Konten dari Pengguna

Fenomena "Healing" yang Justru Membuat Dompet Tidak Sehat

Ilustrasi perempuan healing usai memaafkan. Foto: brizmaker/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan healing usai memaafkan. Foto: brizmaker/Shutterstock

Berapa tahun terakhir, istilah healing semakin akrab di telinga masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Awalnya, healing dipahami sebagai cara untuk memulihkan kondisi mental dan emosional setelah menghadapi tekanan pekerjaan, tugas kuliah, atau berbagai masalah kehidupan. Namun, seiring berkembangnya tren di media sosial, makna healing perlahan mengalami pergeseran.

Kini, healing sering kali identik dengan liburan ke tempat wisata, menginap di hotel estetik, menikmati kopi di kafe yang sedang viral, hingga membeli berbagai barang sebagai bentuk self-reward. Tidak sedikit orang yang merasa harus melakukan semua itu agar dianggap benar-benar sedang "healing". Akibatnya, tujuan utama untuk memulihkan diri justru berubah menjadi dorongan untuk mengikuti tren.

Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk persepsi tersebut. Foto-foto pemandangan alam, penginapan mewah, makanan mahal, hingga video perjalanan yang terlihat sempurna membuat banyak orang percaya bahwa healing harus dilakukan dengan mengeluarkan banyak uang.

Padahal, yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Ada yang rela menabung berbulan-bulan, ada pula yang menggunakan fasilitas pay later atau kartu kredit demi mengikuti gaya hidup yang sedang populer.

Fenomena ini dikenal sebagai bentuk gaya hidup konsumtif, yaitu kebiasaan membeli barang atau menggunakan jasa bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan, gengsi, atau dorongan untuk mengikuti lingkungan. Ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti tren healing yang mahal, pengeluaran pun perlahan menjadi tidak terkendali.

Tidak sedikit orang yang akhirnya mengalami kondisi yang sering disebut sebagai "healing sekarang, pusing belakangan." Setelah pulang dari liburan atau selesai berbelanja, rasa senang memang muncul untuk sementara. Namun, ketika melihat tagihan yang menumpuk atau saldo rekening semakin menipis, muncul stres baru yang justru bertolak belakang dengan tujuan healing itu sendiri.

Padahal, para ahli psikologi menjelaskan bahwa pemulihan mental tidak selalu membutuhkan biaya besar. Healing yang sesungguhnya adalah aktivitas yang membantu seseorang merasa lebih tenang, nyaman, dan mampu mengelola emosinya dengan lebih baik. Bentuknya bisa sangat sederhana, seperti berjalan kaki di taman, membaca buku favorit, berolahraga, memasak makanan kesukaan, berkebun, menonton film bersama keluarga, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Sayangnya, budaya Fear of Missing Out (FOMO) membuat sebagian orang merasa tertinggal jika tidak ikut mencoba tempat-tempat yang sedang viral. Mereka khawatir dianggap kurang mengikuti perkembangan zaman atau merasa hidupnya tidak semenarik orang lain. Perasaan inilah yang sering mendorong seseorang mengambil keputusan finansial secara impulsif.

Selain FOMO, muncul pula fenomena doom spending, yaitu kebiasaan menghabiskan uang sebagai pelarian dari stres, rasa cemas, atau tekanan hidup. Belanja, nongkrong, atau liburan memang dapat memberikan rasa senang dalam waktu singkat. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kesehatan finansial.

Bukan berarti liburan atau membeli sesuatu untuk diri sendiri adalah hal yang salah. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri tetap penting setelah bekerja keras atau melewati masa yang melelahkan.

Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara kebutuhan emosional dan kemampuan finansial. Healing seharusnya memberikan ketenangan, bukan menambah beban pikiran karena harus memikirkan cicilan atau tagihan setelahnya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memulihkan diri. Ada yang merasa tenang dengan mendaki gunung, ada yang cukup menikmati secangkir teh hangat di rumah sambil mendengarkan musik, bahkan ada yang merasa lebih baik setelah tidur cukup selama akhir pekan. Semua pilihan tersebut sama berharganya selama benar-benar membantu menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, healing bukanlah tentang seberapa jauh kita bepergian atau seberapa mahal pengalaman yang dibeli. Healing adalah tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, memulihkan energi, dan kembali menjalani aktivitas dengan pikiran yang lebih jernih.

Ketika dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan, healing akan membawa manfaat. Namun, jika dilakukan hanya demi mengikuti tren, bukan tidak mungkin dompet yang justru membutuhkan healing terlebih dahulu.