Diplomat Amatir di Kongres Berlin

Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran. Tertarik dengan isu-isu politik dan keamanan internasional, geopolitik, diplomasi, sejarah internasional dan regional, serta sastra.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keseimbangan politik Eropa telah bergeser sedemikian rupa dalam rentang waktu yang relatif singkat: 22 tahun. Di akhir Perang Krimea 1856, Prancis menjadi aktor dominan penyelesaian pasca-perang dengan Napoleon III dan Menteri Luar Negeri Walewski menjadi tuan rumah Kongres Paris. Peta politik Eropa telah berubah ketika Bismarck menginisiasi Kongres Berlin 1878: Prancis melemah, terisolasi, dan tak lagi menjadi aktor yang bisa mendominasi. Seorang diplomat amatir yang diangkat menjadi menteri luar negeri, ditugaskan untuk memimpin delegasi Prancis menuju kongres diplomatik yang dituanrumahi Sang Kanselir Besi. Diplomat amatir itu tiada lain adalah William Henry Waddington. Ia harus berhadapan dengan para raksasa diplomasi Eropa mulai dari Bismarck selaku tuan rumah, Lord Beaconsfield dan Salisbury, hingga negarawan Rusia seperti Gorchakov dan Shuvalov. Beban kepentingan dan reputasi Prancis tersampir di pundak Waddington.
Menteri Luar Negeri
Di penghujung tahun 1877, Perdana Menteri Jules Armand Dufaure membentuk pemerintahan baru di Prancis. Salah satu kebingungan besar Dufaure dalam menyusun kabinetnya adalah pertanyaan mengenai jabatan menteri luar negeri - salah satu jabatan paling krusial di kabinet - harus ia serahkan kepada siapa. Pilihan itu kemudian jatuh kepada seorang republikan moderat dengan keyakinan Protestan: William Henry Waddington.
Banyak skeptisisme atas dipilihnya Waddington sebagai menteri luar negeri. Bahkan keraguan dan skeptisisme itu juga dirasakan langsung oleh Presiden Patrice de MacMahon. Presiden MacMahon mengutarakan keraguannya kepada Dufaure dengan menyebut Waddington “lebih banyak belajar sejarah kuno daripada sejarah modern.” Waddington memang memiliki keahlian yang mumpuni dalam sejarah Asia Minor, Kreta, dan Siprus. Namun pertimbangan mendasar Dufaure dalam memilih Waddington selain karena sikap ilmiahnya, adalah juga karena agamanya serta citranya sebagai seorang republikan moderat.
Sebagai seorang simpatisan Adolphe Thiers, Waddington memiliki antipati terhadap radikalisme Bonapartis. Ia juga memiliki latar belakang yang cukup kosmopolitan dimana dirinya memiliki darah keturunan Inggris dan pernah menempuh pendidikan di Cambridge. Intelektualitasnya juga tak bisa diragukan, terbukti dengan bergabungnya ia ke dalam salah satu organisasi ilmiah yang paling bergengsi, yakni Academy of Inscriptions and belles-letters. Jabatan kabinet yang pernah Waddington pegang adalah menteri pendidikan publik, dan kini ia ditugaskan menjadi pemimpin diplomasi Prancis dengan jabatan barunya sebagai menteri luar negeri.
Waddington memulai jabatannya tepat ketika gelombang krisis besar mengancam akan menyapu Eropa. Penyebabnya adalah masalah Timur (The Eastern Question) terutama Krisis Balkan yang memuncak dengan meletusnya Perang Rusia-Turki sejak April 1877. Perjanjian San Stefano yang mengakhiri perang Rusia-Turki, dengan salah satu klausulnya adalah memperluas Bulgaria, tidak disukai oleh Inggris. London meminta Paris untuk mendukung sikapnya. Namun Waddington menolak, dan meyakinkan Duta Besar Lord Lyons bahwa Prancis tidak akan bertindak apa pun dan “menginginkan status quo dipertahankan di Mediterania.”
Sebagai pemula dalam kebijakan luar negeri dan diplomasi, Waddington memperlihatkan “kegugupan dalam ranah politik luar negeri” sebagaimana ditulis Philip R. Marshall dalam artikelnya yang berjudul William Henry Waddington: The Making of a Diplomat. Kebuntuan dalam penyelesaian masalah Timur membuat Bismarck menginisiasi Kongres Berlin pada tahun 1878, dan Waddington harus menjadi pemimpin delegasi Prancis.
