Dua Raksasa Diplomasi: Lord Castlereagh dan George Canning

Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki abad ke-19, Eropa masih dibayang-bayangi awan mendung peperangan. Napoleon Bonaparte mengukuhkan diri menjadi Kaisar Prancis di hadapan Paus Pius VII, dan dua tahun kemudian, pada 1806, negarawan Inggris Raya yang brilian, William Pitt the Younger meninggal dunia. Gagasan Pitt tentang perdamaian dengan merestorasi tatanan keseimbangan Eropa mulai meredup. Ketidakpastian masih membayang, seiring petualangan Napoleon yang masih jauh dari usai. Namun dua orang Pittites -pengikut Pitt- keduanya anggota parlemen, akan memainkan peran signifikan di penghujung Perang Napoleon dan membentuk ulang tatanan politik Eropa melalui kemahiran diplomasinya. Inilah dua raksasa diplomasi Inggris Raya: Lord Castlereagh dan George Canning. Dua nama yang akan selalu tertulis dalam sejarah, walaupun tidak selalu dengan tinta emas.
Perang dan Damai
Tahun 1806 menandai meninggalnya dua orang negarawan hebat Inggris Raya, William Pitt dan Charles James Fox. Dua tokoh besar yang telah lama menjadi rival, tetapi memainkan peranan signifikan dalam politik Inggris Raya. William Pitt meninggal dunia setelah lebih dari dua dekade menjabat sebagai perdana menteri yang mewakili Tory, jabatan terlama setelah Robert Walpole. Sedangkan Fox adalah menteri luar negeri yang memiliki jabatan panjang di pemerintahan Whig, mulai dari Rockingham, Portland, hingga Grenville. Kedua tokoh penting itu mangkat di tengah perang yang masih berkecamuk di Eropa.
Pada Maret 1807, William Henry Cavendish yang lebih populer disebut Duke of Portland, membentuk kabinet setelah berakhirnya kabinet Lord Grenville. Beberapa tokoh penting dalam pemerintahan Portland adalah Spencer Perceval, yang kemudian akan menjadi suksesornya, Lord Liverpool, dan dua orang tokoh yang akan menjadi rival dan penentu diplomasi Inggris Raya dua dekade kedepan, yakni George Canning sebagai menteri luar negeri, dan Lord Castlereagh sebagai menteri perang.
Lord Castlereagh yang nama sesungguhnya adalah Robert Stewart, lahir di Irlandia pada tahun 1769. Kurang lebih setahun kemudian, pada 1770, George Canning dilahirkan di London. Canning lebih dulu menjadi anggota parlemen pada 1793, disusul Castlereagh pada 1795. Saat itu, Eropa sedang terbakar oleh bara peperangan. Ramalan William Pitt di House of Commons pada 17 Februari 1792, tentang harapan 15 tahun perdamaian di Eropa, musnah tak tersisa. Sebagaimana dituliskan Alexander Mikaberidze dalam bukunya The Napoleonic Wars: A Global History, ramalan Pitt meleset sama sekali, karena bukannya 15 tahun perdamaian, melainkan 25 tahun peperangan.
Semua bermula dari Revolusi 1789. Prancis mengalami peristiwa besar, saat estates ketiga yang merupakan kelas paling bawah dalam hierarki kelas di Prancis, melancarkan revolusi untuk menggugat dominasi kelas aristokrat dan gereja. Gelombang perubahan melanda Prancis, yang membuat rezim monarki Louis XVI terguncang. Arunika zaman baru sedang menyingsing menampakkan sinarnya, sedangkan rezim lama (ancient regime) sedang redup dalam dekapan kegelapan menuju ketiadaan. Revolusi ini awalnya dipandang sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi para rival Prancis di Eropa, karena dengan adanya ketidakstabilan domestik, entitas Prancis sebagai ancaman akan berkurang. Namun keadaan berubah saat beberapa rezim konservatif berbalik memandang Prancis revolusioner sebagai entitas yang berbahaya. Pada 1791, Leopold II dari Austria dan Frederick William II menyepakati Deklarasi Pillnitz yang mengecam revolusi dan menuntut pemulihan monarki. Deklarasi ini bernada provokatif, sehingga membuat Prancis gusar. Maka pada April 1792 -dua bulan setelah pidato William Pitt- Prancis mendeklarasikan perang. Dimulailah perang besar di Eropa.
