Konten dari Pengguna

Kava Kava Bahaya Kesehatan di Dataran Eropa, Tapi Ceritanya Lebih Rumit dari Itu

Azhfar Ghatraf

Azhfar Ghatraf

mahasiswa uin syarif hidayatullah jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azhfar Ghatraf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kepulauan Pasifik, kava sudah diminum dalam upacara adat selama ribuan tahun sebagai minuman yang menenangkan dan menyatukan komunitas. Tapi ketika kava menyeberang ke Eropa dalam bentuk suplemen modern, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Beberapa negara melarangnya total. Kava kava bahaya kesehatan yang dikhawatirkan adalah kerusakan hati, dan kisah di baliknya jauh lebih rumit dari sekadar tanaman jahat versus tanaman baik.

Kava Kava Bahaya Kesehatan yang Memicu Krisis Regulasi Global

Ilustrasi kava kava bahaya kesehatan piper methysticum hati hepatotoksik Pasifik.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kava kava bahaya kesehatan piper methysticum hati hepatotoksik Pasifik.Photo by GPT AI

Hubungan antara penggunaan produk kava dan hepatotoksisitas mendorong banyak negara termasuk Jerman, Swiss, Prancis, Kanada, dan Inggris untuk mengambil tindakan regulasi, mulai dari memperingatkan konsumen hingga menarik produk berbahan kava dari pasaran. Pada 25 Maret 2002, FDA mengeluarkan peringatan konsumen berjudul suplemen makanan berbahan kava mungkin terkait dengan kerusakan hati yang parah.

Larangan regulasi untuk ekstrak kava berbasis etanol dan aseton dikeluarkan pada 2002 di Jerman berdasarkan laporan yang mengaitkan penyakit hati dengan penggunaan kava, meski penilaian kausalitas regulasi tersebut menjadi bahan diskusi internasional.

Angkanya memang ada yang serius. Laporan hepatotoksisitas kava pertama kali muncul di Jerman pada 1998, dan hingga akhir 2005, WHO menerima 91 laporan dari 189 reaksi merugikan terkait produk berbahan kava saja. Lima puluh lima dari reaksi tersebut melibatkan gangguan hati dan sistem bilier, termasuk tiga kasus gagal hati dan dua kasus koma hepatik.

Tapi Ada yang Lebih Rumit di Baliknya

Inilah bagian cerita yang sering hilang dari headline berita. Penyebab hepatotoksisitas dari kava masih belum jelas. Studi in vitro menunjukkan bahwa kavalakton tidak bersifat sitotoksik secara intrinsik, meski komponen lain dalam preparasi kava mungkin bersifat toksik. Kasus klinis hepatotoksisitas akibat kava menunjukkan patogenesis yang bersifat idiosinkratik atau imunoalergik. Kemungkinan adanya pelabelan yang salah atau adulterasi dengan herbal hepatotoksik lain selalu menjadi masalah.

Penelitian klinis yang lebih mendalam memperkuat keraguan ini. Dalam studi-studi selanjutnya yang menggunakan metode penilaian kausalitas khusus hepatotoksisitas pada 14 pasien dengan penyakit hati yang dilaporkan di seluruh dunia, kausalitas untuk kava dengan atau tanpa obat dan suplemen yang dikonsumsi bersamaan termasuk herbal lainnya, dinilai sangat mungkin pada satu kasus, mungkin pada empat kasus, dan kemungkinan pada sembilan kasus. Faktor risiko meliputi overdosis, pengobatan yang berkepanjangan, dan konsumsi bersamaan dengan obat sintetis dan suplemen makanan termasuk herbal lainnya pada sebagian besar dari 14 pasien tersebut.

Dengan kata lain, dari sekian banyak kasus yang dilaporkan, hanya satu yang benar-benar pasti disebabkan kava murni tanpa faktor pengganggu lain.

Masalah Kualitas Bahan Baku yang Sering Terlewat

Salah satu temuan paling penting dari riset terbaru adalah bahwa masalahnya mungkin bukan kava itu sendiri, tapi cara produksi dan jenis ekstraknya.

Hepatotoksisitas terjadi terlepas dari pelarut yang digunakan, menunjukkan bahwa kualitas bahan baku kava yang buruk menjadi faktor penyebab tambahan.

Ini menjadi semakin jelas ketika pengadilan Jerman meninjau ulang kasusnya. Larangan kava di Jerman dicabut oleh pengadilan, dengan tinjauan menyebut dugaan hepatotoksisitas kava sebagai kasus identitas obat herbal yang tidak terdefinisi dengan baik, kurangnya kontrol kualitas, dan kebijakan regulasi yang keliru.

Akar masalahnya kemungkinan besar terletak pada bagian tanaman yang digunakan. Tradisi Pasifik secara khusus hanya menggunakan akar dari kultivar kava "noble" yang sudah terbukti aman selama ribuan tahun. Produk komersial yang bermasalah sering menggunakan batang, daun, atau kultivar non-noble yang mengandung senyawa berbeda dan berpotensi lebih toksik.

Apa Kata Penelitian dan WHO Terkini

Penulis studi melakukan pembedahan teliti terhadap tuduhan sebelumnya yang mengaitkan kava dengan kerusakan hati, dan akhirnya menyoroti tidak adanya bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung tuduhan tersebut.

Laporan kerusakan hati dikaitkan dengan konsumsi produk kava, yang memicu tindakan regulasi ketat termasuk larangan total di negara-negara Eropa. Hal ini memicu perdebatan luas mengenai kebenaran klaim kerusakan hati dan dampak sosial ekonomi yang menyertainya terhadap negara pengekspor kava. Pihak yang kontra menunjuk pada sejarah panjang keamanan kava di kalangan masyarakat Pasifik dan mempertentangkan larangan tersebut dengan mengutip profil keamanan herbal ini yang lebih baik dibanding obat anxiolitik konvensional.

Riset terbaru juga menemukan adanya potensi interaksi obat yang patut diwaspadai. Studi 2024 mengevaluasi efek ekstrak yang mengandung Valeriana officinalis dan Piper methysticum terhadap aktivitas sitokrom P450 3A dan P-glikoprotein, yang relevan untuk memahami potensi interaksi kava dengan obat lain.

Jadi Aman atau Tidak Dikonsumsi?

Jawabannya membutuhkan nuansa. Produk berbahan kava tetap populer di Amerika Serikat dan terus dijual di toko makanan kesehatan dan pasar etnik terlepas dari fakta bahwa kava sudah dilarang di Jerman, Prancis, Swiss, Australia, dan Kanada.

Kava yang dikonsumsi sesuai tradisi Pasifik yaitu ekstrak air dari akar kultivar noble, dalam dosis wajar, dan tidak dicampur dengan obat atau suplemen lain, tampaknya memiliki profil keamanan yang jauh lebih baik dibanding ekstrak komersial berbasis etanol atau aseton yang sering ditemukan dalam kasus hepatotoksisitas. Faktor risiko utama yang konsisten muncul dalam berbagai kasus adalah overdosis, penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan, dan kombinasi dengan obat lain.