Konten dari Pengguna

Red Flag Bukan Lagi Rahasia, Tapi Kenapa Kita Masih Bilang “Nanti Juga Berubah”?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di media sosial, kita mungkin dengan mudah mengatakan, “Kalau sudah red flag, tinggalin.”

Melihat hubungan orang lain memang terasa sederhana. Kita bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa seseorang harus pergi ketika diperlakukan tidak baik.

Namun, ketika kita sendiri yang berada di dalam hubungan tersebut, semuanya menjadi jauh lebih rumit. Ada rasa cinta, kenangan, kenyamanan, ketakutan kehilangan, sampai harapan bahwa keadaan akan berubah kita akhirnya mulai mencari pembenaran.

Dia kasar karena sedang banyak masalah.”

Dia posesif karena terlalu sayang.”

Dia bohong karena takut aku marah.”

Dia pernah menyakitiku, tapi setelah itu dia minta maaf.”

Satu per satu perilaku yang seharusnya menjadi tanda bahaya justru kita ubah menjadi alasan untuk tetap bertahan.

Salah satu hal yang membuat hubungan sulit ditinggalkan adalah kenangan. Kita ingat bagaimana dia dulu memperlakukan kita. Bagaimana dia selalu mencari kabar, mendengarkan cerita kita, memberikan kejutan kecil, atau menemani ketika sedang berada di titik terendah. Ketika semuanya berubah, kita tidak langsung berpikir bahwa hubungan itu sudah tidak sehat.

Generated gemini ai

Sebaliknya, kita berpikir:

Dia yang dulu sebenarnya masih ada. Mungkin aku hanya perlu menunggu.”

Kalimat ini terdengar romantis, tetapi bisa menjadi jebakan.

Kita sering menganggap kesabaran sebagai bukti cinta. Semakin lama bertahan, semakin besar pula perasaan bahwa kita sedang memperjuangkan hubungan. Padahal, hubungan bukan tanggung jawab satu orang, jika hanya kita yang terus bersabar, memahami, memaafkan, dan memberikan kesempatan, sementara pasangan tidak menunjukkan usaha yang sama, hubungan tersebut tidak sedang diperbaiki.

Perubahan yang nyata seharusnya terlihat dari tindakan. Bukan hanya dari kalimat, “Aku janji enggak akan mengulanginya lagi.”

Jika kesalahan yang sama terus terjadi setelah berkali-kali dibicarakan, mungkin masalahnya bukan karena dia belum diberi cukup kesempatan.