Prancis beberapa kali menorehkan kemenangan yang mengesankan, terlebih dengan munculnya seorang tokoh dari Korsika bernama Napoleon Bonaparte. Napoleon dengan yakin berujar: saya dipanggil untuk mengubah dunia. Perang di Eropa menjadi berlarut-larut bahkan melibatkan front darat dan laut. Ambisi kekaisaran Napoleon masih belum padam saat Canning dan Castlereagh turut serta dalam kabinet Portland. Pada 15 Juni 1807, sebagaimana tertuang dalam buku Douglas Hurd yang berjudul Choose Your Weapons, dalam pidato kebijakan luar negerinya Canning mengatakan bahwa setiap bangsa yang menentang kekuatan Prancis adalah sekutu. Canning juga melancarkan kebijakan pengiriman armada ke Denmark yang yang mengakibatkan pertempuran Kopenhagen. Ini bermula dari kekhawatairan Canning atas hasil pertemuan Napoleon dan Tsar Alexander I di Tilsit, yang menurut rumor akan menghasilkan Liga Maritim antara Denmark, Swedia, dan Spanyol, untuk melawan Inggris. Kebijakan Canning di Denmark banyak dikritik, bahkan oleh Raja George III disebut tidak bermoral. Namun Canning menyampaikan pidato pembelaan, yang dipuji oleh Lord Palmerston sebagai pidato yang cerdas dan fasih.
Pada 1809 terjadi pertentangan antara Canning dan Castlereagh karena perbedaan pendapat mengenai strategi militer. Pertentangan ini berpuncak menjadi duel pistol yang terjadi pada 21 September 1809 di Putney Heath, London. Rivalitas keduanya cukup lama bertahan, dan semakin meruncing sejak Castlereagh menjadi menteri luar negeri pada Februari 1812. Castlereagh sempat menawarkan kompromi dengan menawarkan Canning jabatan Menlu dan dirinya menjadi menteri keuangan, namun ditolak Canning. Karena jabatannya ini, Castlereagh akan memainkan peranan signifikan untuk membentuk ulang Eropa pasca-Napoleon. Castlereagh berangkat ke Wina pada Agustus 1814 untuk menghadiri pertemuan diplomatik paling bersejarah di Eropa abad ke-19.
Castlereagh berusaha untuk menghadirkan perdamaian, sembari berusaha mempertahankan keseimbangan kekuatan. Perdamaian memang dambaan, karena setiap orang memang lelah berperang. Bahkan Perdana Menteri Lord Liverpool mengutip perkataan Cicero, Iniquissimam Pacem justissimo Bello antafero (perdamaian yang paling tidak adil lebih baik daripada perang yang dibenarkan sekalipun). Namun Castlereagh berusaha membuat perdamaian seadil mungkin. Ia bersama Metternich membentuk kembali Eropa yang ditopang dengan tiang-tiang keseimbangan (balance of power).
Pasca 1815
Perbedaan antara Canning dan Castlereagh kembali menguat saat terjadi perbedaan pandangan mengenai penyelesaian konflik dan pembentukan tatanan politik Eropa pasca-Napoleon. Canning mengambil posisi lebih idealis dengan keyakinannya pada demokrasi dan liberalisme, yang membuat sikapnya berseberangan dengan para pemimpin konservatif Eropa seperti Metternich dan Tsar. Sedangkan Castlereagh, alih-alih idealis, ia lebih bersikap realis untuk mencapai perdamaian yang dapat diterima oleh semua pihak. Sebagaimana dikatakan Henry Kissinger, Castlereagh berhasil mewujudkan rencana Pitt tentang perdamaian Eropa dengan dasar kesimbangan kekuatan. Namun para tokoh di kabinet, bahkan Perdana Menteri Lord Liverpool sendiri, serta Menteri Perang Lord Bathurst menentang kebijakan Castlereagh yang bergabung dengan aliansi konservatif Metternich dan Tsar.
