Konten dari Pengguna

Punya Rekening Belum Tentu Paham Keuangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayesha Shafiqa Nuzayh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakub Żerdzicki melalui Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Jakub Żerdzicki melalui Unsplash

Saat ini, membuka rekening bank dan menggunakan layanan keuangan digital sudah menjadi hal yang biasa. Banyak orang bisa melakukan transfer, membayar belanja melalui QRIS, hingga memeriksa saldo hanya lewat ponsel. Namun, apakah kemudahan tersebut berarti mereka sudah benar-benar memahami cara mengelola keuangan?

Memiliki rekening bank merupakan salah satu bentuk akses terhadap layanan keuangan. Akan tetapi, memahami cara menggunakan uang dengan bijak merupakan hal yang berbeda. Seseorang mungkin terbiasa melakukan transaksi setiap hari, tetapi belum tentu memiliki anggaran bulanan, dana darurat, atau pemahaman yang cukup sebelum mengambil keputusan keuangan.

Persoalan ini menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang mulai belajar mengatur uang secara mandiri.

Akses Keuangan Semakin Luas

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan telah meluas, tetapi tingkat pemahaman keuangan masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Literasi keuangan sendiri mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku yang memengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan produk dan layanan keuangan.

Bagi pelajar dan mahasiswa, tantangan ini juga perlu mendapat perhatian. Dalam survei yang sama, indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat sebesar 62,72 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 92,76 persen.

Angka tersebut bukan berarti semua pelajar dan mahasiswa memiliki pemahaman keuangan yang rendah. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa edukasi keuangan tetap diperlukan agar akses terhadap layanan keuangan dapat diikuti kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Menggunakan Uang Tidak Sama dengan Mengelola Uang

Salah satu contoh sederhana dapat dilihat dari kebiasaan mengatur uang bulanan. Seseorang bisa saja memiliki rekening dan rutin menerima uang saku, tetapi tidak mengetahui berapa banyak uang yang digunakan untuk kebutuhan utama dan berapa banyak yang habis untuk keinginan pribadi.

Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali juga sering kali luput dari perhatian. Membeli makanan melalui aplikasi, memesan minuman, atau berbelanja karena diskon mungkin tidak terasa berat jika dilakukan sekali. Namun, jika tidak dikendalikan, pengeluaran tersebut dapat memengaruhi kondisi keuangan pada akhir bulan.

Selain itu, kemudahan transaksi digital membuat pembayaran terasa lebih praktis. Kondisi ini bukan sesuatu yang buruk, tetapi pengguna tetap perlu mengetahui jumlah uang yang dikeluarkan dan mempertimbangkan kemampuan keuangannya.

Karena itu, memahami keuangan tidak cukup hanya dengan mengetahui cara transfer atau menggunakan aplikasi perbankan. Seseorang juga perlu memahami prioritas kebutuhan, risiko, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.

Mengatur Keuangan Bisa Dimulai dari Hal Kecil

Meningkatkan pemahaman keuangan tidak harus dimulai dengan mempelajari investasi yang rumit. Langkah pertama justru dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari.

Membuat anggaran bulanan merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan. Uang yang dimiliki dapat dibagi berdasarkan kebutuhan utama, pengeluaran pribadi, tabungan, dan dana cadangan sesuai kemampuan masing-masing.

Selain itu, mencatat pengeluaran dapat membantu seseorang mengetahui ke mana uangnya digunakan. Catatan tersebut tidak harus dibuat menggunakan aplikasi khusus. Buku tulis atau spreadsheet sederhana juga dapat digunakan.

Kebiasaan membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Sebelum membeli sesuatu, seseorang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut memang diperlukan, apakah pembeliannya dapat ditunda, dan apakah uang yang tersedia masih cukup untuk kebutuhan lainnya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah mencari informasi dari sumber tepercaya sebelum menggunakan produk keuangan. Setiap layanan memiliki ketentuan, biaya, dan risiko yang perlu dipahami. Dengan demikian, keputusan keuangan tidak hanya didasarkan pada tren atau ajakan orang lain.

Pentingnya Edukasi Keuangan bagi Generasi Muda

Pendidikan keuangan sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai pengetahuan tambahan, tetapi juga sebagai keterampilan hidup. Kemampuan mengelola uang dapat membantu generasi muda menghadapi berbagai kebutuhan, mulai dari membiayai pendidikan hingga mempersiapkan masa depan.

Kampus, keluarga, lembaga keuangan, dan pemerintah dapat berperan dalam meningkatkan pemahaman tersebut. Edukasi tidak harus selalu berbentuk seminar formal. Pembiasaan membuat anggaran, diskusi mengenai pengeluaran, dan penjelasan sederhana tentang risiko produk keuangan juga dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Pada akhirnya, memiliki rekening bank memang memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi. Namun, kemampuan mengelola uang membutuhkan pemahaman dan kebiasaan yang dibangun secara bertahap.

Masyarakat tidak hanya perlu memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga perlu mengetahui cara memanfaatkannya secara tepat. Sebab, keuangan yang sehat bukan semata-mata tentang berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan juga bagaimana uang tersebut digunakan dan direncanakan.

Daftar Referensi

Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Badan Pusat Statistik. (2026, 11 Agustus). Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat: Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026.

Badan Pusat Statistik. (2026, 12 Agustus). SNLIK 2026: Akses Keuangan Meningkat, Literasi Terus Diperkuat.