Gaji Tak Cukup, Senyum Guru ASN Tetap Ada

Guru SD di sekolah Denpasar Bali. Menulis tentang pendidikan, pengabdian, dan untuk menyuarakan hati para guru di negeri ini. ASNation.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Gusti Ayu Mirah Mahardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai guru ASN, sore itu saya menghitung uang di dompet. Tiga lembar puluhan ribu. Cukup untuk bensin seminggu dan jajan anak esok. Slip gaji masih terselip di tas, lembaran kertas yang entah kenapa selalu terasa lebih tipis dari harapan. Tapi di sudut lain rumah, anak saya tertawa. Ia tak tahu bahwa ibunya sedang bertahan. Ia hanya tahu bahwa setiap pagi, saya selalu tersenyum. Dan dari senyum itu, ia tumbuh percaya bahwa dunia ini baik-baik saja. (Baca juga: Perjuangan Guru Honorer di Tengah Keterbatasan)
Saya guru ASN. Bukan pejabat, bukan direktur, bukan kepala dinas. Saya hanya satu dari jutaan guru di negeri ini dan satu dari sekian banyak yang setiap pagi memilih berangkat ke sekolah, meski tanggungan rumah menumpuk, meski gaji tak cukup, meski kadang lelah tak terkira. Tapi saya tetap pergi. Karena di kelas, ada 32 pasang mata yang menunggu. Mereka menunggu bukan hanya ilmu. Mereka menunggu bukti bahwa ada orang dewasa yang benar-benar peduli.
Apa Ukuran Pengabdian Seorang Guru ASN ?
Tema ini mengingatkan saya pada satu pertanyaan: Apa sebenarnya ukuran pengabdian? Apakah angka di slip gaji? Pangkat dan golongan? Pengakuan atasan? Saya percaya bahwa pengabdian sejati tak diukur dari apa yang kita terima. Tapi dari apa yang tetap kita berikan, ketika kita tahu bahwa memberi adalah pilihan, bukan keharusan.
Pagi itu, seorang murid datang sebelum bel. Ia duduk di pojok kelas, memeluk tasnya erat-erat. Matanya sembab. Ia tidak bicara. Saya mendekat, duduk di sampingnya, dan membiarkan diam menjadi bahasa pertama kami. Lalu ia berkata pelan, "Ibu saya sakit, Bu. Rumah sakit minta uang muka. Bapak saya sudah lama pergi. Saya takut Ibu pergi juga."
Di saat itu, jari-jari saya membeku. Saya guru bukan dokter, bukan dermawan, bukan pahlawan. Dompet saya berisi tiga lembar puluhan ribu tadi. Tapi ada yang lebih berharga di dalam diri saya yang tak pernah tercatat di kantong yaitu kehadiran. Saya memeluknya. Saya tersenyum dan berkata, "Kamu tidak sendirian. Ibu di sini dan teman-teman juga ada."
Tanpa saya perintah, anak-anak lain mulai bergerak. Mereka mengumpulkan uang jajan. Seribu, dua ribu, lima ribu. Ada yang membawa bekal dari rumah dan memecahnya menjadi dua, setengah untuk mereka, setengah untuk temannya. Saya menambahkan seadanya. Saat kami datang ke rumah murid itu, ibunya menangis. Bukan karena uang. Tapi karena melihat anaknya dikelilingi orang-orang yang peduli. Kejadian itu menggerakkan kami para guru di gugus sekolah. Kami mulai berkolaborasi membuat bank makanan kecil di ruang guru dan grup solidaritas untuk saling bergantian mengajar jika ada yang sakit. Bukan menunggu kebijakan besar, tapi memulai dari hal kecil yang bisa kami kendalikan. Kolaborasi sederhana itu membuat beban terasa lebih ringan dan kami tahu, kami tidak berjuang sendiri. Dan dari sudut ruangan yang remang, saya melihat murid itu tersenyum, senyum yang akan saya ingat seumur hidup. (Baca juga: Kolaborasi ASN untuk Pendidikan Indonesia)
Saat itu saya sadar bahwa pengabdian bukan tentang memberi yang banyak. Pengabdian adalah tentang memberi yang berarti saat kita sendiri kekurangan. Tapi jangan bayangkan ini tentang keikhlasan tanpa batas. Saya juga perempuan biasa. Ada pagi di mana saya demam dan tetap pergi mengajar karena ada ujian. Sepanjang hari, saya tersenyum di depan kelas padahal di dalam kamar mandi tadi pagi, saya menangis tanpa suara. Ada malam di mana saya mengoreksi tugas hingga pukul sebelas, sementara orang tua saya terbaring sakit di kamar sebelah. Sesekali ia memanggil, "Nak, tolong ambilkan air." Padahal saya masih bergulat dengan tumpukan kertas. Ada pagi di mana saya harus membawa ibu ke Puskesmas, tapi tetap bergegas ke sekolah karena jam mengajar tak bisa ditinggalkan. Ada hari di mana saya merasa lelah menjadi segala-galanya, guru, perawat, tulang punggung keluarga, pengurus administrasi.
