Konten dari Pengguna

“Nasihat-nasihat” dan Sunyi Suara Anak yang Tak Didengar

Komala

Komala

Mahasiswa sastra indonesia.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Komala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi

"Nasihat-nasihat" A.A. Navis: Saat Petuah Kehilangan Arti

Cerpen Nasihat-nasihat karya A.A. Navis menggambarkan potret sosial yang akrab namun sering luput disadari: tentang seorang anak bernama Hasibuan yang sejak kecil dikepung oleh berbagai petuah dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Mulai dari orang tua, guru, hingga lingkungan sosial, semuanya merasa berhak memberi arahan tentang bagaimana ia harus hidup, dan bersikap.

Lewat gaya bercerita yang sederhana A.A. Navis mengkritik budaya "suka menasihati" yang sering terjadi tanpa memikirkan empati.

Alih-alih membentuk Hasibuan menjadi pribadi tangguh, banjir nasihat itu justru membuatnya bingung dan tertekan. Ia kehilangan arah karena terus diminta menjadi "anak baik" tanpa pernah benar-benar didengar.

Cerpen ini menyentil kita semua: apakah setiap nasihat benar-benar membangun? Atau justru bisa menjadi beban jika disampaikan tanpa memahami kondisi si anak? Apakah niat baik orang dewasa kadang luput memperhatikan kebutuhan emosional anak yang sebenarnya?

Nasihat-nasihat menjadi cermin budaya didik yang lebih sibuk bicara daripada mendengar. Cerita ini tetap hidup dan sangat relevan hari ini, sebagai pengingat bahwa membimbing anak bukan soal banyaknya petuah, tapi sejauh mana kita hadir untuk memahami mereka sebagai individu yang utuh.

A.A. Navis mengingatkan bahwa mendidik bukan sekadar menasihati, tapi juga soal memahami, membimbing, dan memberi ruang untuk tumbuh.

Cerpen ini tetap relevan hingga kini, menjadi kritik sosial yang menantang kita untuk lebih banyak mendengar, bukan hanya bicara.

Daftar Pustaka:

1. A.A. Navis.

Nasihat-nasihat. Dalam Robohnya Surau Kami. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.