Konten dari Pengguna

Live Forever: Keyakinan Tetap Hidup di Tengah Dominasi Pesimisme Musik Grunge

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzalia Shafa Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Live Forever" dari Oasis, usianya sudah lebih dari tiga dekade yang ditulis oleh Noel Gallagher dan dirilis pada 8 Agustus 1994 lewat label Creation Records. Lagu ini menjadi bagian dari album debut Oasis, Definitely Maybe dengan durasi 4 menit 36 detik. Tapi meski lagu ini terkesan singkat, efeknya ternyata bisa bertahan jauh lebih lama di kepala siapa pun yang mendengarnya, termasuk saya.

Noel menulis lagu ini pada 1991. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Blender tahun 2007, ia bercerita bahwa "Live Forever" terinspirasi oleh "Shine a Light" milik The Rolling Stones dari album Exile on Main Street. Namun, yang membuat lagu ini terasa lebih bermakna bagi saya adalah latar belakangnya di mana lagu ini lahir sebagai semacam jawaban terhadap "I Hate Myself and Want to Die" milik Nirvana. Di tengah musik grunge yang kala itu sarat nuansa muram, Noel justru memilih menulis sesuatu yang berlawanan arah. Lagu ini kemudian dibawakan Liam Gallagher, dan menjadi single pertama Oasis yang berhasil menembus 10 besar UK Singles Chart. Liam sendiri bahkan menyebutnya sebagai lagu Oasis favoritnya dalam wawancara bersama Radio X pada 2019.

Pada intinya, "Live Forever" berbicara tentang optimisme, semangat untuk tetap hidup, dan penolakan terhadap pesimisme. Pesannya sederhana tapi terasa dalam. Kepercayaan pada hidup, fokus pada kebahagiaan diri sendiri, melepaskan keraguan dan beban masa lalu, lalu berani melangkah maju alih-alih menyerah. Juga tentang menghargai hal-hal kecil, baik yang belum sempat dicoba, maupun yang sudah terjadi dalam hidup kita.

Yang Membuatnya Istimewa

Dari sisi musik, lagu ini dibangun dengan aransemen rock klasik bersentuhan britpop, dan intronya begitu mudah melekat di ingatan. Bagian bridge-nya perlahan menaikkan intensitas, membawa kesan megah sekaligus seruan halus untuk terus menjalani hidup. Dipadukan dengan vokal Liam yang penuh keyakinan, lirik sederhana lagu ini jadi terasa jauh lebih bermakna, terutama pada bagian akhir setiap refrain, yang seperti puncak dari keyakinan emosional yang sebelumnya dibangun lewat nada tanya dan kata-kata kemungkinan di awal liriknya.

Dari segi lirik, bahasanya sengaja dibuat sederhana, tanpa metafora yang berbelit. Ada pengulangan pada frasa judulnya yang terus ditegaskan, membuat lagu ini mudah melekat dan mudah dinyanyikan bersama, karena pendengar tidak perlu berpikir keras untuk mengikutinya. Justru di situlah letak keberhasilan "Live Forever", mengemas sesuatu yang bermakna besar dengan cara yang mudah dicerna siapa saja.

Namun, Tidak Sepenuhnya Sempurna

Kalau berbicara soal musikalitas secara teknis, menurut saya lagu ini tergolong relatif flat, tidak banyak momen "musical surprise" sepanjang intervalnya. Kekuatan lagu ini bukan terletak di situ, melainkan pada attitude vokal Liam Gallagher yang berhasil menyampaikan makna lagu dan menarik afeksi pendengar, bukan dari kedalaman atau kecanggihan musikalnya.

Kenapa Masih Terasa Relevan Hingga Sekarang

Yang menarik, "Live Forever" tidak hanya menjadi lagu yang mengangkat nama Oasis pada masa debutnya, tapi juga tetap terasa istimewa hingga kini. Pendengar baru dari generasi muda terus bertambah, dan banyak dari mereka merasa relevan dengan isi lagu ini, terlepas dari nama besar Oasis sekalipun. Liriknya yang tidak terikat pada peristiwa atau tokoh tertentu membuat lagu ini terkesan timeless, terbuka bagi pengalaman hidup siapa pun yang mendengarnya. Karena itu, "Live Forever" bisa hadir dalam banyak situasi, terutama yang berkaitan dengan menghargai hidup di tengah ketidakpastian dan tekanan pesimistis, yang ternyata dialami lintas generasi.

Saya bukanlah pendengar fanatik Oasis, hanya penikmat lagu biasa. Tapi justru dari situ saya merasa "Live Forever" berhasil karena keterbukaannya. Lagu ini memberi ruang bagi siapa saja untuk menemukan maknanya sendiri, terutama soal optimisme dalam menjalani hidup, sehingga terasa personal. Bentuknya sederhana, tapi maknanya luas dan dalam, membuat lagu ini tetap didengarkan dan dirasa relevan meski sudah lebih dari tiga dekade sejak dirilis, termasuk oleh generasi muda yang baru mengenal Oasis.

Bagiku pribadi, "Live Forever" menjadi semacam anthem saat sedang terpuruk. Lagu ini mengingatkan dengan cara yang hangat, bahwa hidup layak dijalani lebih baik, dengan fokus pada kebahagiaan diri sendiri dan keberanian untuk melangkah maju tanpa terus dibebani keraguan yang kerap muncul. Bahwa masih banyak makanan enak yang belum dicoba, tempat indah yang belum dijelajahi, orang baik yang belum dipertemukan, dan mimpi yang masih mungkin diraih di masa depan, semua itu tidak akan pernah kuketahui jika saya memilih mendewakan pesimisme, yang pada akhirnya berarti memilih menyerah.

Penutup

Lagu ini ditutup dengan penegasan untuk hidup selamanya, semacam janji yang terus diikrarkan, yang akan tagih sendiri saat ingin menyerah dan merasa bahwa apa yang sedang dijalani terasa berat. Pengulangan liriknya di bagian akhir, hingga lagu benar-benar berhenti, terasa seperti penutup yang pas untuk sebuah lagu tentang keyakinan menjalani hidup. Nama besar Oasis mungkin yang mengantar orang untuk pertama kali mendengarkan "Live Forever", tapi keterbukaan makna dan kehangatan pesannyalah yang membuat lagu ini terus dianggap relevan dan dirasa personal oleh pendengar lintas generasi.

Dokumen Pribadi