Konten dari Pengguna

Tabah Sampai 'Achir'

Ayu Novita Pramesti

Ayu Novita Pramesti

Aparatur Sipil Negara yang melayani guru, tenaga kependidikan, dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Direktorat Jenderal GTK, Kemendikbud

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Novita Pramesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak sengaja menemukan Gambar KRI Nanggala-402 dari dokumentasi milik ayah
zoom-in-whitePerbesar
Tidak sengaja menemukan Gambar KRI Nanggala-402 dari dokumentasi milik ayah

Saya merasa prihatin ketika mendengar berita bahwa satu di antara kapal selam milik Indonesia, yaitu KRI Nanggala-402, hilang kontak di perairan Bali.

Tak lama setelah mendengar berita itu, saya langsung teringat pernah mengunjungi Monumen Kapal Selam di Surabaya sehingga saya bisa sedikit merasakan bagaimana suasana di dalam kapal selam. Sempit dan ruang geraknya terbatas.

Tidak akan bisa terus-menerus berjalan dengan kepala yang tegak sempurna. Harus sering menunduk agar kepala selamat dari benturan langit-langit kapal.

Selain itu, saya jadi teringat dengan almarhum ayah. Beliau lulus dari Akademi Angkatan Laut pada tahun 1962. Setelah lulus, beliau langsung ditugaskan di Satuan Kapal Selam, Ujung, Surabaya, hingga tahun 1965. Beliau ditugaskan untuk mengawal logistik di kapal selam yang diikutkan pada Operasi Trikora untuk Pembebasan Irian Barat.

Untuk memperkenalkan tempat bertugasnya dulu, beliau pernah memberikan stiker Satuan Kapal Selam kepada saya. Dari stiker itu, saya mengenal moto satuan elite di lingkungan TNI-AL yang berdiri sejak 12 September 1959 ini.

Motonya sangat singkat, namun begitu mendalam maknanya. Wira Ananta Rudira, yang artinya Tabah Sampai Akhir.

Stiker Moto dan Lambang Satuan Kapal Selam

Awalnya, saya tidak memahami apa maksud moto tersebut. Ketika melakukan perjalanan dinas ke Surabaya pada tahun 2019, saya dan rekan seperjalanan menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen Kapal Selam. Setelah kunjungan singkat itu, saya baru memahami bahwa moto tersebut menggambarkan beratnya tugas personel TNI-AL di kapal selam.

Harus berada di ruang kapal yang sempit dalam waktu lama untuk memantau musuh dan melakukan pertempuran. Ruang kapal yang sempit itu tidak berada di atas permukaan air, namun berada di bawah permukaan air.

Bisa kita bayangkan, para awak kapal selam harus menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu tekanan di ruang sempit dan tekanan di bawah permukaan air. Keberanian sudah pasti dimiliki oleh mereka. Namun, itu belum cukup. Perlu ketabahan dan kesabaran dalam menjalankan tugas negara di kapal selam.

Ini penjelasan lebih dalam mengenai moto Tabah Sampai Akhir yang diabadikan pada prasasti di depan Monumen Kapal Selam, Surabaya. Dalam prasasti tersebut kata 'akhir' masih dituliskan dalam ejaan lama 'achir'.

TABAH SAMPAI ACHIR

Orang yang tabah tidak akan takut karenanya dia berani

Orang yang tabah tidak akan menyerah karenanya dia ulet

Orang yang tabah tidak akan terburu-buru karenanya dia sabar

Orang yang tabah tidak akan hilang akal karenanya dia tenang

Orang yang tabah tidak akan mundur karenanya dia teguh

Semoga kita semua bisa terinspirasi untuk melaksanakan moto tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, hendaknya kita juga berdoa untuk keselamatan seluruh awak kapal selam yang bertugas di KRI Nanggala-402.

Kita berharap agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengizinkan mereka untuk kembali berkumpul dengan rekan sejawat dan keluarga.

Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya menyelesaikan kutipan prasasti di atas.

Namun kita harus tabah sampai achir