Tapi saya tetap mengajar. Bukan karena saya suci. Tapi karena saya tahu, murid-murid saya juga memiliki luka yang sama. Ada yang terluka karena orang tuanya bercerai. Ada yang diejek. Ada yang tak percaya bahwa mereka berharga. Mereka datang ke sekolah bukan hanya untuk belajar. Mereka datang untuk mencari pengakuan bahwa mereka dilihat, bahwa mereka tidak sendirian. Dan di sanalah peran guru. Bukan sebagai pengajar tetapi sebagai penguat. Sebagai orang yang hadir tanpa syarat. Sebagai jembatan antara keputusasaan dan harapan.
Mendengarkan Murid, Memahami Perjuangan Guru ASN
Saya ingat seorang murid laki-laki yang biasa diam. Selalu duduk di kursi paling belakang, jarang bicara, sering tidur di kelas. Kami guru-guru sering mengeluh tentangnya. "Nakal," kata kami. "Malas," kata kami. Sampai suatu hari, saya memutuskan untuk tidak mengajarnya, tapi mendengarnya. Saya duduk di sampingnya saat istirahat. Saya bertanya, "Kamu kenapa selalu tidur?"
Ia diam lama. Lalu menjawab dengan suara nyaris padam, "Saya kerja malam, Bu. Bantu ayah saya jualan. Kadang baru tidur jam tiga pagi. Saya malu kalau teman-teman tahu. Saya juga malu karena seragam saya kusut. Tapi saya tetap ke sekolah, Bu. Karena di rumah, saya tidak diperhatikan. Di sini, Ibu tersenyum saat saya datang. Saya ingat senyum Ibu. Itu membuat saya ingin datang lagi."
Saya menutup mulut dengan tangan. Semua keluhan tentang si anak "nakal" itu runtuh. Saya menyalahkannya karena saya tak tahu perjuangannya. Sejak saat itu, saya belajar bahwa setiap murid adalah puisi yang belum selesai, dan tugas saya bukan menilai, tapi mendengarkan iramanya.
Di luar sana, guru sering direduksi menjadi angka. Data, sertifikasi, tunjangan, target kurikulum, nilai ujian. Tapi kami bukan mesin. Kami manusia yang datang ke kelas dengan hati yang remuk atau bahagia, dan tetap memilih memberikan yang terbaik. Bukan karena kami dibayar. Tapi karena kami memilih percaya bahwa anak-anak layak mendapat masa depan lebih baik.
Data bicara: rata-rata gaji guru ASN di Indonesia baik PNS maupun PPPK masih berkisar Rp 3-5 juta per bulan. Di kota besar, itu setara biaya sewa rumah sederhana dan makan bulanan. Untuk guru honorer, angkanya bahkan di bawah Rp 2 juta. Sebagian dari kami memiliki utang. Sebagian tak bisa membayar asuransi anak. Sebagian masih berhutang ke tetangga. Tapi kami tetap mengajar. Kami tetap tersenyum. Karena jika kami menyerah, siapa lagi yang akan menyelamatkan anak-anak ini dari kemiskinan, dari putus asa, dari mimpi yang padam sebelum menyala?
Negeri ini tidak kekurangan guru. Negeri ini kekurangan penghargaan bukan hanya gaji, tapi pengakuan bahwa guru adalah profesi paling strategis untuk menyelamatkan peradaban. Tanpa guru, tidak ada dokter, insinyur, atau presiden. Mereka semua lahir dari ruang kelas yang kecil, remang, sederhana, tempat seorang guru berdiri dan memilih percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar. (Lihat juga: Data Gaji Guru ASN di Indonesia)
Guru ASN: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Maka di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan sesuatu. Bukan untuk diri saya. Tapi untuk jutaan guru ASN di negeri ini yang setiap pagi menghadapi perjalanan panjang, yang setiap malam mengoreksi tugas di bawah lampu temaram, yang mengorbankan mimpi mereka sendiri agar mimpi orang lain hidup.
Terima kasih karena tetap tersenyum. Terima kasih karena memilih bertahan bukan karena gaji, bukan karena status, tapi karena cinta yang tak pernah ditulis dalam SK. Cinta yang membuatmu merasakan kehangatan ketika melihat seorang anak berhasil memahami sesuatu, cahaya kecil di matanya yang menjadi bukti bahwa semua ini bermakna.
Gaji tidak cukup, kami tahu itu. Tapi senyum kami yang abadi adalah kekayaan yang tidak pernah habis. Dan kami akan terus tersenyum, karena di balik setiap senyum ada seorang anak yang yakin: "Saya bisa karena ada yang percaya pada saya."
Maka pada akhirnya, izinkan saya mengajak semua: jangan pernah menilai pengabdian seorang guru ASN dari besar kecilnya gaji. Nilailah dari berapa banyak hati yang ia sentuh, dan berapa banyak anak yang ia selamatkan tanpa pernah mengeluh. Karena guru ASN yang baik bukan yang digaji besar. Guru ASN yang baik adalah yang tetap datang, tetap mengajar, dan tetap tersenyum, meski gaji tak cukup.
Saya guru. Saya perempuan. Dan saya memilih untuk tetap tersenyum untuk negeri, untuk anak-anak, dan untuk masa depan yang percaya bahwa kami masih ada.
