Konten dari Pengguna

Ridwan Kamil dan Tahun-Tahun yang Membawa Kemajuan Dirinya

Dia Ayu Rahmah

Dia Ayu Rahmah

Penyuka bacaan sastra :)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dia Ayu Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ridwan Kamil dan Tahun-Tahun yang Membawa Kemajuan Dirinya
zoom-in-whitePerbesar

Rindu serindu-rindunya. Barangkali itu kalimat yang cocok untuk memulai tulisan ini. Rangkaian di dalam tulisan ini adalah sajian data dari tahun-tahun di mana Kang Emil (Ridwan Kamil) begitu cemerlang dan menginspirasi. Ada usaha. Ada capaian. Tahun-tahun yang cerlang cemerlang kami potret untuk menumbuhkan motivasi dalam diri pembaca.

Tahun 1994 adalah tahun yang menandai mula tumbuhnya kemajuan dalam diri Ridwan Kamil. Tahun itu dicatat sebagai tahun di mana ia terpilih untuk mendapatkan beasiswa pelajar dari Singapore International Foundation-ASEAN Fellowship. Berkat beasiswa itu, Ridwan Kamil dapat di National University of Singapore (NUS).

Apa yang bisa dicatat dari masa ia belajar di NUS? Tak hanya kegiatan akademis tentang kebijakan dan strategi atau cara hidup di Singapura. Di sana, ia belajar desain perkotaan yang sistematis, terorganisir dengan baik dan penggunaan teknologi inovatif. Pengalaman belajar di sana begitu kuat kesannya dalam diri RK. Juga pengalaman itu memberi bekal pengetahuan yang begitu besar yang kemudian ia terapkan dalam menata Kota Bandung.

Tahun itu adalah tahun yang tak dapat dilupakan. RK menyebut dengan kata-katanya sendiri: “saya adalah bukti nyata manfaat pertukaran internasional seperti Singapore International Foundation (SIF)-Asean Fellowship, dan saya melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang menguntungkan hubungan lintas-budaya lewat pemberdayaan generasi muda pemimpin masa depan”.

Pengalaman dan kesungguhan belajar Kang Emil membuahkan hasil. Ridwan Kamil menjadi orang Indonesia pertama yang mmenerima penghargaan dari British Council untuk International Young Design Enterpreneur of the Year (2006); memenangkan kompetisi desain internasional untuk Museum Aceh (2007); meraih penghargaan dari BCI Indonesia sebagai ‘Top Ten Architecture Bussness’ (2008); dan ia juga mendapat julukan sebagai ‘architecht of the year’ dari Elle Decor Magazine (2009).

Penghargaan terus mengalir pada dirinya. Pada tahun 2014, dia mendapat penghargaan dari KPK sebagai pelapor terbanyak, terbaik dan tepat waktu dalam laporan Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG). Pada 2015, Bandung – di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil – memperoleh gelar sebagai kota kreatif dari Unesco.

Pada 2016, Bandung terpilih sebagai kota terbaik dalam tata kelola pemerintahannya. Penilaian ini datang dari Kemenpan RB. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) memberikan predikat A atau terbaik dalam Sistem Akuntanbilitas Kinerja Intansi Pemerintahan (SAKIP).

Pada tahun itu juga, Ridwan Kamil menerima penghargaan sebagai kepala daerah yang inovatif dari koran Sindo dan penghargaan Prime Minister Fellowship dari Perdana Menteri New Zealand.

Pada tahun 2017, tercatat empat penghargaan penting yang kembali dia terima: (1) Kepala Daerah teladan versi Tempo; (2) Kepala Daerah Inovatif dari Sindo (lagi); (3) Mendapat predikat sebagai ‘Man of The Year’ dari Institute of Democracy and Education (IDE); dan (4) Walikota terbaik dari Kemendagri.