Konten dari Pengguna

Ketakutan Gen-z Untuk Menikah Beserta Solusi

Muhammad Anwar Mulyaman

Muhammad Anwar Mulyaman

Mahasiswa UIN Jakarta 2021

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Anwar Mulyaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muhammad Anwar Mulyaman, By: doc pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Anwar Mulyaman, By: doc pribadi

Pada akhir tahun 2024, publik di gegerkan dengan artikel yang menyatakan bahwa sebagian besar gen-z tidak ingin menikah. Dalam artikel tersebut mengungkapkan alasan terkait ketidak inginan gen-z untuk menikah, beberapa diantaranya karena pernikahan menjadi beban, tidak bebas dalam melakukan aktivitas dan takut berujung pada perceraian. Ketakutan tersebut adalah sebuah hal yang wajar dan sebagai tanda bahwa kita benar-benar mempersiapkan agar memiliki kesiapan dalam menghadapi ketakutan tersebut.

Ketakutan pada manusia didasari pada dua hal, yaitu ketidaktahuan dan benar-benar tahu. Jika ketakutan didasarkan pada ketidaktahuan kita tidak punya langkah-langkah untuk menghadapi ketakutan tersebut, hanya berpasrah dan menunggu apa yang akan menghantam kita tanpa mengetahui besar kecilnya hantaman tersebut. Akan tetapi, jika ketakutan itu didsarkan karena pengetahuan kita, kita dapat meminimaisir besar kecilnya hantaman karena mengetahui sebab dan akibat dari sebuah tindakan keputusan yang kita ambil, dan tetntu memiliki langkah-langkah yang banyak dalam menghadapinya.

Ketakutan yang dirasakan oleh gen-z adalah ketakutan karena ketidaktahuan mereka dalam pernikahan, yang mereka tahu hanya sebatas beban tanggung jawab yang berat tanpa mengetahui adanya konsep keseimbangan dalam hak dan kewajiban suami-istri dalam menjalani rumah tangga. Poin pokok dalam menghadapi ketakutan ini, gen-z harus memiiki kesiapan secara mental dan materil, dalam Islam nikah bukanlah sebuah kewajiban kecuali orang yang memiliki dua kesiapan diatas ditambah jika memiliki syahwat yang besar dan khawatir akan zina.

Muhammad Anwar Mulyaman, By: doc pribadi

Solusi Untuk Gen-z Yang Pengen Menikah:

Jika gen-z yang memiliki kriteria diatas dan dikenakan kewajiban menikah, tidak perlu khawatir untuk melakukan pernikahan tersebut. Islam hadir sebagai pemberi solusi terbaik bagi kalian yang pengen menikah. Diantaranya, yaitu:

  1. Konsep kafaah/kesetaraan antar pasangan, biasa disebut sekufu. Dalam Islam yang pertama ditekankan sebelum menikah adalah kesetaraan antar pasangan, baik dari segi pendidikan, ekonomi, background keluarga, agama, fisik dan pekerjaan. Akan tetapi yang paling ditekankan dari kesetaraan tersebut adalah agama, konsep ini hadir untuk meminimalisir pertikaian dan cekcok dalam berkeluarga nanti. Karena dalam Islam hanya ada konsep ta'aruf (perkenalan) yang melalui perantara pihak ketiga, dalam keadaan tersebut disarankan mencari banyak kesamaan.

  2. Melakukan Pra Pernikahan di KUA/Perjanjian nikah, konsep ini hadir untuk menghindari konflik di masa depan, terutama jika terjadi perceraian atau salah satu pihak meninggal dunia. Selain itu, tujuan seseorang membuat perjanjian pra nikah adalah untuk menentukan pembagian aset yang dimiliki sebelum dan setelah menikah. Perjanjian pranikah mencakup beberapa elemen kunci yang berkaitan dengan hak dan kewajiban masing-masing pihak selama perkawinan, serta pengaturan terkait harta dan keuangan, diantaranya: Pembagian harta benda, kewajiban dan tanggung jawab keuangan, pengaturan hak asuh anak, pewarisan dan ketentuan lainnya yang menjadi kekhawatiran masing-masing pasangan yang tidak bertentangan dengan syariat.

  3. Mengetahui konsep keseimbangan hak dan kewajiban, masing-masing pasangan dianjurkan untuk saling memenuhi tugas dan tanggung jawabnya yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228 وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌࣖ ۝٢ "Mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan atas mereka. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."