Konten dari Pengguna

Mengenal Scarcity Trauma dan Apa Pengaruhnya terhadap Kehidupan ?

Sesilia Ayu Febriani

Sesilia Ayu Febriani

Lulusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang dan Sarjana Tersesat di Persimpangan Karir.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sesilia Ayu Febriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal Scarcity Trauma dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan. Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-melihat-laut-sambil-duduk-di-pantai-247314/
zoom-in-whitePerbesar
Mengenal Scarcity Trauma dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan. Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-melihat-laut-sambil-duduk-di-pantai-247314/

Scarcity trauma adalah kondisi psikologis yang muncul karena pengalaman hidup dalam kekurangan di masa lalu. Kondisi ini membuat seseorang merasa cemas dan khawatir kekurangan meskipun keadaan finansialnya sudah membaik.

Trauma ini juga dikenal dengan istilah scarcity mindset. Orang dengan kondisi ini merasa terjebak dalam pola pikir kelangkaan dan terus-menerus takut kehilangan apa yang dimiliki.

Jordan Bierbrauer, terapis dari Thriveworks, menjelaskan bahwa orang dengan scarcity mindset tidak memberikan kelonggaran untuk diri sendiri. Mereka berpikir segala sesuatu yang dibutuhkan untuk masa depan menjadi langka dan terbatas.

Penyebab Scarcity Trauma

Pengalaman Kemiskinan di Masa Lalu

Orang yang pernah hidup dalam kemiskinan lebih rentan mengalami scarcity mindset. Kemiskinan membawa rasa tidak aman karena kurangnya akses terhadap sumber daya seperti uang, waktu, dan energi. Kondisi ini menyebabkan perasaan kekurangan, putus asa, dan ketakutan yang berkepanjangan.

Anak yang tumbuh dalam keluarga kesulitan ekonomi sering membawa pengalaman tersebut hingga dewasa. Mereka terbiasa berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar atau tidak bisa menikmati hal-hal yang dianggap normal oleh anak-anak lain. Pengalaman ini membentuk pola pikir kelangkaan yang berlanjut di masa dewasa.

Kurangnya Literasi Keuangan

Penyebab utama scarcity trauma adalah minimnya pengetahuan tentang literasi keuangan. Orang yang tidak memiliki informasi memadai tentang cara kerja uang dan membuat keputusan keuangan bijak lebih mudah terjebak dalam pola pikir kekurangan.

Trauma Keuangan

Trauma keuangan bisa berasal dari berbagai sumber seperti kehilangan pekerjaan, tagihan medis tak terduga, atau kesulitan keuangan. Pengalaman ini membuat seseorang fokus pada kebutuhan mendesat dan merasa sumber daya yang dimiliki sangat terbatas.

Orang yang pernah mengalami trauma keuangan menjadi terpaku pada penghematan uang. Mereka bahkan menghindari pengeluaran untuk barang atau kegiatan yang diperlukan karena takut uang tidak akan cukup.

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua

Jika orang tua atau pengasuh memiliki scarcity mindset karena kesulitan keuangan, mereka lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan finansial dan kurang pada hal lain. Pola pikir ini dapat diturunkan kepada anak-anak mereka.

Tekanan Sosial dan Lingkungan Kompetitif

Lingkungan yang sangat kompetitif dapat memperburuk perasaan scarcity trauma. Tekanan untuk terus mengejar standar kesuksesan orang lain membuat seseorang merasa tidak cukup dan menimbulkan kecemasan.

Media sosial juga memperkuat kondisi ini dengan memunculkan ilusi bahwa orang lain selalu memiliki lebih banyak. Perasaan ini menumbuhkan trauma dan rasa tidak aman dalam hidup.

Diet yang Terlalu Ketat

Diet terkadang dapat mengarah pada pola pikir kelangkaan dan berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Seseorang mungkin fokus pada makanan yang dibatasi bukan pada makanan yang diperbolehkan. Hal ini dapat mengarah pada scarcity mindset karena orang tersebut merasa terus-menerus kehilangan makanan yang disukai.

Ciri-ciri Scarcity Trauma

Mengenal Scarcity Trauma dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan. Foto oleh Keenan Constance: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-duduk-di-papan-kayu-2865901/

Takut Kehilangan

Orang dengan scarcity mindset sering memiliki rasa takut kehilangan apa yang mereka miliki, baik uang, sumber daya, hubungan, atau peluang. Ketakutan ini menyebabkan kurangnya kepercayaan pada orang lain dan keengganan mengambil risiko untuk mencapai kesuksesan.

Terlalu Bergantung pada Diri Sendiri

Individu dengan mentalitas kelangkaan sering terlalu mengandalkan diri sendiri. Mereka percaya hanya bisa bergantung pada diri sendiri untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan perasaan kesepian dan terisolasi.

Orang dengan scarcity mindset sering menunggu untuk membayar tagihan hingga menit terakhir karena takut kehabisan uang. Mereka memiliki keyakinan umum bahwa tidak ada cukup uang untuk dibelanjakan. Jika membelanjakan uang sekarang, mereka takut tidak akan memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan nanti.

Hoarding atau Menimbun Barang

Orang dengan scarcity trauma akan memegang erat barang yang mereka punyai. Mereka takut membuang benda yang rusak atau tidak bisa dipakai karena dulu tidak bisa membeli benda tersebut.

Penimbunan secara berlebihan ini membuat rumah menjadi sesak, kotor, dan tidak layak ditempati. Mereka menyimpan pakaian yang sudah tidak muat, wadah plastik bekas, atau bahkan makanan basi karena merasa sayang untuk dibuang.

Tergesa-gesa Mengambil Keputusan

Mentalitas scarcity menyebabkan seseorang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan implikasi jangka panjang dari pilihan mereka. Impulsif dapat mencegah mereka memanfaatkan peluang sebaik mungkin.

Perfeksionisme

Mereka yang memiliki scarcity mindset sering perfeksionis dan percaya bahwa apa pun yang kurang sempurna tidak cukup baik. Hal ini menyebabkan penundaan dan rasa takut mengambil risiko serta ketidakmampuan untuk melihat gambaran yang lebih besar.

Takut Gagal

Mereka terlalu khawatir akan kegagalan karena percaya bahwa jika gagal, mereka tidak akan memiliki sumber daya yang cukup untuk mencoba lagi. Hal ini menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya karena mereka mengambil tindakan yang merugikan diri sendiri seperti tidak lagi berusaha karena takut gagal.

Fokus pada Kekurangan

Orang dengan scarcity trauma cenderung fokus pada apa yang tidak dimiliki dan mengabaikan apa yang sudah ada. Pikiran menjadi sempit dan hanya bisa melihat masalah bukan solusi. Mereka sering mengulang kalimat seperti "tidak cukup waktu" atau "tidak akan bisa".

Sikap Kompetitif Negatif

Scarcity mindset menciptakan sikap kompetitif negatif dalam hubungan sosial. Seseorang menjadi waspada pada keberhasilan orang lain dan sulit untuk berbagi, bekerja sama, atau merayakan kesuksesan bersama. Mereka melihat dunia seperti kue yang jumlahnya terbatas.

Dampak Scarcity Trauma

Dampak Psikologis

Secara psikologis, scarcity mindset meningkatkan stres dan dapat menimbulkan kecemasan kronis. Ketika otak terus-menerus dihantui ketakutan kekurangan, sistem saraf berada dalam mode waspada terus-menerus. Akibatnya seseorang merasa lelah, tegang, dan rentan terhadap depresi atau gangguan kecemasan.

Pola pikir ini mendorong keputusan reaktif. Saat sangat fokus pada kekurangan, seseorang cenderung mengambil keputusan terburu-buru dan hanya berpikir jangka pendek. Mereka juga gagal melihat peluang investasi atau pengembangan diri karena terlalu fokus pada kebutuhan yang mendesak.

Dampak pada Hubungan Sosial

Scarcity mindset mengganggu relasi sosial karena menciptakan sikap kompetitif negatif. Seseorang menjadi waspada pada keberhasilan orang lain dan sulit untuk berbagi atau bekerja sama.

Hambatan Pengembangan Diri

Potensi diri menjadi terhambat. Individu dengan pola pikir scarcity merasa tidak punya cukup modal, waktu, atau kemampuan untuk berkembang. Mereka mudah menyerah dan tidak berani bermimpi besar. Mereka terperangkap dalam siklus pesimisme yang menumpulkan kreativitas serta semangat belajar.

Scarcity trauma adalah kondisi psikologis yang terbentuk dari pengalaman kekurangan di masa lalu. Meskipun dampaknya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi ini bukan kutukan seumur hidup.

Penting untuk diingat bahwa proses penyembuhan memerlukan waktu dan kesabaran. Namun dengan komitmen untuk berubah dan dukungan yang tepat, seseorang dapat keluar dari pola pikir kelangkaan dan menjalani hidup yang lebih bahagia dan sejahtera.