Desa Punya Potensi, Tapi Mengapa Anak Mudanya Memilih Pergi?

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Katanya desa punya masa depan. Katanya potensi desa luar biasa. Tapi kalau memang masa depannya menjanjikan, kenapa anak mudanya ramai-ramai mencari masa depan di kota, bahkan sampai ke negeri orang?
Pertanyaan ini mungkin terdengar menyudutkan. Namun, fenomena anak muda meninggalkan desa sebenarnya bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Setelah menyelesaikan pendidikan, sebagian memilih mencari pekerjaan di kota. Sebagian lainnya bahkan mencoba peruntungan ke luar negeri karena melihat peluang penghasilan yang lebih besar.
Padahal, desa bukan tempat yang kekurangan potensi. Ada sawah, perkebunan, peternakan, perikanan, UMKM, wisata alam, hingga berbagai produk lokal yang bisa dikembangkan. Tetapi, keberadaan potensi tersebut belum tentu membuat anak muda yakin bahwa mereka bisa membangun kehidupan yang mereka inginkan jika tetap tinggal di desa.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat mereka memilih pergi?
Mungkin persoalannya bukan karena mereka tidak mencintai desa. Bisa jadi, mereka hanya belum menemukan cukup banyak alasan untuk bertahan.
Mencari Penghidupan yang Lebih Baik
Keputusan untuk merantau sering kali dilihat sebagai tanda bahwa anak muda sudah tidak tertarik dengan kehidupan di desa. Mereka dianggap terlalu mengejar kehidupan kota atau tidak mau meneruskan pekerjaan yang sudah dilakukan keluarganya sejak lama.
Padahal, alasan seseorang meninggalkan desa bisa jauh lebih sederhana: ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tidak semua anak muda memiliki minat dan kemampuan yang sama. Ada yang ingin menjadi petani, tetapi ada juga yang tertarik pada administrasi, teknologi, desain, pemasaran, bisnis, dan berbagai bidang lainnya. Masalahnya, lapangan pekerjaan untuk kemampuan tersebut belum tentu tersedia di daerah tempat mereka tinggal.
Ketika pilihan pekerjaan terbatas, sementara kebutuhan hidup terus bertambah, merantau menjadi salah satu jalan yang dianggap masuk akal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2026 jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia mencapai 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen, sedangkan rata-rata upah buruh mencapai Rp3,29 juta per bulan. BPS juga mencatat sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai lapangan usaha dengan jumlah pekerja terbesar, yaitu 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk bekerja.
Data tersebut menunjukkan bahwa sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar. Namun, besarnya jumlah pekerja di sektor tersebut tidak otomatis membuat pertanian atau pekerjaan pedesaan menjadi pilihan utama bagi seluruh anak muda.
Bagi generasi muda, pekerjaan bukan hanya soal memiliki penghasilan. Ada pula pertimbangan mengenai kestabilan, kesempatan berkembang, jenjang karier, dan kemampuan untuk mencapai kehidupan yang mereka inginkan.
Ketika peluang tersebut dirasa lebih mudah ditemukan di kota, keputusan untuk pergi pun semakin sulit dianggap aneh.
Kota Menawarkan Lebih Banyak Pilihan
Kota tentu bukan tempat yang selalu nyaman. Biaya hidup lebih tinggi, persaingan pekerjaan lebih ketat, dan hidup jauh dari keluarga juga memiliki tantangan tersendiri.
Namun, kota menawarkan sesuatu yang penting bagi anak muda: pilihan.
Mereka bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian, mengikuti pelatihan, melanjutkan pendidikan, membangun jaringan, atau mencoba usaha baru. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tersedia di desa, tetapi belum tentu sebanyak yang dapat ditemukan di kota.
Perkembangan internet dan media sosial juga membuat pandangan anak muda terhadap masa depan semakin luas. Mereka dapat melihat orang-orang seusianya bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi kreator, atau mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.
Tanpa disadari, hal tersebut ikut mengubah cara mereka memandang kesuksesan.
Merantau tidak lagi selalu berarti pergi karena tidak ada pekerjaan. Bagi sebagian anak muda, merantau adalah cara untuk mencari pengalaman, memperluas jaringan, meningkatkan penghasilan, sekaligus mencoba kehidupan yang berbeda.
Karena itu, menyalahkan anak muda karena memilih pergi tidak akan menyelesaikan persoalan.
Ketika Kota Tidak Lagi Menjadi Tujuan Akhir
Bagi sebagian orang, merantau ke kota besar di Indonesia bahkan belum menjadi tujuan akhir. Mereka melihat kesempatan bekerja di luar negeri sebagai pilihan lain untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Dalam konteks ini, perempuan juga memiliki peran besar. Istilah TKW masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi istilah resmi yang digunakan pemerintah adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mencatat bahwa sepanjang 2025 terdapat 296.948 PMI yang ditempatkan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa bekerja ke luar negeri telah menjadi bagian dari pilihan ekonomi masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian keluarga, penghasilan dari pekerjaan di luar negeri dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan, memperbaiki rumah, atau menjadi modal usaha ketika kembali ke Indonesia.
Namun, keputusan tersebut juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Keinginan mendapatkan penghasilan lebih besar harus diikuti dengan pengetahuan mengenai prosedur keberangkatan, keterampilan kerja, dan perlindungan hukum. Tanpa itu, pekerja migran dapat menghadapi berbagai risiko, terutama ketika berangkat melalui jalur nonprosedural.
