Restorasi Meiji dan Kebangkitan Imperialisme Jepang

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aziz Rahhary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang merupakan negara yang terkenal akan sejarah, teknologi, pendidikan, budaya, wisata dan anime yang telah memukau serta menarik jutaan orang dari berbagai negara untuk datang.
Dibalik kemajuannya saat ini, Jepang dulunya merupakan negara yang mengisolasikan diri dari peradaban dunia selama ratusan tahun.
Namun semuanya berubah di abad ke-19, ketika sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Restorasi Meiji terjadi. Peristiwa yang menjadi tonggak sejarah Jepang modern saat ini.
Lalu mengapa Jepang bisa mengurung diri selama ratusan tahun, bagaimana Restorasi Meiji bisa membawa Jepang menuju imperialisme?
Isolasi Jepang
Dimulai pada abad ke-15 saat pedagang Portugis melakukan pelayaran menuju arah barat yang sebagian berakhir di daratan Jepang. Kedatangan mereka tidak hanya untuk melakukan perdagangan, tetapi juga misi menyebarkan ajaran agama Kristen.
Banyak misionaris datang bersama para pedagang untuk menyebarkan agama Kristen di Jepang. Dari banyaknya misionaris yang datang, seorang misionaris bernama Franciscus Xaverius cukup terkenal dalam melakukan penyebaran ajaran Kristen di Asia Timur terutama Jepang.
Awalnya ajaran Kristen disambut baik dan menyebar secara luas, tetapi berakhir buruk akibat terjadinya peristiwa Pemberontakan Shimabara 島原の乱 (Shimabara no ran).
Pemberontakan ini terjadi akibat ketidaksukaan Keshogunan Tokugawa dengan masuknya ajaran agama Katolik, karena dinilai tidak sesuai dengan warga Jepang yang saat itu mayoritas menganut ajaran Shinto. Dalam ajaran Shinto diyakini bahwa Kaisar Jepang merupakan keturunan dari dewi matahari 天照大御神 (Amaterasu ōmikami) dan wajib dipatuhi.
Hal ini jelas bertolak belakang dengan ajaran Katolik yang menganggap itu tidak benar. Maka, Keshogunan menilai keberadaan ajaran agama Katolik sebagai ancaman kekuatan asing untuk meruntuhkan kesetiaan masyarakat Jepang terhadap pemerintah.
Keshogunan melakukan persekusi terhadap penganut agama Katolik hingga ke semenanjung Shimabara. Di saat bersamaan 大名 atau Daimyō (tuan tanah) di Shimabara, membebankan pajak besar kepada masyarakat untuk membangun kastil Shimabara.
Selain penindasan terhadap orang-orang Katolik, beban pajak yang besar juga semakin menambah kebencian warga terhadap Keshogunan.
Sebelum meletusnya peristiwa pemberontakan, warga di kepulauan Amakusa dan Shimabara menunjuk seorang remaja katolik berusia 16 tahun bernama Amakusa Shirō sebagai pemimpin pemberontakan namun berakhir tewas dalam pemberontakan.
Pemberontakan yang merenggut nyawa puluhan ribu korban itu, segera membuat para penguasa Jepang baik Daimyō hingga Shogun menganggap keberadaan bangsa asing sebagai ancaman dan dikhawatirkan akan membawa kerusuhan yang lebih parah di Jepang.
Melihat hal itu muncul wacana untuk mengisolasikan Jepang dari dunia luar. Keshogunan ingin memastikan sistem pemerintahan Kaisar yang dijalankan oleh Shogun itu tetap berjalan.
Selain demi alasan keamanan dalam negeri, Keshogunan Jepang khawatir dengan konsep kolonialisme yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka juga takut pengaruh asing akan membuat budaya asli Jepang yang telah dipertahankan selama berabad-abad itu pudar.
Berbagai dialog terhadap kebijakan isolasi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bersamaan dengan berjalannya dialog, Keshogunan juga telah membuat berbagai kebijakan yang mengarah pada isolasi diri.
