Ketika Musik Menjadi Bahasa Bagi Perasaan Yang Tak Terucapkan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Azka Tri Hayya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita mendengarkan sebuah lagu dan merasa seolah-olah lagu tersebut memahami apa yang sedang kita rasakan? Tentang kesedihan yang sulit diucapkan, kerinduan yang tidak bisa disampaikan, atau kebahagiaan yang ingin dikenang lebih lama. Padahal, penyanyi dan pencipta lagu tidak mengetahui apa yang sedang kita alami. Hal inilah yang membuat musik lebih dari sekadar hiburan karena musik dapat menjadi jembatan perasaan manusia dengan sesuatu yang terkadang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Secara ilmiah, musik memiliki hubungan yang erat dengan emosi manusia. Penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa musik dapat memengaruhi suasana hati, membangkitkan ingatan, dan memunculkan respons emosional. Unsur dalam musik seperti tempo, melodi, ritme, harmoni, serta lirik dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan sebuah lagu. Musik bertempo cepat, misalnya, sering dikaitkan dengan energi dan kegembiraan, sedangkan tempo yang lambat sering dikaitkan dengan suasana yang tenang dan sedih. Namun, respons setiap orang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan bagaimana seseorang memaknai musik tersebut.
Menurut saya, hubungan antara musik dan perasaan menarik karena manusia tidak selalu mampu menjelaskan perasaannya sendiri. Ada kalanya seseorang merasa sedih tanpa tahu penyebabnya. Ada juga saat seseorang ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dalam keadaan seperti itu, musik dapat menjadi ruang untuk mengenali dan menerima perasaan tersebut. Kita mungkin tidak sanggup mengatakan bahwa kita sedang kehilangan seseorang, tetapi kita dapat menemukan gambaran perasaan itu dalam sebuah lirik.
Musik juga memiliki keunikan karena maknanya tidak selalu berhenti pada maksud penciptanya. Sebuah lagu yang ditulis tentang perpisahan, misalnya, bisa mengingatkan seseorang pada kehilangan, sementara bagi orang lain lagu tersebut justru menjadi pengingat tentang masa lalu yang indah. Artinya, lagu tidak hanya membawa cerita dari penciptanya, tetapi juga membuka ruang bagi pendengarnya untuk memasukkan pengalaman pribadi ke dalam musik. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa sebuah lagu bisa dapat terasa sangat personal. Kita tidak hanya mendengarkan musik, tetapi menemukan sebagian dari diri kita di dalamnya.
Selain itu, musik sering menjadi teman ketika seseorang menghadapi perasaan yang sulit dibagikan kepada orang lain. Ketika seseorang kecewa, sebagian orang akan memilih mendengarkan lagu sedih. Sebaliknya, ketika bahagia, mereka mencari lagu yang bisa memperkuat suasana. Ada pula yang mendengarkan lagu tertentu berulang kali karena lagu itu mengingatkan mereka pada seseorang, tempat, atau peristiwa yang penting. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa musik memang dapat menjadi bagian dari cara manusia memahami dan mengenal emosinya. Meski demikian, musik bukanlah solusi untuk setiap masalah emosional. Mendengarkan lagu dapat memberikan kenyamanan, tetapi persoalan yang lebih berat tetap membutuhkan dukungan sosial, percakapan, atau bantuan profesional.
Sayangnya, musik terkadang dipandang hanya sebagai hiburan yang menemani aktivitas sehari-hari. Kita mendengarkan lagu saat belajar, berkendara, berolahraga, atau sekadar mengisi waktu luang. Padahal, musik juga dapat menjadi ruang refleksi. Sebuah lagu bisa membantu kita menyadari bahwa kesedihan adalah perasaan yang wajar, bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan, dan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dijelaskan kepada orang lain. Menurut saya, menganggap musik hanya sebagai hiburan berarti mengabaikan salah satu kemampuannya yang paling berharga, yaitu membantu manusia memahami pengalaman batinnya.
Pada akhirnya, musik menjadi bahasa bagi perasaan yang tak terucapkan bukan karena setiap lagu memiliki jawaban atas setiap persoalan hidup, melainkan karena musik memberikan kita cara untuk merasakan, mengingat, dan memahami diri sendiri. Tidak semua perasaan harus dijelaskan melalui kalimat yang panjang dan rapi. Terkadang, dengan sebuah melodi sederhana dan satu baris lirik sudah cukup untuk membuat seseorang merasa dimengerti. Mungkin itulah alasan kita terus kembali pada lagu-lagu tertentu: bukan karena nadanya yang indah, tetapi karena di dalamnya terdapat perasaan yang selama ini sulit diungkapkan. Pada akhirnya, musik bukan hanya sesuatu yang kita dengarkan, tetapi juga sesuatu yang kita rasakan.
