Saat Hidup Terasa Hambar: Kenapa Banyak Anak Muda Mengalami “Lost Spark”?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aulia Talitha Irhab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kesibukan terus berjalan, tetapi rasa antusias dalam menjalani hari justru semakin berkurang.
Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi tetap terasa kosong. Kuliah masih berjalan, pekerjaan tetap dikerjakan, teman-teman masih bisa diajak bertemu, dan aktivitas sehari-hari tidak banyak berubah. Hanya saja, ada sesuatu yang terasa berbeda: tidak ada lagi rasa antusias seperti sebelumnya.
Istilah lost spark belakangan sering digunakan anak muda untuk menggambarkan perasaan tersebut. Sederhananya, lost spark adalah kondisi ketika seseorang merasa kehilangan semangat, ketertarikan, atau antusiasme terhadap kehidupan dan hal-hal yang sebelumnya membuat mereka senang.
Fenomena ini menarik karena tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang yang sedang kehilangan spark tetap bisa datang ke kampus, bekerja, bercanda dengan teman, dan mengunggah aktivitasnya di media sosial. Namun, di balik rutinitas tersebut, mereka mungkin sedang merasa lelah dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk kembali merasa bersemangat.
Ketika Hidup Dipenuhi Tuntutan
Salah satu alasan anak muda bisa kehilangan spark adalah tekanan yang datang dari berbagai arah. Ada tuntutan untuk menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, memiliki pencapaian, menjaga hubungan, sampai mempersiapkan masa depan.
Di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk mencoba banyak hal, sebagian anak muda justru merasa harus sudah mengetahui arah hidupnya.
Pertanyaan seperti “Setelah lulus mau jadi apa?”, “Kapan kerja?”, atau “Kapan punya pencapaian?” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika datang terus-menerus, pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa hidup adalah perlombaan yang harus segera dimenangkan.
Akibatnya, aktivitas yang dilakukan tidak lagi berdasarkan apa yang diinginkan, tetapi lebih banyak karena merasa harus.
Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri
Media sosial juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak muda saat ini. Dalam hitungan menit, kita bisa melihat teman yang baru mendapat pekerjaan, orang lain yang sedang liburan, seseorang yang berhasil membuka bisnis, atau teman sebaya yang sudah mencapai sesuatu yang selama ini kita inginkan.
Masalahnya, media sosial membuat proses membandingkan diri menjadi jauh lebih mudah.
Kita melihat hasil akhir kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan proses kehidupan sendiri. Dari sana muncul perasaan tertinggal, tidak cukup baik, atau merasa tidak melakukan apa-apa.
Padahal, apa yang muncul di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita tidak tahu berapa banyak kegagalan, tekanan, atau masalah yang tidak ikut dibagikan.
Kalau dilakukan terus-menerus, kebiasaan membandingkan diri bisa membuat pencapaian sendiri terasa tidak berarti.
Terlalu Lama Berada dalam Rutinitas
Penyebab lainnya bisa datang dari sesuatu yang sebenarnya terlihat sederhana: rutinitas.
Bangun, kuliah atau bekerja, mengerjakan tugas, pulang, membuka media sosial, tidur, lalu mengulang kembali semuanya keesokan hari. Rutinitas seperti ini memang menjadi bagian dari kehidupan, tetapi ketika hampir tidak ada ruang untuk melakukan sesuatu yang benar-benar disukai, hidup bisa terasa semakin monoton.
Pada titik tertentu, seseorang mungkin tidak benar-benar membenci rutinitasnya. Mereka hanya merasa tidak punya sesuatu yang dinantikan.
Di sinilah spark perlahan terasa hilang.
Tidak Perlu Langsung Menemukan Tujuan Hidup
Ketika menyadari sedang kehilangan semangat, respons pertama yang sering muncul justru keinginan untuk segera memperbaiki semuanya. Ingin menemukan passion, membuat target baru, menjadi lebih produktif, atau mengubah rutinitas secara besar-besaran.
Padahal, tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus.
Memulai kembali bisa dilakukan dari hal yang jauh lebih sederhana. Beristirahat dengan cukup, mengurangi waktu di media sosial, bertemu orang yang membuat nyaman, mencoba kegiatan yang sudah lama ditinggalkan, atau sekadar menyediakan waktu tanpa tuntutan produktivitas.
Tidak ada salahnya juga untuk mengevaluasi kembali rutinitas yang selama ini dijalani. Apakah semuanya memang masih sesuai dengan kebutuhan kita, atau ada hal-hal yang dilakukan hanya karena takut tertinggal dari orang lain?
Pertanyaan sederhana seperti itu terkadang membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Mencari Kembali Hal yang Membuat Kita Merasa Hidup
Menemukan kembali spark bukan berarti harus memiliki kehidupan yang selalu menyenangkan. Ada kalanya semangat datang dan pergi. Ada hari ketika kita produktif, tetapi ada juga hari ketika kita hanya ingin beristirahat.
Yang penting adalah memberi diri sendiri kesempatan untuk menjalani proses tersebut tanpa terus merasa bersalah.
Jika perasaan kehilangan minat, energi, atau semangat berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional juga merupakan pilihan yang wajar. Meminta bantuan bukan berarti gagal menghadapi kehidupan.
Pada akhirnya, mungkin spark dalam hidup bukan sesuatu yang benar-benar hilang. Bisa jadi, kita hanya terlalu sibuk memenuhi tuntutan sampai lupa memperhatikan diri sendiri.
Jadi, daripada terus bertanya kapan kita bisa kembali seperti dulu, mungkin pertanyaannya bisa diubah menjadi: apa yang sebenarnya kita butuhkan sekarang?
Sebab, hidup bukan perlombaan untuk terus merasa bahagia dan produktif. Ada kalanya kita hanya perlu berhenti sebentar, mengambil napas, dan memberi diri sendiri ruang untuk menemukan kembali alasan sederhana untuk menikmati shidup.
