Konten Media Partner

Perang Ketupat Dipercaya Bisa Mengusir Roh Jahat

Babel Hitsverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ngancak atau sesajen untuk diberikan ke makhluk halus, berisikan nasi ketan, telur, pisang rejang.
zoom-in-whitePerbesar
Ngancak atau sesajen untuk diberikan ke makhluk halus, berisikan nasi ketan, telur, pisang rejang.

Ribuan masyarakat berduyun - duyun memadati, Pantai Kuning Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat (Babar), Provinsi Bangka Belitung (Babel). Mereka ingin meramaikan tradisi tahunan yang disebut dengan tradisi adat Perang Ketupat.

Perang ketupat ini biasanya di laksanakan pada tanggal 15 Sya’ban atau minggu ketiga di bulan tersebut. Untuk tahun ini Perang Ketupat digelar pada Minggu (28/4/2019).

Layaknya medan pertempuran para ksatria yang ikut ambil bagian dalam perang ketupat ini terlibat perperangan. Namun bedanya, senjatanya yang digunakan yakni ketupat beras terbuat dari daun kelapa yang sudah disiapkan oleh panitia pesta adat.

Ketupat yang akan digunakan para ksatria untuk berperang.

Sebelum pertempuran terjadi, terlebih dahulu dilakukan ritual adat yang di pimpin oleh tiga juru kunci. Ketiga Juri kunci akan memimpin ritual dengan membaca "mantra" ke "Ngancak" atau lebih dikenal dengan sesajen.

Tiga dukun tersebut adalah dukun darat, dukun laut dan dukun tua. Ketiganya akan memanggil makhluk halus yang mendiami daratan Tempilang. Kemudian makhluk-makhluk ini diberi makan berupa sesajen yang sudah diletakkan pada rumah-rumahan dari kayu yang disebut Penimbong. Penimbong diletakan di bibir pantai. Para makhluk halus tersebut dipercaya akan menjaga kampung dari kekuatan roh jahat.

Ksatria mulai mengambil ketupat untuk kemudian saling berperang satu sama lain.

Sebagai penutup Ngancak, para dukun akan memberi sesaji berupa nasi ketan atau yang sering disebut Bu’ Pulot, telur yang sudah direbus dan pisang rejang. Semua sesaji diletakkan diatas batu karang tak jauh dari bibir Pantai Pasir Kuning, tempat diselenggarakan Perang Ketupat.