Tetapi Keshogunan tetap melakukan kontak perdagangan terbatas dengan beberapa entitas dan melalui 4 gerbang yakni orang Ainu melalui domain klan Matsumae di Hokkaido, dinasti Joseon Korea melalui klan So di domain Tsu Shima.
Kemudian VOC Belanda di Nagasaki, pedagang Tiongkok swasta di Nagasaki yang berdagang dengan Kerajaan Ryūkyū, serta perdagangan dengan Tiongkok dan Belanda dilakukan di pulau Dejima yang terpisah dari Nagasaki.
Orang asing tidak bisa memasuki Jepang melalui pulau Dejima dan orang Jepang sendiri tidak bisa masuk ke Dejima tanpa adanya izin khusus.
Kebijakan isolasi yang dikenal sebagai 鎖国 (Sakoku) ini, mulai berlaku saat kepemimpinan Shogun ke-3 dari Klan Tokugawa yaitu Tokugawa lemitsu. Kebijakan yang telah di wacanakan selama bertahun-tahun ini, akhirnya berjalan selama 200 tahun.
Restorasi Meiji
Pada pertengahan abad ke-19, tekanan dari kekuatan negara-negara barat mulai memaksa Jepang untuk membuka diri.
Kemudian pada tahun 1853, Amerika Serikat mengirimkan utusan negara bernama Commodore Matthew C. Perry untuk datang ke Jepang dengan memaksa Keshogunan membuka pelabuhannya di Shimoda dan Hakodate bagi kapal-kapal Amerika yang datang dan ingin berlabuh di Jepang. Tidak hanya Amerika Serikat, tetapi negara seperti Inggris, Prancis, dan Rusia juga melakukan hal serupa.
Perry tiba dengan 4 kapal perang di Teluk Tokyo pada 8 Juli 1853 sambil membawa surat resmi dari presiden Amerika Serikat Milliard Fillmore. Di sana, ia secara jelas menginginkan untuk menjalin hubungan dengan Jepang.
Selain itu Perry memberikan sebuah ancaman bahwa setahun setelah dikirimkannya surat, ia akan datang lagi untuk mendapatkan jawaban dari Bakufu Shogun Tokugawa.
Setahun kemudian pada 1854, Perry datang kembali ke Jepang dengan armada militer yang banyak. Hingga akhirnya Keshogunan setuju untuk memenuhi permintaan Perry.
Pada 31 Maret 1854, Perry dan perwakilan Keshogunan Tokugawa resmi menyepakati Konvensi Kanagawa 神奈川条約 (Kanagawa Jōyaku) untuk membuka pelabuhannya bagi kapal-kapal Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia serta menandai berakhirnya kebijakan Sakoku.
Setelah Jepang membuka diri, terjadi pergolakan di dalam negeri serta terbentuknya aliansi Satsuma- Chōshū 薩摩長州同盟 (Satsuma-Chōshū dōmei).
Sebuah aliansi antara domain klan feodal Satsuma dan Chōshū yang dibentuk guna melawan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasan kepada Kaisar, karena kecewa terhadap Keshogunan yang telah membuka diri terhadap pengaruh asing.
Setelah menyadari semakin banyaknya tekanan, Keshogunan Tokugawa secara resmi berakhir pada November 1867 ketika Shogun Tokugawa ke-15 yakni Tokugawa Yoshinobu menyerahkan kekuasan kepada Matsuhito (Kaisar Meiji) dengan mengundurkan diri dari jabatannya . Ini menandai kekuasaan kembali ke tangan Kaisar (Taisei Hōkan).
Tetapi, Yoshinobu masih memiliki pengaruh kuat dalam pemerintahan Jepang. Hal ini menyebabkan pecahnya Perang Boshin 戊辰戦争 (Boshin sensō) atau Perang Tahun Naga, yang berlangsung pada Januari 1868 – Mei 1869. Dalam pertempuran itu, pihak Kekaisaran berhasil mengalahkan mantan tentara Keshogunan.
