyakan siswa menganggap pelajaran bahasa Indonesia itu hal yang mudah sehingga materi pembelajarannya tidak dipelajari secara maksimal dan cenderung tidak terlalu diperhatikan dibandingkan pelajaran yang lainnya. Hal ini menyebabkan siswa menjadi tidak paham apa yang disampaikan.

  2. Siswa tidak mengetahui makna atau definisi sebenarnya dari suatu kata, sehingga dalam menafsirkan dan penggunaannya menjadi tidak tepat. Makna suatu kata juga dapat berubah ketika diberi imbuhan dan di sini kebanyakan siswa masih salah dalam penggunaan suatu imbuhan sehingga arti dari kata yang disampaikan menjadi berbeda.

  3. Siswa tidak terbiasa menggunakan bahasa baku. Siswa pada umumnya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa gaul maupun bahasa daerah sehingga dalam penggunaannya bahasa yang tidak baku malah dianggap bahasa baku yang benar. Seperti pada kata “praktik” kebanyakan masih menyebutnya sebagai “praktek”, kata “cabai” menjadi “cabe”, kata “atlet” menjadi “atlit”, dan lainnya.

  4. Pelajaran bahasa Indonesia identik dengan soal yang panjang, sehingga tidak jarang siswa merasa malas untuk membacanya dan kemudian menjadi sulit untuk menjawab soal yang diberikan.

Adanya pelajaran bahasa Indonesia ditujukan untuk memperbaiki penggunaan bahasa Indonesia sejak dini serta untuk menjaga kelestarian bahasa Indonesia yang asli sesuai dengan kaidah kebahasaan bukan yang merupakan bahasa campuran. Jika siswa lebih serius dalam belajar bahasa Indonesia, memahami kaidah kebahasaan, serta membiasakan diri berlatih tentu saja bahasa Indonesia tidak lagi menjadi sulit.