Sendi-Sendi Kebesaran Jiwa

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebesaran jiwa (izzatun nafs atau kibarun nafs) dalam Islam adalah kemampuan mental dan spiritual untuk mempertahankan martabat, ketaatan, dan akhlak mulia di atas keinginan nafsu duniawi. Ini mencakup integritas, keberanian karena Allah SWT. dan kerendahan hati.
Berikut ini adalah sendi-sendi kebesaran jiwa menurut Islam dan dalilnya :
1. Tauhid (Mengesakan Allah SWT )
Sendi utama adalah keyakinan total bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa. Jiwa yang besar tidak akan tunduk, takut, atau mengharap kepada makhluk (manusia/dunia), melainkan hanya kepada Allah SWT.
Dalil: "Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh..." (QS. Luqman ayat 22).
Maknanya: Sungguh mengherankan jika seseorang mengingkari wujud dan keesaan-Nya, apalagi hal itu hanya didasarkan pada taklid buta. Ia tidak memiliki pegangan, berbeda halnya dengan orang yang berserah diri kepada Allah. Siapa saja yang berserah diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan, sedang dia orang yang berbuat kebaikan dengan menebarkan kebajikan kepada siapa pun dan di mana pun, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kukuh. Di akhirat ia akan memperoleh balasannya karena hanya kepada Allah kesudahan segala urusan untuk diputuskan dan dibalas dengan sangat adil.
2. Izzah (Kemuliaan Harga Diri)
Seorang Muslim harus menjaga kehormatan diri dengan tidak merendahkan diri untuk meminta-minta atau melakukan hal haram demi dunia.
Dalil: "...Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (QS. Al-Munafiqun ayat 8).
Izzah adalah kemuliaan harga diri dalam Islam, di mana seorang Muslim wajib menjaga kehormatan dengan menahan diri (iffah) dari meminta-minta, perbuatan haram, dan kehinaan demi duniawi. Prinsip ini ditegakkan dengan qana’ah (merasa cukup), bekerja halal, dan menjaga lisan serta kemaluan agar tetap mulia di hadapan Allah dan manusia.
3. Qana'ah (Merasa Cukup)
Jiwa yang besar merasa cukup dengan apa yang halal dan tidak diperbudak oleh ketamakan (penyakit al-wahn atau cinta dunia/takut mati).
Dalil: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, namun kekayaan itu adalah hati yang selalu merasa cukup (qana'ah)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Menegaskan bahwa kekayaan sejati dalam Islam bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada qana'ah (kekayaan hati/jiwa). Orang yang memiliki qana'ah merasa cukup dan rida dengan rezeki Allah, terhindar dari sifat tamak, dan hidup lebih tenang.
4. Sabar dan Menahan Marah
Mampu menahan emosi dan bersabar saat ditimpa musibah atau perlakuan buruk, bukan membalas dengan cara yang sama.
Dalil: "...Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali 'Imran ayat 134).
Maknanya : Mereka adalah orang yang terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan, dan orang-orang yang menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan akan sangat terpuji orang yang mampu berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat salah atau jahat kepadanya, karena Allah mencintai, melimpahkan rahmat-Nya tiada henti kepada orang yang berbuat kebaikan. Pesan-pesan yang mirip dengan kandungan ayat ini disampaikan pula melalui Surah an-Nahl/16: 126; asy-Syura ayat 40 dan 43.
5. Tawakkal dan Optimisme
Jiwa yang besar berserah diri kepada Allah SWT. atas hasil usaha, namun tidak putus asa dalam berikhtiar.
Dalil: "...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya." (QS. At-Talaq ayat 3).
Adapun maknanya : Dan Dia pun akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya dengan memberikan kebutuhan fisik maupun kebutuhan rohani. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah dalam segala urusan, niscaya Allah cukup sebagai tempat mengadu bagi diri-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya dengan penuh hikmah bagi manusia. Sungguh, Allah telah menjadikan segala sesuatu dengan kadarnya sehingga setiap orang tidak akan menghadapi masalah di luar batas kemampuannya.
6. Tawadhu' (Kerendahan Hati)
Meskipun mulia dan terpandang, jiwa yang besar tidak sombong karena menyadari semua kelebihan berasal dari Allah SWT.
Dalil: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati..." (QS. Al-Furqan ayat 63).
7. Ikhlas
Melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah, bukan karena pujian manusia.
Dalil: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama..." (QS. Al-Bayyinah ayat 5).
Dengan berpegang pada sendi-sendi ini, seorang Muslim akan memiliki jiwa yang kuat, tidak mudah goyah oleh ujian, dan tetap rendah hati dalam keberhasilan. Semoga kita semua khususnya para elite negeri ini bisa menerapkan sendi-sendi kebesaran jiwa.
