Konten dari Pengguna

Bagaimana Sufi Mengajarkan Kita Jujur pada Luka Batin?

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Mahasiswa Magister Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya topik pendidikan, sosial, hukum Islam, dan isu-isu keislaman dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi toxic positivity. Foto: Istock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic positivity. Foto: Istock

Pernahkah kamu merasa harus selalu terlihat kuat, padahal di dalam hati sedang berantakan? Senyum terus meski sesak, bilang “baik-baik saja” padahal lelah dan sedih menghimpit? Fenomena ini kini dikenal sebagai toxic positivity di mana seseorang dipaksa selalu positif, sampai lupa bagaimana cara jujur pada dirinya sendiri. Dunia sering mengajarkan kita untuk menekan rasa sakit, memendam kecewa, dan menutupi luka dengan senyum palsu. Tapi apakah itu benar-benar sehat?

Tradisi sufi menawarkan perspektif yang berbeda. Mereka tidak mengajarkan agar manusia selalu terlihat kuat atau bahagia. Sebaliknya, mereka mengajarkan mengakui rasa sakit dan kejujuran pada hati sendiri. Menangis bukan tanda kelemahan, lelah bukan dosa, dan jatuh bukan berarti Allah membencimu. Bahkan dalam ajaran sufistik, menangis dan merasakan luka adalah jalan untuk menyucikan hati. Dengan mengakui emosi, manusia memberi dirinya ruang untuk sembuh, bukan sekadar menutup luka agar orang lain tidak melihatnya.

Hati yang terluka, menurut sufisme, tidak langsung dipaksa tersenyum. Ia dipeluk, ditenangkan, dan perlahan dibawa kembali kepada Tuhan. Ada istilah “maqam tadarruj” dalam sufisme yang mengajarkan perjalanan batin secara bertahap tidak terburu-buru, dan tidak memaksakan kesan kuat di luar. Ini memberi ruang aman bagi manusia untuk berhenti sejenak dari tuntutan dunia dan jujur pada isi hatinya. Bahkan raja dan pedagang pada zaman dulu pun, dalam cerita sufi, sering mengunjungi guru spiritual untuk menangis dan berbagi luka, bukan untuk menunjukkan kekuatan atau status.

Toxic positivity sering membuat orang merasa bersalah setiap kali sedih atau lelah. “Seharusnya kamu tetap semangat,” kata orang lain. Lama-kelamaan, menahan semua emosi bisa membuat hati mati rasa, sementara di luar terlihat baik-baik saja. Sufi mengajarkan sebaliknya yaitu, kejujuran emosional lebih penting daripada citra selalu positif. Menangis ketika sedih, meminta pertolongan saat lelah, dan menerima bahwa jatuh itu wajar adalah bagian dari perjalanan batin yang sehat. Bahkan doa-doa pendek yang biasa diucapkan para sufi mengajarkan agar kita berkata jujur pada Tuhan tentang kesedihan dan kerapuhan kita, tanpa takut dihakimi.

Para sufi juga mengajarkan pentingnya refleksi diri. Meluangkan waktu setiap hari untuk duduk diam, merasakan emosi, dan memahami luka batin adalah latihan agar hati tetap hidup dan sensitif terhadap dirinya sendiri. Dalam keseharian modern, hal ini sering terlupakan karena kesibukan dan tuntutan terlihat kuat. Padahal, tanpa momen hening itu, kita bisa kehilangan kontak dengan diri sendiri, dan luka batin bisa menumpuk sampai menjadi beban yang jauh lebih besar.

Ilustrasi membaca buku. Foto: Dokumen Pribadi

Mereka mengajak manusia masuk ke “ruang aman” tempat di mana seseorang bisa berhenti, mengakui luka, dan berbicara jujur kepada Tuhan. Di sini, manusia tidak dipaksa menampilkan citra kuat atau bahagia palsu. Yang penting adalah merasakan, menerima, dan perlahan sembuh. Bahkan hal-hal kecil, seperti membaca buku, menulis jurnal tentang perasaan, berbicara dengan teman yang dipercaya, atau merenung di alam terbuka, adalah cara-cara modern yang selaras dengan prinsip sufistik ini.

Hidup memang penuh tekanan, kehilangan, dan kecewa. Tapi menahan semuanya demi terlihat baik tidak akan membantu. Tradisi sufi mengingatkan kita untuk jujur pada luka batin, memberi ruang bagi emosi, dan percaya bahwa menerima kelemahan adalah bagian dari kekuatan sejati. Jadi, lain kali saat merasa lelah atau sedih, ingat: tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, tidak apa-apa untuk menangis, dan tidak apa-apa menjadi manusia biasa. Itu bukan kelemahan tetapi itu bagian dari proses penyembuhan yang nyata. Dengan membiarkan hati jujur, kita tidak hanya sembuh, tapi juga belajar mencintai diri sendiri dengan lebih dalam.