Temanmu Berubah atau Kamu yang Mulai Sadar? Tanda Temanan Tak Lagi Sehat

Saya merupakan mahasiswa universitas pamulang program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa hubungan dengan teman dekat tiba-tiba terasa berbeda? Dulu hampir setiap hari saling bertukar cerita, bercanda tanpa batas, dan selalu ada ketika dibutuhkan. Namun, belakangan semuanya terasa lebih melelahkan. Obrolan yang dulu menyenangkan kini justru membuat kepikiran.
Pertanyaannya, apakah teman kita yang berubah atau sebenarnya kita yang mulai melihat hubungan tersebut dengan cara yang berbeda?
Seiring bertambahnya usia, cara seseorang memandang pertemanan memang bisa berubah. Hal yang dulu dianggap wajar, kini mungkin terasa mengganggu. Candaan yang dulu bisa ditertawakan bersama, misalnya, perlahan terasa seperti sindiran. Begitu juga dengan kebiasaan saling mengejek, menghilang ketika dibutuhkan, hingga munculnya rasa tidak nyaman saat sedang bersama.
Bisa jadi bukan teman kita yang tiba-tiba berubah. Bisa saja kita yang mulai menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak memberikan rasa aman dan nyaman seperti sebelumnya.
Salah satu tanda yang cukup mudah dirasakan adalah ketika bertemu teman justru membuat kita merasa lelah secara emosional.
Pertemanan seharusnya menjadi salah satu ruang untuk menjadi diri sendiri. Namun, jika setiap kali bertemu kita harus berhati-hati dalam berbicara, takut salah, atau terus memikirkan bagaimana teman akan merespons perkataan kita, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Misalnya, kita merasa harus selalu mengikuti keinginan kelompok agar tidak dianggap berbeda. Ketika memiliki pendapat yang berbeda, justru dianggap aneh atau dijauhi. Pada titik tertentu, seseorang bisa mulai bertanya kepada dirinya sendiri, "Kenapa sekarang berteman malah bikin capek?"
Dalam pertemanan yang sehat, kesalahan seharusnya bisa dibicarakan dan diselesaikan bersama. Namun, hubungan menjadi tidak sehat ketika seseorang terus-menerus dibuat merasa bersalah, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Contohnya, ketika teman melakukan sesuatu yang menyakiti kita, tetapi saat kita menyampaikan keberatan, justru kita yang dianggap terlalu sensitif.
Kalimat seperti "Kamu baper banget," "Cuma bercanda," atau "Kamu berubah sekarang" terkadang digunakan untuk menghindari pembicaraan mengenai masalah sebenarnya. Bukan berarti setiap candaan adalah bentuk toxic friendship. Namun, jika seseorang sudah menyampaikan bahwa dirinya merasa tidak nyaman dan perilaku tersebut tetap dilakukan berulang kali, batasan pribadi mulai tidak dihargai.
