Dari Perpustakaan ke Kafe: Ketika Mahasiswa Membayar untuk 'Vibes' Produktif

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas GadjahMada
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Imanuel Axellino Anandito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pukul 2 dini hari, sebuah kafe di kawasan kampus masih ramai dengan mahasiswa yang bergelut dengan laptop dan tumpukan buku. Beberapa tampak serius menatap layar, sebagian lagi sudah tertidur dengan kepala di atas meja, secangkir kopi yang sudah dingin di sampingnya. Ini bukan pemandangan langka, terutama saat musim Ujian Tengah Semester (UTS) tiba. Kafe-kafe yang buka 24 jam menjadi "basecamp" favorit mahasiswa untuk begadang belajar, bahkan tidak jarang ada yang sampai pagi masih bertahan di sana.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Mengapa mahasiswa memilih menghabiskan uang puluhan ribu rupiah untuk secangkir kopi dan duduk berjam-jam di kafe, bahkan sampai tidur di sana, alih-alih belajar dengan gratis dan nyaman di kamar kos atau kontrakan mereka sendiri? Apa yang sebenarnya membuat kafe begitu istimewa sebagai tempat belajar?
Jawabannya ternyata lebih kompleks dari sekadar "suka kopi" atau "Wi-Fi gratis". Ada dimensi psikologis, sosial, dan ekonomi yang saling berkelindan di balik keputusan sederhana ini. Mari kita telusuri lebih dalam mengapa kafe menjadi ruang belajar alternatif yang begitu diminati mahasiswa, khususnya saat deadline mengancam.
Ketika Kamar Menjadi Musuh Produktivitas
"Kalau belajar di kamar, ujung-ujungnya rebahan sambil main HP," keluh Ceceng, mahasiswa semester 3 di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Pengakuan ini mungkin sangat relatable bagi banyak mahasiswa. Kamar, yang seharusnya menjadi zona nyaman untuk belajar, justru sering berubah menjadi zona distraksi. Kasur yang empuk mengundang untuk tidur, HP yang terus berdering notifikasi, atau Netflix yang menggoda di layar laptop. Semua faktor ini membuat fokus belajar di kamar terasa seperti perjuangan melawan godaan yang tak ada habisnya.
Berbeda dengan kamar, kafe menawarkan sesuatu yang paradoks, kenyamanan tanpa terlalu nyaman. Di kafe, mahasiswa bisa duduk di kursi yang cukup nyaman untuk berjam-jam, tapi tidak senyaman kasur yang membuat kantuk. Mereka bisa rileks, tapi tidak rileks berlebihan. Ada musik latar yang tidak terlalu keras, suhu ruangan yang sejuk tapi tidak membuat ngantuk, dan yang paling penting tidak ada kasur yang menggoda untuk rebahan.
"Di kafe itu rasanya lebih 'terpaksa' fokus," ujar Fadhil, mahasiswa yang sering begadang di kafe menjelang UTS. "Udah bayar kopi mahal, masa iya cuma buat scrolling TikTok? Rasanya rugi banget." Ini adalah bentuk komitmen psikologis yang dibeli dengan uang. Karl Polanyi, sosiolog ekonomi, pernah mengatakan bahwa aktivitas ekonomi tidak pernah terpisah dari konteks sosial dan psikologisnya. Dalam hal ini, membayar kopi bukan hanya transaksi ekonomi sederhana, tapi juga investasi untuk "memaksa" diri sendiri produktif.
Budaya Begadang Bersama: Sendirian tapi Tidak Kesepian
Salah satu alasan utama mengapa mahasiswa lebih memilih belajar di kafe adalah faktor sosial. Meski masing-masing sibuk dengan laptopnya sendiri, kehadiran mahasiswa lain yang juga sedang belajar menciptakan atmosfer kolektif yang sulit dijelaskan. Ada semacam solidaritas diam-diam di antara mereka, "Kita semua sedang berjuang menghadapi UTS."
"Belajar sendirian di kamar itu sepi dan bikin down," kata Andika, mahasiswa yang rutin belajar di kafe bersama teman-temannya. "Kalau di kafe, meskipun gak ngobrol, tapi ada teman di sebelah yang juga lagi struggle. Rasanya lebih semangat." Fenomena ini dalam sosiologi disebut sebagai "co-presence", kehadiran bersama yang menciptakan energi kolektif meski tanpa interaksi verbal intensif.
