Pencarian populer

Hoax di Astronomi….?

Hoax sedang “tren” saat ini. Setidaknya kita bisa mengetahuinya dari berita yang berseliweran di linimasa media sosial. Beritanya memang tak jauh dari berita politik yang sedang hangat di negeri ini dan juga di dunia.

Apa sih hoax itu. Berdasarkan Cambridge dictionary, hoax adalah rencana untuk menipu seseorang. Caranya dengan menyebarkan berita yang memuat informasi yang salah. Inilah yang sedang terjadi akhir-akhir ini.

Hoax atau berita dengan informasi yang salah dibuat dan disebarkan sebagai berita yang benar dengan tujuan untuk mempengaruhi masyarakat. Tujuannya, tentu saja agar masyarakat meyakini berita tersebut sebagai suatu kebenaran. Di sinilah kita sebagai pembaca harus jeli dan mau sedikit berusaha untuk mencari tahu kebenarannya.

Salah satu faktor yang membuat berita ini cepat menyebar adalah judul yang “menarik dan bombastis” seakan sudah menggambarkan seluruh isi berita. Alhasil, dengan mudah para pembaca membagikan berita tersebut lewat tombol berbagi di media sosial. Hoax memang sudah ada sejak dulu. Tapi penyebarannya tidak secepat saat ini. Dulu media yang digunakan masih sangat terbatas.

Hoax & Astronomi

Hoax bukan cuma monopoli dunia politik, seperti yang marak saat ini. Hoax atau berita bohong atau berita rekaan juga ada dalam dunia sains termasuk astronomi. Informasi hoax di dunia astronomi sudah wara wiri di dunia nyata dan dunia maya jauh sebelum gawai pintar beredar luas dan internet ada dalam genggaman pengguna. Bahkan usia hoax astronomi yang beredar jauh lebih tua dibanding usia hoax politik yang baru tren beberapa tahun ini. Bahkan dari waktu ke waktu, para astronom maupun komunitas astronomi amatir yang ada di Indonesia ini selalu berhadapan dengan berita bohong dan miskonsepsi yang beredar luas.

Kalau kita bicara tentang hoax di astronomi. Yang perlu diingat, tidak seluruh isi berita itu salah. Ada informasi yang benar tapi ada deretan informasi rekaan lain yang ditambah untuk memenuhi keinginan pembuat berita.

Sedikit kisah tentang peredaran hoax astronomi, bisa kita mulai di kisaran tahun 2001, saat Fox TV merilis acara tentang Teori Konspirasi Pendaratan di Bulan. Idenya, ada konspirasi besar yang menutupi “kenyataan” bahwa pendaratan di Bulan tidak pernah terjadi. Hasilnya banyak yang percaya dengan Moon Hoax dan mulai mempertanyakan kerja NASA. Dan tampaknya NASA memang akan selalu jadi “pelaku konspirasi”. Para astronom, termasuk NASA memberikan jawaban terkait seluruh pertanyaan tentang bukti pendaratan di Bulan. Pendaratan di Bulan bukan hanya sekali. Tercatat ada 6 kali pendaratan di Bulan dan 12 astronaut yang menjejakkan kaki di Bulan.

Pada tahun 2003, kisah Oposisi Mars berakhir dengan cerita hoax yang masih terus berulang sampai hari ini. Kala itu, Mars berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 55.758.006 km, dan oposisi terjadi tgl 28 Agustus.

Berita ini benar.

Yang tidak tepat adalah isu tambahan yang beredar bersama berita tersebut. Dikatakan bahwa karena jaraknya sangat dekat dengan Bumi, maka Mars akan tampak sebesar Bulan Purnama. Atau dengan kata lain akan tampak “dua buah bulan” di langit malam.

Kenyataannya? Mars memang dekat tapi tetap saja ia akan tampak sebagai titik terang merah di langit malam. Tidak lebih.