Pendekatan realis yang ditempuh Castlereagh membuat dirinya dijuluki sebagai seorang reaksioner konservatif yang menentang perubahan dan ide-ide progresif. Namun betapapun banyaknya kritik yang muncul terhadap kebijakan Castlereagh, harus diakui bahwa dirinya menjadi tokoh yang berperan signifikan untuk menghadirkan perdamaian di Eropa dan menciptakan Sistem Kongres yang akan bertahan hingga pecahnya Perang Dunia I seratus tahun kemudian. Ironinya, diplomat brilian Inggris Raya ini meninggal dengan cara tragis, dimana dirinya memotong urat lehernya sendiri. Lord Castlereagh bunuh diri pada 12 Agustus 1822.
Sepeninggal Castlereagh, Canning kembali menjabat sebagai menteri luar negeri. Canning menempuh kebijakan yang sama sekali berbeda dengan Castlereagh. Idealismenya membuat dirinya tidak disukai oleh kekuatan konservatif Eropa yang tergabung dalam Aliansi Suci (Holy Alliance), bahkan Metternich ingin Canning dicopot dari jabatannya. Ini bisa dipahami, karena beberapa kebijakan Canning dianggap sebagai ancaman atas stabilitas politik, terutama bagi para kekuatan konservatif. Canning juga berusaha menjalin aliansi Anglo-Amerika, dengan melakukan pendekatan kepada Presiden Monroe dan Menlu John Quincy Adams, untuk mencegah intervensi kekuatan Eropa di belahan bumi barat. Sayangnya mimpi Canning tidak terwujud, namun justru mendorong lahirnya satu deklarasi paling bersejarah dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yakni Doktrin Monroe.
Canning juga berhasil membuat kesepakatan tentang urusan Timur dengan Tsar Nicholas I yang menjadi penguasa setelah kematian Tsar Alexander I. Canning juga melakukan intervensi di Portugal saat terjadi perang saudara antara Isabella dan Maria yang liberal melawan Miguel yang konservatif, dan pada Januari 1827 kaum Miguelist kalah. Pada tahun yang sama, Lord Liverpool mengalami serangan stroke. Lantas pada April 1827, Canning menjadi perdana menteri dan membentuk kabinet. Sayangnya ia menjabat tidak lama, hanya 119 hari, karena pada 8 Agustus 1827 Canning meninggal dunia. Lord Palmerston yang akan meneruskan langkah Canning sebagai menteri luar negeri yang brilian di Inggris Raya, menyebut kematian idolanya sebagai: kerugian bukan hanya bagi partai, tapi untuk bangsa-bangsa, bukan hanya untuk teman, tetapi untuk umat manusia.
Dua tokoh raksasa diplomasi Inggris Raya abad ke-19 ini memberikan beberapa pelajaran berharga dalam diplomasi. Pertama, motivasi diplomasi tidak akan jauh dari dorongan realis yang didasarkan sepenuhnya pada kepentingan nasional seperti Castlereagh, atau dorongan idealis yang mengakomodir nilai-nilai ideal dalam politik dunia seperti demokrasi dan kebebasan sebagaimana yang diperjuangan Canning. Kedua, pendekatan Castlereagh dan Canning akan kental mewarnai kebijakan luar negeri Inggris Raya jauh setelah redupnya generasi mereka, dimana ambisi kekaisarannya akan menghadapkan London pada pilihan kebijakan yang tidak selalu tegas antara realisme politik dan cita-cita ideal. Nama Castlereagh dan Canning akan selalu tertulis dalam sejarah, walaupun tidak selalu dengan tinta emas.