Kafe juga menjadi ruang di mana mahasiswa bisa fleksibel, belajar serius selama sejam, lalu ngobrol santai 15 menit untuk refresh otak, kemudian kembali fokus lagi. Pola belajar yang "intermittent" ini sulit dilakukan sendirian di kamar. Di kafe, ada teman yang bisa diajak diskusi saat stuck di soal tertentu, atau sekadar diajak ngobrol receh untuk menghilangkan jenuh. Bahkan bagi yang datang sendirian, kehadiran mahasiswa lain yang juga belajar memberikan tekanan sosial positif untuk tetap produktif. Tidak enak rasanya kalau semua orang fokus belajar, sementara kita malah nonton YouTube.
Tidur di Kafe: Ekstrem tapi Masuk Akal?
Fenomena mahasiswa yang tidur di kafe mungkin terdengar ekstrem, tapi jika ditelusuri lebih dalam, ada logika tersendiri di baliknya. Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus atau yang memang sudah terbiasa begadang hingga subuh, tidur sebentar di kafe lebih praktis daripada pulang ke kos. "Daripada pulang jam 3 pagi terus harus bangun lagi jam 6 buat kuliah, mending tidur sebentar di kafe," ungkap Fadhil, mahasiswa yang pernah beberapa kali tertidur di kafe saat marathon belajar untuk ujian.
Bagi sebagian mahasiswa, kafe 24 jam bahkan berfungsi seperti "perpustakaan informal" yang lebih fleksibel. Mereka bisa datang kapan saja, tidak ada aturan ketat tentang harus diam, dan yang terpenting bisa pesan makanan atau minuman kapan saja saat lapar atau butuh asupan kafein tambahan. Perpustakaan kampus, meski gratis, memiliki jam operasional terbatas dan aturan yang lebih ketat. Kafe menawarkan kebebasan yang perpustakaan tidak bisa berikan.
Namun, tentu ada sisi negatifnya. Tidur di kafe berarti kualitas tidur yang buruk, posisi tidur yang tidak ergonomis, dan risiko barang-barang hilang jika tertidur terlalu pulas. Belum lagi biaya yang terus membengkak karena harus terus pesan minuman agar tidak dianggap "numpang tempat". Tapi bagi mahasiswa yang sedang dikejar deadline, semua itu dianggap sebagai "biaya perjuangan" yang harus dibayar.
Membeli Atmosfer, Bukan Hanya Kopi
Richard Thaler, ekonom peraih Nobel yang dikenal dengan teorinya tentang ekonomi perilaku, menjelaskan bahwa manusia sering kali tidak bertindak rasional dalam konteks ekonomi klasik. Keputusan untuk belajar di kafe, jika dihitung secara ekonomi murni, sebenarnya tidak efisien. Biaya kopi Rp 35.000 ditambah makanan ringan bisa mencapai Rp 50.000-80.000 per malam. Jika dilakukan 5-6 kali selama periode UTS, total pengeluaran bisa mencapai Rp 300.000-500.000. Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membeli buku referensi atau membayar biaya kuliah.
Tapi mahasiswa tidak melihatnya seperti itu. Yang mereka beli bukan hanya kopi, melainkan "paket lengkap" atmosfer yang kondusif, tekanan sosial positif untuk produktif, akses Wi-Fi stabil, colokan listrik unlimited, dan yang paling penting perasaan "ini tempat untuk produktif, bukan untuk santai". Dalam terminologi ekonomi, ini disebut "bundling", membeli satu produk tapi mendapatkan banyak nilai tambahan lainnya.
Kafe juga menawarkan fleksibilitas waktu yang tidak dimiliki perpustakaan. Mahasiswa bisa datang jam 9 malam dan pulang jam 5 pagi tanpa ada yang melarang. Mereka bisa mendengarkan musik lewat earphone, makan sambil belajar, bahkan video call dengan teman untuk belajar bersama secara daring. Semua hal ini tidak bisa dilakukan di perpustakaan yang punya aturan ketat.
Identitas Sosial: "Saya Mahasiswa yang Serius (dan Punya Gaya)"
Ada satu dimensi lagi yang sering tidak disadari, belajar di kafe juga merupakan cara mahasiswa mengkomunikasikan identitasnya. Thorstein Veblen, sosiolog abad ke-19, pernah memperkenalkan konsep "conspicuous consumption", konsumsi yang ditujukan untuk menunjukkan status sosial. Meski konteksnya berbeda, prinsipnya masih relevan.
Mahasiswa yang memfoto secangkir kopi specialty dengan laptop dan buku catatan di atas meja, lalu mengunggahnya ke Instagram Story dengan caption "UTS survival mode" atau "Night shift", sebenarnya sedang melakukan signaling, menunjukkan kepada lingkaran pertemanannya bahwa mereka adalah mahasiswa yang serius, produktif, tapi tetap punya selera dan gaya. Belajar di kafe yang aesthetic, apalagi kafe yang sedang hits, memberikan nilai tambah secara sosial.
Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai "cultural capital", selera dan gaya hidup yang berfungsi sebagai penanda kelas sosial. Mahasiswa yang memilih belajar di kafe indie dengan interior minimalis dan menu single origin coffee, berbeda image-nya dengan mahasiswa yang belajar di warung kopi pinggir jalan atau di perpustakaan kampus. Ini bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal bagaimana pilihan tempat belajar menjadi bagian dari konstruksi identitas sosial.
Kafe sebagai Bisnis: Memanfaatkan Kebutuhan Mahasiswa
Dari sisi bisnis, fenomena ini tentu menguntungkan bagi pemilik kafe. Banyak kafe kini secara sadar menargetkan segmen mahasiswa. Mereka menyediakan colokan listrik di setiap sudut, Wi-Fi dengan kecepatan tinggi, meja yang cukup luas untuk laptop dan buku, serta jam operasional yang panjang atau bahkan 24 jam. Beberapa kafe bahkan menawarkan paket khusus untuk mahasiswa, diskon untuk pembelian kedua, free refill untuk minuman tertentu, atau harga spesial untuk paket "study night".
Strategi ini efektif karena mahasiswa adalah konsumen yang "tahan lama". Mereka bisa duduk 4-6 jam atau bahkan lebih, dan meski hanya pesan 1-2 kali, akumulasi dari banyak mahasiswa yang datang setiap hari tetap memberikan profit yang signifikan. Selain itu, kehadiran mahasiswa menciptakan atmosfer "kafe yang hidup dan produktif", yang justru menarik lebih banyak mahasiswa lainnya. Ini adalah siklus positif bagi bisnis.
Namun, ada juga tantangan. Beberapa kafe memberlakukan "minimum order" atau batas waktu maksimal duduk untuk mencegah mahasiswa yang hanya pesan satu kopi lalu duduk seharian. Ada juga kafe yang membedakan zona, area untuk "hang out" dan area khusus untuk "study and work" dengan aturan lebih ketat. Ini adalah negosiasi antara kepentingan bisnis dan kebutuhan konsumen.
Penutup
Fenomena mahasiswa belajar di kafe hingga begadang, bahkan sampai tidur di sana, adalah cerminan dari perubahan budaya belajar dan gaya hidup mahasiswa kontemporer. Kafe bukan hanya tempat minum kopi, tapi telah bertransformasi menjadi ruang produktif alternatif yang menawarkan lebih dari sekadar minuman, atmosfer kondusif, solidaritas kolektif, fleksibilitas waktu, dan kenyamanan tanpa distraksi berlebihan.
Keputusan untuk belajar di kafe, meski terlihat sederhana, sebenarnya melibatkan perhitungan psikologis (menghindari distraksi kamar), sosial (kehadiran teman dan solidaritas kolektif), ekonomi (membeli komitmen dengan uang), dan identitas (menunjukkan citra produktif dan bergaya). Ini menunjukkan bahwa tindakan ekonomi manusia tidak pernah murni rasional, tapi selalu terikat pada konteks sosial, budaya, dan psikologis yang lebih luas.
Yang perlu direnungkan adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa dan masyarakat bisa menciptakan ruang belajar alternatif yang lebih inklusif dan sehat? Apakah kampus perlu membuka perpustakaan atau ruang belajar bersama yang beroperasi 24 jam? Apakah perlu ada kafe kampus dengan harga terjangkau khusus untuk mahasiswa? Atau apakah kita perlu belajar mengelola produktivitas dengan lebih baik sehingga tidak perlu bergantung pada "membeli atmosfer produktif" di kafe?
Yang jelas, fenomena ini akan terus berlanjut selama ada deadline, UTS, dan mahasiswa yang berjuang. Dan selama itu pula, kafe akan tetap menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa di tengah malam, dengan secangkir kopi yang perlahan dingin, dan mata yang berjuang tetap terbuka.
Referensi
Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge: Harvard University Press.
Granovetter, Mark. 1985. "Economic Action and Social Structure: The Problem of Embeddedness". American Journal of Sociology, Vol. 91, No. 3, hlm. 481-510.
Polanyi, Karl. 1944. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Boston: Beacon Press.
Thaler, Richard H. 2015. Misbehaving: The Making of Behavioral Economics. New York: W. W. Norton & Company.
Veblen, Thorstein. 1899. The Theory of the Leisure Class: An Economic Study of Institutions. New York: Macmillan.
