Kenapa Kita Selalu Merasa Kurang dengan Bentuk Tubuh Sendiri?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aulia Talitha Irhab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika tubuh sebenarnya baik-baik saja, tetapi kita selalu menemukan sesuatu yang terasa kurang.
Pernah nggak sih, kita merasa bentuk tubuh sendiri nggak ideal, padahal sebenarnya nggak ada yang salah?
Kita mungkin nggak gemuk, tapi merasa perut terlalu besar. Berat badan sebenarnya normal, tapi tetap merasa paha terlalu besar atau pipi terlalu tembem. Sebaliknya, ada juga yang tubuhnya memang kurus dan justru merasa dirinya terlalu kurus.
Akhirnya, selalu ada bagian yang ingin diubah.
Hari ini mungkin masalahnya di perut. Besok merasa pipi terlalu besar. Lain waktu mulai memperhatikan lengan, paha, atau bentuk wajah.
Padahal kalau dilihat dari luar, mungkin sebenarnya tidak ada yang aneh.
Lalu kenapa kita tetap merasa kurang?
Kita Jadi Terlalu Hafal dengan Kekurangan Sendiri
Salah satu alasannya mungkin karena kita terlalu sering memperhatikan tubuh sendiri.
Kita tahu bagian mana yang menurut kita kurang bagus. Kita tahu pipi terlihat seperti apa dari samping, tahu bagian perut seperti apa saat duduk, atau tahu bentuk tubuh seperti apa ketika memakai pakaian tertentu.
Hal-hal kecil yang mungkin nggak diperhatikan orang lain justru jadi sangat besar di kepala kita.
Semakin sering diperhatikan, semakin kita merasa bagian tersebut memang bermasalah.
Padahal, belum tentu.
Orang lain mungkin sedang ngobrol dengan kita tanpa sedikit pun memikirkan bentuk perut atau pipi kita. Sementara kita sendiri bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memikirkan satu bagian tubuh.
Standar Tubuh Ideal Ada di Mana-Mana
Kita juga hidup di tengah banyak sekali gambaran tentang tubuh yang dianggap ideal.
Di media sosial, kita bisa menemukan orang dengan bentuk tubuh yang berbeda-beda, tetapi sering kali yang paling banyak mendapat perhatian adalah tubuh yang dianggap menarik atau sesuai standar tertentu.
Lama-lama, standar tersebut terasa normal.
Kita mulai berpikir bahwa badan seharusnya seperti ini. Wajah seharusnya seperti itu. Paha seharusnya sekian. Pinggang harus terlihat kecil. Pipi harus tirus.
Padahal, tubuh manusia memang nggak dibuat dengan satu bentuk yang sama.
Masalahnya, ketika kita terlalu sering melihat satu standar, tubuh sendiri jadi terasa salah hanya karena tidak terlihat seperti yang kita lihat di layar.
Foto Orang Lain Kita Bandingkan dengan Diri Sendiri
Media sosial juga membuat proses membandingkan diri jadi jauh lebih mudah.
Kita bisa melihat foto orang lain yang sudah dipilih dengan baik, menggunakan pencahayaan yang bagus, pose yang sesuai, dan mungkin sudah melewati berbagai proses sebelum akhirnya diunggah.
Kemudian kita melihat diri sendiri dari foto yang diambil secara spontan.
Tanpa sadar, kita membandingkan dua hal yang sebenarnya tidak setara.
Belum lagi ketika melihat seseorang yang punya bentuk tubuh yang kita inginkan.
“Enak banget ya badannya kayak gitu.”
Dari situ, kita mulai melihat tubuh sendiri dengan lebih kritis.
Bukan lagi sekadar melihat diri sendiri, tapi mencari apa yang salah.
Komentar yang Dianggap Bercanda Bisa Ikut Membentuk Cara Kita Melihat Diri
Kadang rasa insecure juga berawal dari komentar yang sebenarnya dianggap sepele.
“Sekarang kok gemukan?”
“Kurus banget sih.”
“Pipi lo makin chubby.”
“Coba kalau berat badan turun sedikit.”
Buat yang ngomong mungkin cuma bercanda atau sekadar komentar biasa. Tapi kita nggak pernah tahu apakah orang yang mendengarnya akan memikirkannya berhari-hari.
Bisa saja setelah itu dia mulai lebih sering bercermin.
Mulai memperhatikan berat badan.
Mulai memilih pakaian berdasarkan apakah bisa menutupi bagian tertentu.
Bahkan mulai merasa tidak nyaman ketika difoto.
Satu komentar mungkin terdengar kecil, tetapi kalau terus diingat, lama-lama bisa mengubah cara seseorang melihat tubuhnya sendiri.
Yang Bikin Sulit, Kita Sering Mengira Perasaan Itu Fakta
Ada perbedaan antara “gue merasa gendut” dan “gue memang gendut.”
Perasaan tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Saat sedang insecure, kita bisa melihat tubuh sendiri dengan jauh lebih kritis. Bagian yang sebenarnya biasa saja terlihat seperti masalah besar.
Hal yang sama juga bisa terjadi pada orang yang merasa terlalu kurus.
Mereka mungkin tahu bahwa tubuhnya memang kecil, tetapi bukan berarti ada sesuatu yang salah. Namun karena terus membandingkan diri dengan bentuk tubuh lain, tubuh sendiri akhirnya terasa tidak cukup.
Jadi, persoalannya tidak selalu tentang ukuran tubuh.
Kadang persoalannya ada pada bagaimana kita menilai tubuh tersebut.
Kita Tidak Harus Selalu Suka dengan Penampilan Sendiri
Mungkin kita nggak perlu memaksa diri untuk selalu merasa cantik atau tampan.
Ada hari ketika kita merasa penampilan kita bagus. Ada juga hari ketika kita melihat foto sendiri dan langsung merasa, “Duh, jelek banget.”
Itu bisa saja terjadi.
Yang penting, rasa tidak suka terhadap satu bagian tubuh tidak harus berubah menjadi kebencian terhadap diri sendiri.
Kita juga tidak harus menunggu sampai punya bentuk tubuh tertentu untuk mulai merasa nyaman memakai pakaian yang disukai, pergi bersama teman, atau berfoto.
Karena kalau terus menunggu sampai merasa “cukup”, bisa-bisa kita malah terlalu sibuk memperbaiki diri dan lupa menjalani hidup.
Mungkin yang Perlu Diubah Bukan Tubuhnya
Kita mungkin akan selalu menemukan sesuatu yang ingin diperbaiki dari diri sendiri.
Setelah merasa pipi sudah cukup tirus, mungkin kita mulai memperhatikan bagian tubuh lain. Setelah merasa berat badan sudah sesuai, standar yang kita gunakan bisa berubah lagi.
Kalau terus mengikuti pola tersebut, kapan kita merasa cukup?
Mungkin bukan berarti kita tidak boleh punya keinginan untuk mengubah penampilan. Merawat tubuh dan ingin merasa lebih nyaman dengan diri sendiri tentu bukan hal yang salah.
Tapi ada baiknya kita juga bertanya sebelum terlalu keras pada diri sendiri:
“Ini benar-benar masalah, atau gue cuma terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain?”
Karena bisa jadi, tubuh kita sebenarnya sudah baik-baik saja.
Hanya saja, kita terlalu terbiasa mencari kekurangannya.