Isu yang beredar di tahun 2003 lewat mailing list, email, dan sms ini menyebabkan masyarakat berbondong-bondong datang ke Observatorium Bosscha, ITB, dan Planetarium Jakarta untuk melihat fenomena yang katanya “langka” tersebut. Saat itu saya ada di ITB dan itu adalah antrian terpanjang yang pernah saya lihat. Antusiasme warga untuk melihat Mars sebesar Bulan Purnama di malam itu tidak terlupakan sekaligus menjadi catatan penting untuk bisa memberi informasi yang benar. Catatan dari Mars hoax tahun 2003, Planetarium Jakarta kebanjiran pengunjung yang berujung terjadinya kerusakan teleskop dan hilangnya viewfinder. Ini semua karena antusiasme warga yang tinggi. Imbas lainnya, masyarakat jadi tertarik juga untuk menyaksikan Transit Venus pada tahun 2004.

Rupanya, isu Mars Hoax tidak berhenti sampai di sini. Mars hoax jadi isu tahunan yang muncul setiap bulan Agustus. Kalau dulu lewat mailing list, email, dan forum, maka tahun 2016, cerita Mars Hoax justru beredar lewat media sosial dan aplikasi pesan instan seperti Whatsapp yang memang populer di Indonesia. Hasilnya, banyak orang yang bertanya dan berusaha mencari tahu dimana bisa melihat fenomena “dua Bulan Purnama di langit malam” yang lagi-lagi dikatakan langka.

Tahun 2006, ada sebuah buku yang beredar. Buku ini berbicara tentang bukti bahwa Matahari itu bergerak mengelilingi Bumi. Kisah ini merupakan sebuah miskonsepsi yang kemudian terus berkembang dan dipercaya sebagian orang. Tahun 2007, langitselatan memberi penjelasan terkait heliosentris vs geosentris. Tapi rupanya miskonsepsi ini masih tetap hidup dan jadi pertanyaan sebagian pembaca kami. Bahkan ada yang datang dengan berbagai teori cocoklogi untuk membenarkan asumsinya.

Kisah hoax lain yang pernah hadir dan menjadi tren adalah hoax kiamat tahun 2012. Dari tahun 2009 ketika film 2012 diluncurkan sampai tahun 2012, berbagai kisah hoax tentang kiamat beredar. Bahkan keingintahuan pembaca yang datang di langitselatan di tahun 2009 dan 2012 luar biasa tinggi. Semuanya mencari informasi dengan kata kunci, kiamat 2012, planet nibiru, maupun kesejajaran planet-planet di Tata Surya. Ada juga kisah tentang Betelguese yang akan meledak dan ledakannya akan sampai ke Bumi di tahun 2012. 

Kenyataannya? Lagi-lagi itu hanya hoax.

Hoax lainnya, Matahari yang jadi lebih panas saat Bumi di perihelion (atau titik terdekat dengan Bumi).  Beda jarak saat Bumi di titik terdekat dan terjauh Matahari itu cuma 5 juta km dari 150 juta km. Apa bedanya? Tidak ada! 

Atau tentang alam semesta berbentuk trompet malaikat. Jika ditilik dalam berita yang tersebar dan gambar yang menyertainya, jelas sekali kisah ini merupakan hoax. Bentuk alam semesta yang kita ketahui bukan terompet. Tampaknya yang dimaksud oleh berita tersebut adalah model evolusi alam semesta sejak terbentuk sampai saat ini. Dan itu bukan bentuk alam semesta. 

Lagi-lagi banyak yang percaya dengan kisah ini. Akibatnya, banyak yang bertanya dan mencari tahu apakah benar alam semesta berbentuk terompet.  Tahun 2014 - 2015, Gerhana Bulan Tetrad dan gerhana Matahari di tahun 2015 jadi sumber hoax. Dikatakan peristiwa tersebut merupakan akhir dunia karena bertepatan dengan hari raya bangsa Yahudi. Linimasa saya cukup ramai dengan isu ini. Dan lonjakan pengunjung di situs kami di langitselatan juga menjadi catatan tersendiri setelah di tahun 2012, masyarakat beramai-ramai mencari berita kapan kiamat terjadi.

Cerita lainnya, tahun 2016 beredar isu bahwa tanggal 2 Januari 2016, gravitasi Bumi akan melemah dan jika kita melompat tinggi, kita akan melayang.  