Semua kekuatan besar Eropa sepakat bertemu di Berlin. Pada April 1878 Menteri Luar Negeri Inggris Lord Salisbury, mengeluarkan pernyataan pra-Kongres yang menegaskan bahwa kekuatan mana pun dilarang mengubah ketentuan dalam Perjanjian Paris 1856 dan Perjanjian London 1871 tanpa terlebih dahulu melakukan perundingan. Sikap amatir Waddington salah satunya terlihat di sini, dengan begitu saja percaya bahwa pernyataan Salisbury adalah sikap moral yang akan menjadi dasar fundamental dari jalannya Kongres. Padahal, ironinya, Salisbury tidak melibatkan Waddington dalam diplomasi rahasianya.
Kongres Berlin dan Taruhan Kepentingan
Sebelum berangkat untuk memimpin delegasi ke Kongres Berlin, Waddington menyempatkan diri bertemu Léon Gambetta, salah satu negarawan paling berpengaruh di Republik Ketiga. Gambetta meyakinkan menteri luar negeri untuk menempuh “kebijakan tangan bersih” yang pada intinya tidak mengambil apapun dari pihak manapun. Saran dan sikap Gambetta merupakan pengejawantahan dari prinsip kebijakan luar negeri yang dipilih Republik Ketiga, yang cenderung berhati-hati dan pro status quo. Waddington membawa prinsip itu ketika berangkat menuju Berlin pada 9 Juni 1878.
Di Berlin, Waddington berusaha menjalin hubungan baik dengan Bismarck, dan ia mendapatkannya. Bismarck bahkan menawarkan presidensi Kongres kepada Waddington. Kongres Berlin pun dibuka pada 13 Juni 1878. Selama proses Kongres, Waddington cenderung menghindari pergaulan diplomatik para tokoh besar Eropa yang hadir, seperti tentu saja Bismarck, Disraeli, dan Gorchakov, serta tokoh besar lainnya. Ia lebih memilih mengunjungi saudara iparnya yang tinggal di Berlin. Ini menjadi contoh lain dari diplomasi Waddington yang amatir, karena sebagaimana kata Disraeli: “Dalam sebuah Kongres, ketidakhadiran dari pertemuan manusia yang berpengaruh adalah kesalahan fatal.”
Pada akhir Juni, Waddington mengeluh kepada Dufaure tentang betapa sulitnya mempertahankan netralitas Prancis dalam isu-isu rumit dari masalah Bulgaria. Di Kongres diputuskan bahwa Inggris akan memperoleh Siprus, dan Prancis ditawari Tunis. Atas desakan Disraeli, Salisbury, dan Bismarck, Waddington menerima Tunis untuk Prancis. Namun keputusan ini dikritik dengan keras di Paris, salah satunya kritik yang dilontarkan Menteri Keuangan Léon Say yang menyebut Waddington “kehilangan akal.” Waddington tidak punya pilihan, ia membatalkan klaimnya atas Tunis kemudian menandatangani hasil Kongres dan segera kembali ke negaranya.
Setelah kembali ke Paris, pendapat para pemimpin justru berubah dan meminta Waddington mengambil langkah-langkah untuk bisa memperoleh kembali Tunis. Kebijakan ini didukung langsung oleh Presiden MacMahon dan Léon Gambetta. Waddington segera melakukan korespondensi dengan Duta Besar Harcourt yang ada di London untuk mendapatkan Tunis. Ia juga melobi Duta Besar Lord Lyons agar bisa mempengaruhi atasannya di London. Ia juga tidak ragu menyinggung kemungkinan perang jika “tidak ada keseimbangan yang adil antara Inggris dan Prancis.”
Upaya diplomasi Waddington membuahkan hasil setelah Lord Salisbury mengeluarkan persetujuannya dengan menulis, “lakukan apa yang Anda anggap tepat di Tunis.” Walaupun tidak memiliki pengalaman diplomatik sebelumnya, dan menjadi diplomat amatir di Kongres Berlin, Waddington berhasil belajar banyak tentang taktik dan strategi diplomasi untuk menjaga kepentingan negara yang diwakilinya. Kesuksesan diplomasinya membuat Waddington dipercaya untuk melanjutkan karir diplomatik sebagai duta besar Prancis di London hingga 1893, satu tahun sebelum kematiannya.
