Energi Terbarukan dalam Skenario Net Zero Emission Indonesia

Renewable Energy Engineering and Business Development
Konten dari Pengguna
25 Januari 2023 18:02
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Azis Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Emisi (Sumber: Pexels.com/Markus)
ADVERTISEMENT
Net Zero Emission (NZE) adalah pembahasan yang sudah sangat sering kita dengar. Bahkan pada artikel sebelumnya penulis juga membahas negara mana yang menghasilkan emisi paling besar. Namun sebenarnya apa maksud dari NZE?
ADVERTISEMENT
Dilansir dari laman United Nation atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), NZE memiliki arti yaitu memotong produksi emisi gas rumah kaca (GRK) semaksimal mungkin mendekati enol. GRK adalah penyebab utama dari meningkatnya suhu bumi. Ujung dari semua permasalahan ini adalah perubahan iklim yang drastis.
Oleh karena itu NZE menjadi komitmen bagi seluruh negara di Dunia. Negara global sepakat bahwa akan mencapai NZE pada tahun 2060 atau lebih cepat. Langkah ini dilakukan guna menahan peningkatan temperatur permukaan bumi tidak lebih dari 1,5 derajat celsius. Sebagai informasi, saat ini bumi 1,1 derajat celcius lebih panas pada tahun 1800.
Apa artinya peningkatan 1 derajat celcius permukaan Bumi? Jika temperatur bumi meningkat, maka akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang ada. Mulai dari flora dan fauna yang mati, mencairnya es di kutub, meningkatnya ketinggian permukaan air, hingga yang paling parah adalah terjadinya badai ekstrem yang mampu menghasilkan kerusakan yang luar biasa.
ADVERTISEMENT
Jika penasaran dengan siapa yang paling banyak menghasilkan emisi, teman-teman bisa mencari tahu melalui artikel berjudul Climate Change Semakin Nyata, Tanggung Jawab Siapa atau klik di sini.
Pada artikel ini kita akan membahas sektor manakah yang menyumbang emisi GRK dan berkontribusi besar dalam terjadinya perubahan iklim. Faktanya berdasarkan World Resource Institute, 73,2 persen GRK global disumbang oleh sektor energi. Sektor energi ini kemudian dibagi lagi menjadi energi yang digunakan untuk Industri sebesar 24,2 persen, untuk bangunan sebesar 17,5 persen, dan untuk transportasi 16,2 persen.
Tak heran jika isu energi menjadi fokus dunia saat ini. Bahkan isu energi juga dijadikan 1 dari 3 pilar utama dalam acara G20 Presidensi Indonesia. Transisi energi saat ini menjadi suatu keniscayaan bagi semua negara di Dunia. Secepatnya transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan yang lebih bersih harus dilakukan.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana kesiapan Indonesia menyambut transisi energi? Indonesia sendiri telah menargetkan bahwa bauran energi terbarukan nasional pada tahun 2025 akan mencapai 23 persen. Selanjutnya pada tahun 2030 bauran energi terbarukan ditargetkan akan mencapai 25 persen. Puncaknya pada tahun 2060 di targetkan bahwa tidak ada lagi energi fosil yang digunakan di Indonesia.
Dalam menyambut NZE 2060, Indonesia memproyeksikan akan ada 708 GW kapasitas pembangkit listrik dari energi terbarukan. Angka tersebut akan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 421 GW atau sekitar 60 persen dari keseluruhan kapasitas pembangkit listrik nasional pada tahun 2060. Kapasitas pembangkit listrik ini juga sudah mempertimbangkan adanya kebutuhan listrik yang besar.
Dalam skenario NZE 2060, diproyeksikan akan ada kebutuhan energi listrik sebesar 1942 TWh yang akan didominasi oleh sektor industri dan transportasi. Selanjutnya kebutuhan listrik juga berasal dari komersial, rumah tangga, hingga green hydrogen. Green hydrogen menjadi salah satu masa depan dalam transisi energi dan NZE karena sifatnya yang bisa berperan sebagai energy storage. Penasaran tentang green hydrogen? Nantikan artikel selanjutnya.
ADVERTISEMENT