Masih cukup banyak cerita dengan informasi yang salah yang beredar yang sepertinya tidak akan ada habisnya untuk ditulis.  Yang sedang tren saat ini, kisah Bumi Datar.  Saya tidak akan menyebutnya teori karena Bumi datar bukanlah teori.  Hipotesa bahwa Bumi datar memang ada di masa peradaban kuno c. 3500 – 500 SM. Tapi sejarah mencatat sejak abad ke-6 SM, Phytagoras, Anaxagoras, Aristoteles, maupun Eratosthenes bisa menyimpulkan kalau Bumi bulat dari hasil pengamatan benda-benda langit seperti bintang, planet dan Matahari. Maka, hipotesa bahwa Bumi datar pun gugur.

Sekarang, pandangan ini tiba-tiba jadi tren di Indonesia dan cukup banyak dipercaya oleh masyarakat. Baik kalangan siswa, mahasiswa dan masyarakat umum.  Isu yang diangkat lagi-lagi tentang konspirasi global dengan NASA sebagai tersangka utama. Ide bahwa masyarakat ditipu ditambah bukti cocoklogi membuat publik dengan mudah percaya. Penyebarannya cukup masif lewat media sosial dan aplikasi pesan instan. Dampaknya, selain memperoleh pengikut, diskusi di dunia maya memperlihatkan munculnya ketidakpercayaan pada hasil sains yang sudah ada. Itulah sekilas hoax di astronomi, atau setidaknya yang terkenal dan berulang di astronomi. 

Hoax, cara instan membangun awareness astronomi

Saat berurusan dengan hoax di astronomi, kita berhadapan dengan publik yang mudah sekali percaya isi berita, yang kemudian disebarkan tanpa melakukan cek dan ricek.  Setidaknya itu yang saya alami selama bekerja sebagai astronom komunikator selama lebih dari satu dekade.

Berita hoax dengan mudah dibagikan oleh masyarakat karena cerita yang ada di dalamnya sesuai dengan apa yang ingin diyakini. Apalagi jika sebagian hoax yang disebar dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat. Ide tentang terbuktinya sains yang sesuai kepercayaan maupun hubungan suatu peristiwa alam dan bencana selalu jadi berita yang laku dijual.  Kiamat dan peristiwa langka selalu jadi kunci untuk membuat hoax astronomi jadi viral. 

Imbas dari penyebaran hoax, ada peningkatan instan dari masyarakat yang mencari tahu peristiwa yang ada di berita. “Kapan bisa diamati? Apa yang akan terjadi pada kehidupan jika peristiwa yang ada di berita terjadi? Bagaimana manusia menghadapinya?” Itu bagian yang selalu dicari.  Yang dicari bukan aspek kebenaran saintifiknya.

Sementara itu, untuk beberapa isu yang salah seperti Matahari mengelilingi Bumi, Bumi diam tidak berotasi maupun Bumi datar, kami bertemu dengan masyarakat yang tidak mampu memahami dasar-dasar sains. Dan ini yang membuat masyarakat dengan mudah percaya tanpa bertanya. Padahal sebagai penerima informasi, kita seharusnya cerdas untuk mengkaji apakah informasi yang diterima memang sahih atau tidak.

Seperti dua sisi mata uang, di satu sisi hoax merusak cara berpikir kritis masyarakat. Di sisi lain, hoax menimbulkan rasa ingin tahu instan yang membawa publik bertanya-tanya dan mencari tahu. Topik astronomi jadi ramai dibicarakan dan diliput berbagai media. Dilematis karena ada saja yang beranggapan isu seperti ini tidak perlu ditanggapi. Sementara kehadiran isu seperti ini juga bisa jadi kesempatan baik untuk memperkenalkan astronomi.  Dilematis karena sepertinya kita memberi kesempatan pada hoax untuk dikenal luas. Tapi bagaimanapun, ini bagian dari tanggung jawab para astronom untuk ikut mendidik masyarakat.

Dengan kata lain, para ilmuwan terkait harus turun dari menara gading.  Komunikasi sains untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat sangat dibutuhkan. Bagaimanapun, ini tanggung jawab para ilmuwan dan sains komunikator. Informasi yang disebarkan harus benar sejak awal.  Tantangannya, setiap astronom harus mampu mengkomunikasikan ilmu maupun penelitiannya kepada masyarakat awam, agar dapat meminimalisir kesalahan informasi di masyarakat.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: