How to Train Your Dragon Live Action: Persahabatan dan Keberanian

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ayu Indira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekspektasi Tinggi, Angin Segar untuk Penggemar
Film live action How to Train Your Dragon hadir dengan ekspektasi tinggi, terutama karena ditangani oleh Dean DeBlois, sutradara dan penulis di balik trilogi animasi yang dicintai penggemar: How to Train Your Dragon (2010), How to Train Your Dragon 2 (2014), dan How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019). Kesetiaan DeBlois pada versi animasi membuat film ini dinanti-nanti, baik dari sisi cerita maupun visual.
Setelah beberapa film live action garapan studio lain yang mengecewakan penggemar, film ini diharapkan menjadi “angin segar”. Banyak penonton menunggu apakah DeBlois mampu menghadirkan nuansa magis dan emosi yang sama seperti versi animasi.
Alur Singkat How to Train Your Dragon (Live Action)
Film berfokus pada Hiccup, remaja kurus dan canggung yang bercita-cita menjadi pemburu naga seperti ayahnya, Stoick, kepala suku Berk. Suatu malam, Hiccup melanggar perintah dan menembak jatuh naga legendaris Night Fury. Ia kemudian menemukan naga itu terluka, menamainya Toothless, dan memilih menyelamatkannya alih-alih membunuh.
Dari titik ini, persahabatan tulus antara Hiccup dan Toothless berkembang. Hiccup bahkan merancang ekor buatan agar Toothless bisa kembali terbang. Hubungan ini menjadi inti emosional film, sekaligus fondasi perubahan cara pandang Viking terhadap naga.
Konflik memuncak ketika Red Death, naga ratu yang menindas naga lain, mengancam desa. Hiccup dan teman-temannya menunggangi naga hasil pelatihan untuk menyelamatkan desa. Dengan keberanian dan empati, Hiccup berhasil mengalahkan Red Death bersama Toothless, menandai awal era baru bagi manusia dan naga.
Kelebihan Film
Visual film ini sangat memukau. Dunia Berk divisualisasikan dengan detail menakjubkan, mulai dari lanskap berbatu hingga laut berkabut, serta desain naga yang terasa nyata tapi tetap setia pada versi animasi. Emosi antara manusia dan naga tampil kuat berkat CGI yang halus. Lagu karya John Powell menambahkan sensasi ikut terbang menembus awan bersama Hiccup dan Toothless.
Pesan moral film juga kuat: empati, keberanian, dan penerimaan perbedaan menjadi inti cerita. Hubungan Hiccup-Toothless terasa hangat, sedangkan pesan parenting disisipkan secara halus: orangtua perlu memahami anaknya, bukan memaksakan kehendak. Musik John Powell dan sinematografi heroik menambah nuansa magis, membuat penonton seolah ikut terbang bersama Hiccup dan Toothless.
Kekurangan Film
Meski banyak hal positif, beberapa kekurangan tetap terasa. Chemistry Hiccup dan Astrid (Nico Parker) kurang kuat dibanding versi animasi, sehingga romansa mereka terasa agak canggung. Beberapa dialog juga datar, membuat momen emosional tidak selalu tersampaikan maksimal. Pengembangan karakter Stoick kurang utuh karena beberapa adegan penting dihilangkan, sehingga perkembangan hubungan ayah-anak terlihat kurang mendalam.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, How to Train Your Dragon (Live Action) berhasil menghadirkan nostalgia trilogi animasi sekaligus menyuguhkan dunia Berk yang lebih nyata dan memukau. Meski ada kekurangan dalam pengembangan karakter dan chemistry antaraktor, film ini tetap menonjolkan persahabatan manusia-naga, keberanian, dan empati sebagai nilai inti.
Dengan visual menakjubkan, pesan moral yang kuat, dan pengalaman emosional yang hangat, film ini layak dinikmati penggemar lama maupun penonton baru. Bagi para penggemar, Hiccup dan Toothless kembali menghadirkan keajaiban yang pantas ditunggu.
