Ketika Jurusan yang Diremehkan Membuat Mahasiswa Meragukan Pilihannya Sendiri

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ayumi Indira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jurusan itu belajar apa?” “Bukankah hal seperti itu bisa dipelajari sendiri?” “Memangnya harus kuliah untuk mempelajari hal seperti itu?” Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana dan tidak selalu dimaksudkan untuk merendahkan.Tapi kalau terus-menerus didengar oleh mahasiswa, komentar tersebut dapat perlahan menimbulkan keraguan terhadap pilihan pendidikan yang telah diambil.
Pada awalnya, anggapan bahwa suatu jurusan mudah mungkin hanya dianggap sebagai pandangan orang lain. Tetapi semakin sering mendengarnya, mahasiswa bisa mulai mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Apakah benar jurusan yang dipilih terlalu mudah? Apakah keputusan untuk mengambil jurusan tersebut sudah tepat? Bahkan, apakah seharusnya sejak awal memilih bidang yang berbeda?
Persoalannya kemudian tidak lagi hanya tentang bagaimana orang lain melihat sebuah jurusan. Penilaian tersebut mulai memengaruhi cara mahasiswa melihat pilihan dan kemampuan dirinya sendiri.
Ketika Sebuah Jurusan Dinilai dari Permukaannya
Tidak semua jurusan memiliki gambaran yang mudah dipahami oleh orang di luar bidang tersebut. Ada jurusan yang langsung dikaitkan dengan profesi tertentu, sementara jurusan lainnya memiliki pilihan bidang yang lebih luas sehingga sering dianggap tidak memiliki arah yang jelas.
Ilmu Komunikasi, misalnya, masih kerap dipahami secara sederhana sebagai bidang yang hanya mengajarkan kemampuan berbicara. Nyatanya, komunikasi memiliki cakupan yang luas, mulai dari jurnalistik, hubungan masyarakat, penyiaran, periklanan, komunikasi digital, hingga kajian mengenai bagaimana pesan dibentuk, disampaikan, diterima, dan memengaruhi masyarakat.
Hal yang sama juga dapat terjadi pada berbagai jurusan lain. Bidang yang terlihat sederhana dari luar belum tentu sesederhana itu ketika dipelajari secara langsung. Apa yang kelihatan mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi orang yang harus memahami teori, mengerjakan tugas, melakukan praktik, dan mengembangkan kemampuan di dalamnya.
Ketika Komentar Orang Lain Mulai Masuk ke Pikiran Sendiri
Yang menjadi persoalan bukan hanya ketika sebuah jurusan diremehkan, tetapi ketika komentar tersebut mulai dipercaya oleh mahasiswa yang menjalaninya.
Keraguan dapat muncul secara perlahan. Mahasiswa yang awalnya merasa yakin dengan pilihannya bisa mulai membandingkan jurusan sendiri dengan jurusan lain yang dianggap lebih sulit, lebih bergengsi, atau memiliki prospek kerja yang lebih jelas.
Pada akhirnya, muncul perasaan bahwa pilihan tersebut mungkin merupakan sebuah kesalahan.
Padahal, keputusan memilih jurusan tidak seharusnya hanya didasarkan pada bagaimana bidang tersebut terlihat dari luar. Ada minat, kemampuan, pengalaman, dan alasan pribadi yang membuat seseorang memilih bidang tertentu.
Tidak Semua Hal Harus Terlihat Sulit untuk Berarti
Sebuah jurusan tidak menjadi lebih berharga hanya karena dianggap sulit. Begitu pula jurusan yang terlihat mudah bukan berarti tidak membutuhkan kemampuan dan proses belajar.
Setiap bidang memiliki tantangan yang berbeda. Ada kemampuan yang mungkin terlihat sederhana karena hasilnya mudah diamati, sementara proses untuk menguasainya justru tidak terlihat.
Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya terus merasa perlu membuktikan bahwa jurusannya layak dihargai hanya karena orang lain tidak memahaminya.
Akan selalu ada orang yang menganggap pilihan tertentu mudah, tidak jelas, atau bahkan bisa dipelajari sendiri. Namun, pendapat tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai keputusan yang telah dibuat.
Karena pada akhirnya, sebuah pilihan tidak menjadi salah hanya karena orang lain tidak melihat nilainya.
