Konten dari Pengguna

“Eling” dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Pertemanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi diri sendiri terkadang bukan perkara mudah. Di tengah lingkungan sosial yang terus berkembang, seseorang sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk mengikuti tren, gaya hidup, cara berbicara, hingga standar pergaulan tertentu. Keinginan untuk diterima oleh lingkungan pun tidak jarang membuat seseorang perlahan meninggalkan dirinya sendiri.

Persoalan tersebut diangkat dalam film pendek berjudul “Eling”, sebuah karya mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) yang mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa baru dalam menghadapi tekanan sosial, proses adaptasi, dan pencarian jati diri.

Poster dibuat oleh crew kami

Film ini berfokus pada sosok Daimah, seorang mahasiswa baru yang berasal dari daerah dan harus beradaptasi dengan lingkungan kampus yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Sebagai mahasiswa baru, Daimah tentu berharap dapat menemukan teman dan diterima di lingkungan barunya.

Pada hari pertama kuliah, Daimah bertemu dengan Nuel, Bella, dan Inara. Pertemuan yang seharusnya menjadi awal dari sebuah pertemanan justru diwarnai dengan berbagai komentar mengenai nama, logat bicara, gaya berpakaian, hingga latar belakang Daimah.

Awalnya, berbagai komentar tersebut mungkin terlihat seperti candaan biasa. Namun, bagi Daimah, perkataan-perkataan tersebut perlahan menimbulkan rasa tidak nyaman. Ia mulai merasa bahwa dirinya berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

Daimah kemudian dianggap kurang gaul, kampungan, dan terlalu menutup diri hanya karena memiliki kebiasaan serta gaya hidup yang berbeda. Salah satu perkataan yang membekas dalam dirinya adalah, “Lo mau di-cap jadi orang katro?”

Kalimat tersebut menjadi salah satu pemicu Daimah untuk mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ia mulai berpikir bahwa menjadi dirinya sendiri mungkin tidak cukup untuk dapat diterima oleh lingkungan.

Karena tidak ingin dianggap berbeda dan takut kehilangan teman, Daimah kemudian berusaha mengubah dirinya. Ia mulai mengikuti gaya hidup dan kebiasaan teman-temannya dengan harapan dapat diterima dalam lingkungan pergaulan tersebut.

Namun, perubahan itu justru memperlihatkan bagaimana tekanan sosial dapat bekerja secara perlahan. Tekanan tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan yang terlihat jelas. Terkadang, tekanan tersebut muncul melalui candaan, komentar sederhana, perbandingan, hingga rasa takut untuk dianggap berbeda.

Daimah tidak ingin disebut kampungan. Ia ingin memiliki teman dan menjadi bagian dari lingkungan sosialnya. Karena itu, ia berusaha menjadi sosok yang dianggap lebih “gaul” oleh orang lain. Namun, semakin jauh ia berusaha menjadi seperti orang lain, semakin besar pula jarak yang ia rasakan dengan dirinya sendiri.

Melalui film pendek “Eling”, mahasiswa UNPAM berusaha menyampaikan sebuah pesan yang sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang: keinginan untuk diterima oleh orang lain seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan jati dirinya.

Film ini mengajak penonton untuk melihat kembali bagaimana lingkungan sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Tidak sedikit orang yang merasa harus berubah agar dapat diterima. Mereka mulai mempertanyakan cara berbicara, penampilan, kebiasaan, bahkan latar belakang yang sebenarnya merupakan bagian dari identitas mereka.

Sebab, menjadi diri sendiri memang tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang harus berhadapan dengan komentar, penilaian, bahkan penolakan dari lingkungan. Namun, terus-menerus memaksakan diri untuk menjadi orang lain juga bukan jalan untuk menemukan kebahagiaan. Pada akhirnya, film pendek “Eling” mengingatkan bahwa diterima oleh orang lain memang menyenangkan. Namun, menerima diri sendiri adalah hal yang tidak kalah penting.