Konten dari Pengguna

Pelajaran Rahasia yang Membuatmu Jadi Dirimu Sekarang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Adhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari seragam, ranking, sampai label "anak bandel", sekolah ternyata mengajarkan pelajaran rahasia daripada yang tertulis di jadwal pelajaran.

Belajar di sekolah Indonesia. Sumber Foto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Belajar di sekolah Indonesia. Sumber Foto : Pixabay

Coba ingat-ingat masa sekolah. Pelajaran apa yang paling membekas? Mungkin bukan rumus Pythagoras. Bisa jadi justru hal-hal kecil seperti ditegur gara-gara rambut kepanjangan, deg-degan menunggu pengumuman ranking, atau tahu persis siapa “anak emas” guru di kelas.

Tidak ada satu pun dari itu yang tertulis di jadwal pelajaran. Tapi semuanya terasa nyata dan membentuk kita. Dalam sosiologi pendidikan, inilah yang disebut kurikulum tersembunyi atau hidden curriculum.

Dua Wajah Fungsi Sekolah: yang Terlihat dan yang Tersembunyi

Sosiolog Robert K. Merton membedakan fungsi menjadi dua. Fungsi manifes adalah tujuan resmi yang memang diumumkan, dan fungsi laten adalah dampak yang tidak direncanakan tapi tetap terjadi.

Untuk sekolah, fungsi manifesnya jelas: mengajarkan ilmu, membentuk keterampilan, dan memberi ijazah. Tapi coba lihat fungsi latennya:

Sekolah menjadi tempat penitipan anak sehingga orang tua bisa bekerja. Sekolah menjadi tempat mencari teman, circle, bahkan jodoh. Sekolah juga menahan anak muda dari dunia kerja untuk sementara waktu, sehingga angka pengangguran tidak membengkak. Pernah dengar orang bilang “kuliah itu yang penting dapat relasi”? Nah, itu fungsi laten yang sedang bicara.

Seragam, Upacara, dan Bel: Cara Sekolah Menyatukan Kita

Emile Durkheim percaya bahwa pendidikan bertugas menanamkan nilai bersama supaya masyarakat tetap bersatu. Lihat saja upacara bendera tiap Senin, seragam yang sama, dan aturan jam masuk. Semua anak diajak merasa menjadi bagian dari satu kelompok besar yang sama.

Dari sini kita belajar hal-hal yang tidak tercantum di silabus: antre dengan tertib, duduk diam saat orang lain bicara, patuh pada bel, dan menerima bahwa ada yang memberi perintah dan ada yang menjalankan. Ini semua pelajaran disiplin sosial, dan kita menyerapnya tanpa sadar.

Ketika Label Lebih Kuat dari Nilai

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling menarik. Pendekatan interaksionisme simbolik melihat bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang ia berikan pada sesuatu, dan makna itu lahir dari interaksi sehari-hari.

Di sekolah, banyak sekali simbol yang punya makna. Seragam rapi diartikan “anak baik”. Rambut gondrong diartikan “bermasalah”. Duduk di bangku depan diartikan “rajin”. Nilai merah diartikan “bodoh”. Sebuah label kecil bisa menempel bertahun-tahun.

Anak yang terus dipanggil “bandel” lama-lama bisa percaya bahwa dirinya memang bandel.

Fenomena ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu ramalan yang menjadi kenyataan karena diyakini. Penelitian klasik di bidang pendidikan menunjukkan bahwa harapan guru terhadap muridnya dapat memengaruhi cara guru memperlakukan murid, dan pada akhirnya ikut memengaruhi perkembangan murid itu sendiri. Artinya, label bukan sekadar kata. Ia bisa membentuk masa depan.

Ranking, Razia, dan Kompetisi yang Kita Anggap Biasa

Kurikulum tersembunyi juga hadir lewat kebiasaan yang kita anggap normal. Ranking mengajarkan bahwa nilai diri bisa diukur dengan angka dan urutan. Razia rambut dan atribut mengajarkan bahwa penampilan harus seragam. Hukuman bagi yang terlambat mengajarkan bahwa waktu adalah soal kepatuhan.

Sebagian pelajaran ini berguna, misalnya disiplin dan tanggung jawab. Tapi sebagian lain patut dipertanyakan. Apakah kita sedang membentuk anak yang kritis, atau anak yang sekadar pandai menurut? Apakah anak yang berbeda dianggap unik, atau dianggap menyimpang?

Lalu, Apa Gunanya Kita Tahu Ini?

Dengan memahami kurikulum tersembunyi, guru bisa lebih berhati-hati dalam memberi label dan menilai. Orang tua bisa lebih peka terhadap apa yang sebenarnya dipelajari anak di sekolah. Dan kita sendiri bisa lebih sadar mengapa kita berpikir dan bersikap seperti sekarang.

Sekolah memang mengajarkan banyak hal. Tapi pelajaran terbesarnya sering datang bukan dari buku, melainkan dari cara sekolah memperlakukan kita setiap hari.

Kalau kamu menengok ke belakang, pelajaran apa dari sekolah yang paling membekas dan tidak pernah ada di rapor?