Konten dari Pengguna

Hari Gizi Nasional: Gen Alpha dan Tantangan Gizi Seimbang

Azzah Amaliyah

Azzah Amaliyah

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzah Amaliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepiring nasi dengan lauk ayam, saur terong bakar, dan sambal sebagai pelengkap. Foto: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Sepiring nasi dengan lauk ayam, saur terong bakar, dan sambal sebagai pelengkap. Foto: Dokumentasi pribadi.

Usia anak-anak kelahiran 2010 hingga kini yang kita kenal istilahnya sebagai gen alpha, merupakan generasi yang tumbuh di era serba instan. Tak hanya di dunia teknologi, makanan pun menjadi sasaran objek serba cepat nan effortless untuk diolah, mie instan salah satunya. Makanan berbahan dasar tepung dengan bu

mbu siap saji yang memiliki citarasa sedap membuat semua orang ingin mengkonsumsinya setiap hari. Tapi tahukah kamu kalau generasi gen alpha cenderung mengenal bumbu praktis ini daripada bumbu dapur alami ? Menurut Tirta (2025) dalam CNBC Indonesia, World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan Indonesia menjadi konsumen mie instan terbesar kedua di dunia pada 2024, dengan 14,68 miliar porsi. Hal ini pun didukung oleh data serta informasi berapa banyak makanan instan yang telah dikonsumsi oleh remaja rentan usia 12 sampai 15 tahun. National Library of Medicine dalam artikelnya pada tahun 2020 menyampaikan bahwa persentase konsumsi makanan cepat saji 4–7 hari per minggu antar wilayah besar yang paling rendah adalah Amerika (8,3%; 6,7–9,9%) dan paling tinggi di Asia Tenggara (17,7%; 2,3–33,2%). Usia yang terbilang masih belia, sebaiknya mereka tetap mendapatkan gizi seimbang di samping santapan lezat yang instan. Manfaatnya gizi yang dibutuhkan untuk masa pertumbuhan akan tercukupi. Unicef merekomendasikan agar anak-anak mendapatkan asupan gizi seimbang yang mencakup sayuran, buah, serat, karbohidrat, dan protein. Dengan upaya mendukung pengumpulan bukti untuk mengetahui praktik dan pembelajaran terbaik, membantu meningkatkan cakupan dan mutu layanan gizi esensial, mulai dari layanan pencegahan gizi buruk seperti wasting, stunting, anemia, dan kelebihan berat badan, hingga langkah penanggulangan yang tepat di tingkat provinsi dan kota/kabupaten (Unicef, 2022).

Sejarah Hari Gizi Nasional

Tanggal 25 Januari yang kita kenal sebagai hari gizi nasional berawal dari tokoh Menteri Kesehatan tahun 1950 bernama Dr. J Leimena yang mengangkat Prof. Poorwo Soedarmo yang saat itu mengemban tanggung jawab sebagai ahli gizi menjadi kepala LMR, Lembaga Makanan Rakyat. Dengan tanggung jawabnya yang besar dalam organisasi tersebut, beliau mendapat gelar Bapak Gizi Indonesia dan mencetuskan slogan 4 sehat 5 sempurna. Pada tanggal 25 Januari 1951, LMR mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan sebagai wadah para pakar gizi untuk memajukan kesehatan masyarakat bangsa. Usaha ini pun disambut baik oleh khalayak umum dan cukup berkembang di beberapa Perguruan Tinggi Indonesia. Sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Gizi Nasional pada tahun 1951 menurut Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.

Kali ini, HGN mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat dimulai dari Piringku”. Dengan tema dan slogan yang telah dirancang sedemikian rupa, artinya kita harus lebih menekankan pentingnya makanan bergizi. Walau dengan olahan lauk yang sederhana seperti tempe, tahu, ikan tongkol, dan bayam.

Generasi yang Tumbuh Bersama Makanan Instan

Tahukah kamu, selain bahan dasar yang harus diperhatikan agar gizi dapat seimbang, terkadang kita melupakan kehadiran bumbu yang selalu berdampingan dengan masakan sehari-hari. Banyak dari anak usia remaja dalam rentan usia 12 hingga 16 tahun lebih menyukai makanan instan yang bisa saja mengandung MSG sedikit lebih banyak daripada masakan biasa. Misalnya mie instan yang dikonsumsi terlalu sering. Atau camilan ringan yang kita kenal dari budaya negara lain seperti Korea dan lainnya dan kemudian dikonsumsi dalam jumlah yang tak wajar, maka dapat menyebabkan sakit tenggorokan atau kepala. Walaupun MSG sudah menjadi budaya dan bumbu yang sangat sulit ditinggalkan dalam masakan sehari-hari, ada baiknya kita membatasi dan memberi tubuh kita jadwal makanan sehat secara teratur dan berkala agar tetap terjaga dari beberapa penyakit yang tidak diinginkan. Bukan benar-benar memberhentikan makan makanan cepat saji atau yang banyak mengandung gula dan garam.

Dilansir dari Alodokter, belum ada aturan pasti terkait jumlah konsumsi MSG. Namun, disarankan tidak lebih dari 6 gram atau 1½ sendok teh per hari, terutama untuk anak-anak yang membutuhkan nutrisi optimal. Dalam segi pencernaan, pertumbuhan tulang, hingga kecerdasan otak. Ketika gizi-gizi tersebut tidak terpenuhi, maka dapat menyebabkan penurunan berat badan, gangguan kecemasan, stress atau depresi, hingga tumbuh kembang seseorang. Pengaruh gizi buruk yang tak diperhatikan pun mampu mendatangkan sakit yang serius, awalnya mungkin ringan namun semakin bertambahnya usia dapat menjadi penyakit yang serius, di antaranya resistensi insulin yang lama kelamaan dapat berkembang menjadi diabetes.

Semua makanan boleh dikonsumsi asal sesuai takaran. Imbangi dengan olahraga ringan dan pola makan bergizi agar tubuh tetap sehat.

Sumber:

Tirta, E.B.E. (2025, November 19). RI Jadi Raksasa Baru Mi Instan Global: Konsumsi Tembus 14 Miliar Porsi. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/research/20251119114153-128-686534/ri-jadi-raksasa-baru-mi-instan-global-konsumsi-tembus-14-miliar-porsi.

National Library of Medicine. (2020, August 7). Fast food consumption among young adolescents aged 12–15 years in 54 low- and middle-income countries. Global Health Action. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7480506/#:~:text=Our%20study%20comprised%20153%2C496%20young,6.6%25;%204.5%E2%80%938.7%25).

Unicef Indonesia. (n.d). Gizi, Mengatasi tiga beban malnutrisi di Indonesia. Unicef Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/id/gizi#:~:text=Upaya%20kami,yang%20memimpin%20kegiatan%20terkait%20gizi.

Kemenkes. (2019, Januari 25). Ini Sejarah Hari Gizi Nasional. Kemenkes. https://kemkes.go.id/id/sejarah-hari-gizi-nasional.

Alodokter. (2024, Agustus 13). 7 Bahaya Micin jika Dikonsumsi Berlebihan. Alodokter. https://www.alodokter.com/efek-konsumsi-micin-berlebihan-ini-dampaknya-bagi-kesehatan#:~:text=Seperti%20yang%20disebutkan%20sebelumnya%2C%20bahaya,1%C2%BD%20sendok%20teh%20per%20hari.