Akibat peristiwa itu, Kaisar Meiji mencopot semua kekuasaan Yoshinobu dan Restorasi Meiji 明治維新 (Meiji Ishin) secara resmi dimulai pada awal tahun 1869.
Serangkaian peristiwa itu dikenal sebagai periode Bakumatsu (幕末), periode di mana tahun-tahun terakhir menjelang keruntuhan Keshogunan Tokugawa, diawali sejak datangnya Commodore Matthew C. Perry pada tahun 1853 hingga berakhirnya Perang Boshin tahun 1869.
Dampak dan Bangkitnya Imperialisme
Restorasi Meiji telah berhasil membawa Jepang dari negara agraris dan berubah menjadi industrialis. Selain itu, peristiwa ini membawa perubahan besar di berbagai bidang seperti:
1. Mengubah sistem pemerintahan
Kaisar menghapus praktik feodalisme dan berubah menjadi sistem daerah administrasi (prefektur). Kaisar juga mulai merancang Undang-Undang yang diadopsi dari konsep Undang-Undang di Eropa dengan memperkenalkan sistem monarki konstitusional.
2. Mengubah Jepang menjadi negara industri
Kaisar mendorong masyarakatnya terutama generasi muda untuk menuntut ilmu dengan mengirimkannya ke luar negeri demi mempelajari teknologi, agar Jepang dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara barat dan berlalih dari negara agraris menjadi industri.
3. Reformasi bidang militer
Kaisar Meiji menghapus sistem militer feodal dan menggantikannya dengan angkatan bersenjata yang lebih terorganisir.
Hanya dalam beberapa dekade, Jepang berubah menjadi negara industri dan membawa Jepang menuju imperialisme.
Dibawah kekuasaan oligarki yang mempertahankan Kaisar, pemerintah mengandalkan industrialisasi sebagai modal untuk membuat Jepang mandiri dan kuat secara militer yang diiringi prinsip "Negara Makmur, Militer Kuat" 富国強兵 (fukoku kyōhei).
Setelah bertransformasi menjadi kekuatan industri dan militer, Jepang mulai memainkan peranan penting dalam geopolitik global serta menjadi salah satu kekuatan imperialis .
Ditandai dengan kemenangan Jepang atas Perang China-Jepang Pertama (1894-1895), Perang Rusia-Jepang (1904-1905), serta mulai menjajah banyak wilayah seperti Taiwan, Korea, Manchuria, China, dan Asia Tenggara yang diiringi dengan misi untuk memimpin serta mencerahkan Asia Timur guna memperkuat dorongan ekspansi selama Perang Dunia II.
Keberhasilan ini tidak hanya sukses membawa Jepang ke panggung dunia, tetapi menjadi contoh bagaimana sebuah bangsa bisa bangkit dan berubah melalui reformasi menyeluruh dan pandangan ke depan yang diiringi tekat kuat.
Referensi
- Putri, G. B., & Yuniarsih. (2023). Pengaruh kebijakan sakoku pada agama Kristen di Jepang. Jurnal Pendidikan Bahas Jepang Undiksha, volume 9, no 3, 183–187. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
- Farias., J., A. (2016). The desperate rebels of Shimabara: The economics and political persecutions and the tradition of peasant revolt. The Getty Historical Journal, volume 15, article 7, 116-120.
- Azizah., dkk. (2025). Restorasi meiji, modernisasi Jepang. Edukreatif: Jurnal Kreativitas dalam Pendidikan, volume 6, no 2, 125-134. Jambi: Universitas Jambi.
- Ericson, M. (2021). Sovereignty on display: The Tokugawa bakufu and the Paris universal exposition of 1867. The Journal of Japanese Studies, volume 47, no 2, 281-309. University of California Press.
- Kovalchuk., M., K. (2015). Mori Arinori’s journey to Saint Petersburg in 1866: Images of western backwardness and threats of modernization. The Journal of Northeast Asian History, volume 12, no 1, 9. Far Eastern Federal University.
