Konten dari Pengguna

FOMO Bikin Boros? Saat Takut Ketinggalan Tren Jadi Kebiasaan Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Awalll Nurraaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gen Z. Foto: Fit Ztudio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z. Foto: Fit Ztudio/Shutterstock

Media sosial telah mengubah cara kita melihat dunia. Setiap hari, linimasa dipenuhi unggahan teman yang sedang nongkrong di kafe viral, membeli barang terbaru, datang ke konser, hingga mencoba makanan yang sedang ramai dibicarakan. Tanpa disadari, banyak orang ikut melakukan hal yang sama karena takut dianggap ketinggalan. Fenomena ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO.

Bagi sebagian besar Gen Z, FOMO sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rasanya tidak enak ketika teman-teman sudah mencoba tren terbaru sementara kita belum. Akibatnya, muncul keinginan untuk ikut membeli, datang, atau mencoba sesuatu, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Fenomena ini semakin kuat karena adanya media sosial. Algoritma terus menampilkan konten yang sedang viral, mulai dari rekomendasi tempat nongkrong, outfit, gadget, hingga promo belanja. Ditambah lagi dengan adanya diskon tanggal kembar seperti 7.7, 8.8, atau 11.11 yang sering membuat orang merasa harus segera membeli sebelum kehabisan kesempatan.

Masalahnya, mengikuti tren terus-menerus bisa berdampak pada kondisi keuangan. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya menghabiskan uang hanya demi pengalaman sesaat atau sekadar bisa mengunggah foto di media sosial. Bahkan, ada yang rela menggunakan layanan pay later agar tetap bisa mengikuti tren yang sedang populer.

Padahal, tidak semua tren harus diikuti. Setiap orang memiliki kondisi keuangan, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda. Menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada memaksakan diri demi validasi dari orang lain.

Bukan berarti mengikuti tren itu salah. Mencoba hal baru tentu boleh dilakukan selama sesuai dengan kemampuan dan tidak mengganggu kondisi finansial. Sebelum membeli atau ikut tren, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku benar-benar membutuhkannya, atau hanya takut ketinggalan?”

Pada akhirnya, media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan. Daripada sibuk mengejar semua tren yang datang silih berganti, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar membawa manfaat dan kebahagiaan. Karena tidak mengikuti tren bukan berarti kita tertinggal, melainkan sedang memilih apa yang memang sesuai dengan diri kita.