Artinya, tingginya minat untuk bekerja di luar negeri juga menunjukkan bahwa masyarakat sedang mencari peluang ekonomi yang mungkin belum mereka temukan di daerah asal.
Potensi Desa Tidak Otomatis Menjadi Peluang
Di sinilah persoalan desa sebenarnya berada.
Kita sering mengatakan bahwa desa memiliki potensi besar. Ada pertanian, wisata, UMKM, sumber daya alam, dan berbagai produk lokal yang bisa dikembangkan.
Namun, potensi tidak otomatis menjadi peluang.
Sawah yang luas tidak serta-merta membuat anak muda tertarik menjadi petani apabila penghasilannya dianggap belum sebanding dengan risiko dan kebutuhan hidup. Wisata alam juga tidak otomatis menciptakan lapangan pekerjaan jika tidak didukung pengelolaan, promosi, akses, dan sumber daya manusia yang memadai.
Begitu pula dengan UMKM. Produk lokal yang bagus akan sulit berkembang jika pelaku usahanya tidak memiliki akses terhadap modal, teknologi, pemasaran, dan pasar yang lebih luas.
Karena itu, desa tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Desa juga membutuhkan ekosistem ekonomi yang mampu memberikan ruang bagi anak muda.
Anak muda yang memahami pemasaran digital dapat membantu UMKM menjangkau konsumen di luar daerah. Mereka yang memiliki kemampuan teknologi dapat membantu usaha lokal melakukan digitalisasi. Sementara mereka yang memiliki kemampuan kreatif dapat mengembangkan promosi wisata maupun produk lokal.
Potensinya sebenarnya ada. Anak mudanya juga ada.
Yang sering kali belum tersedia adalah ruang untuk mempertemukan keduanya.
Jika Anak Muda Terus Pergi, Siapa yang Akan Membangun Desa?
Merantau sebenarnya bukan sesuatu yang harus dianggap buruk.
Banyak orang meninggalkan desa karena ingin membantu keluarganya. Ada yang bekerja beberapa tahun, menabung, memperoleh pengalaman, lalu kembali membawa modal dan keterampilan baru.
Persoalannya muncul ketika pergi menjadi satu-satunya pilihan yang dianggap masuk akal untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Data BPS menunjukkan bahwa pada September 2025 tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan mencapai 10,72 persen, sementara di wilayah perkotaan berada di angka 6,60 persen. Meskipun angka kemiskinan perdesaan mengalami penurunan dibandingkan Maret 2025, kesenjangan antara wilayah perdesaan dan perkotaan masih terlihat.
Data tersebut tentu tidak berarti bahwa semua anak muda desa merantau karena kemiskinan. Alasan setiap orang berbeda. Ada yang mengejar pendidikan, karier, pengalaman, maupun keinginan untuk hidup mandiri.
Namun, kondisi ekonomi tetap menjadi salah satu hal yang memengaruhi keputusan seseorang ketika menentukan tempat untuk bekerja.
Di sisi lain, desa membutuhkan anak muda untuk melakukan regenerasi. Mereka dapat membawa gagasan baru, teknologi, pengetahuan, dan cara kerja yang berbeda.
Jika semakin banyak anak muda pergi tanpa ada yang kembali, desa bukan hanya kehilangan penduduk usia produktif. Desa juga berpotensi kehilangan generasi yang seharusnya menjadi bagian penting dari proses perubahan.
Jangan Hanya Meminta Anak Muda untuk Pulang
Karena itu, solusi dari persoalan ini bukan sekadar meminta anak muda untuk pulang.
Anak muda tidak bisa dipaksa tinggal hanya karena mereka lahir di desa. Mereka juga tidak harus dipaksa menjadi petani atau meneruskan pekerjaan keluarga jika memang memiliki minat dan kemampuan di bidang lain.
Yang perlu diberikan adalah pilihan.
Pertanian dapat dikembangkan bukan hanya pada proses produksi, tetapi juga pengolahan dan pemasaran. Hasil pertanian bisa memiliki nilai tambah sebelum dijual kepada konsumen.
Wisata desa dapat dikembangkan dengan melibatkan anak muda dalam pengelolaan, promosi, dan ekonomi kreatif. Begitu pula dengan UMKM yang dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar.
Dengan begitu, anak muda tidak hanya menjadi orang yang pergi untuk mencari pekerjaan. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menciptakan pekerjaan di daerahnya sendiri.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan merantau.
Anak muda yang pergi bukan berarti tidak mencintai desa. Bisa jadi mereka hanya sedang mencari sesuatu yang belum dapat mereka temukan di sana: pekerjaan yang layak, penghasilan yang cukup, kesempatan berkembang, dan masa depan yang mereka inginkan.
Karena itu, mungkin pertanyaannya tidak lagi sekadar, "Mengapa anak muda memilih pergi?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apa yang membuat mereka tidak melihat masa depan ketika memilih untuk tetap tinggal?"
Desa memang memiliki banyak potensi. Tetapi potensi tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang hanya dibanggakan.
Potensi harus diolah menjadi peluang. Peluang harus mampu menciptakan pekerjaan. Dan pekerjaan harus memberikan kehidupan yang layak.
Sebab pada akhirnya, anak muda tidak selalu membutuhkan alasan untuk pergi.
Mereka hanya membutuhkan alasan yang cukup kuat untuk memilih tinggal.
