Konten dari Pengguna

KKN di Tengah Kota: Mahasiswa UNS Bantu Wujudkan Kampung Iklim Keprabon

Badriyatus Salma

Badriyatus Salma

Mahasiswa S1 Hubungan Internasional UNS

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Badriyatus Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN UNS berfoto bersama tokoh masyarakat dan Tim Pengurus Proklim RW 1  Kelurahan Keprabon. (dokumentasi oleh penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN UNS berfoto bersama tokoh masyarakat dan Tim Pengurus Proklim RW 1 Kelurahan Keprabon. (dokumentasi oleh penulis)

Surakarta – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang biasanya identik dengan pedesaan, kini merambah hingga ke pusat kota. Hal itu terlihat dari inisiatif mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam KKN Kelompok 130. Melalui skema Kemitraan, mereka melaksanakan program KKN di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan keterlibatan akademisi dalam mendukung Program Kampung Iklim (Proklim), yang bertujuan mewujudkan kawasan perkotaan yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Kelurahan Keprabon sendiri merupakan wilayah yang baru merintis program Proklim. RW 1 di kelurahan ini bahkan sudah membentuk tim pengurus Proklim untuk memulai langkah awal menuju kampung iklim. Kelompok mahasiswa KKN yang terdiri dari 10 orang lintas fakultas, FISIP, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Teknik mengusung tema “Identifikasi Kelurahan Keprabon Menuju Kampung Wisata dan Kampung Iklim.” Tema ini berangkat dari potensi lokal Keprabon yang telah memiliki Kampung Wisata Ngarsoprojo dan sentra Kuliner Keprabon, sekaligus peluang menjadikan RW 1 sebagai kampung iklim rintisan.

Bapak Damas, selaku Kasi Pembangunan Kelurahan Keprabon memberikan sambutan dan arahan kepada mahasiswa KKN UNS. (dokumentasi oleh penulis)

Kasi Pembangunan Kelurahan Keprabon, Damas Aji Nugroho, S.Psi, menyampaikan bahwa penguatan identitas Keprabon harus dilakukan secara hati-hati. “Salah satu tantangan kami adalah memastikan identitas Kelurahan Keprabon sebagai Kampung Wisata dan Kampung Iklim tidak saling tumpang tindih, melainkan dapat saling bersinergi,” ujarnya dalam sambutan pembukaan KKN pada 10 Juli 2025 lalu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa warga Keprabon ingin mengembangkan potensi yang ada secara terpadu, tanpa harus mengorbankan salah satu identitas.

Sebelum menyusun program kerja, mahasiswa KKN UNS melakukan konsultasi dengan warga setempat. Dari diskusi itu, terungkap beberapa kendala yang dihadapi wilayah rintisan Proklim di RW 1, antara lain keterbatasan lahan untuk menanam dan kesulitan memilih jenis tanaman yang tahan dengan kondisi perkotaan. Berangkat dari tantangan tersebut, mahasiswa KKN UNS menggandeng tim pengurus Proklim Keprabon untuk berdiskusi dengan pakar lingkungan yang berpengalaman.

Diskusi menghadirkan narasumber Ibu Warsini, A.MK, tokoh Proklim Desa Bodeyan, Sukoharjo, yang telah berhasil membawa desanya meraih predikat Proklim Lestari. Sejak 2017, ia aktif mendampingi berbagai rintisan Proklim dan menjadi penggerak utama kegiatan lingkungan di desanya. Dalam kesempatan itu, Ibu Warsini membuka forum dengan memaparkan perjalanan Desa Bodeyan menuju predikat Proklim Lestari. Ia menjelaskan berbagai strategi yang dilakukan, mulai dari pengelolaan peresapan air, pemanenan air hujan, hingga penghematan penggunaan air. Selain itu, Bodeyan juga mengembangkan sarana dan prasarana pengendali banjir, menerapkan rancang bangun adaptif untuk pemukiman, menyusun sistem pola tanam yang menyesuaikan iklim, serta melakukan penganekaragaman tanaman pangan guna memperkuat ketahanan pangan warga.

Ibu Warsini menyampaikan materi dalam kegiatan studi banding Kelurahan Keprabon dengan Proklim Percontohan Desa Bodeyan. (dokumentasi penulis)

Lebih jauh, Warsini menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan Proklim Bodeyan adalah sinergi pentahelix yang berkelanjutan. Proklim Bodeyan tidak hanya ditopang oleh pemerintah dan masyarakat, tetapi juga melibatkan berbagai kelompok lokal seperti Gapoktan, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, Petani Milenial, Karang Taruna, Linmas, hingga Bank Sampah. Dukungan juga datang dari pihak swasta, di antaranya CSR PT Internasional Daihatsu Tbk, PT Arah, BPC HIPMI Sukoharjo, dan PT Warna Citra Abadi. Kolaborasi lintas aktor inilah yang membuat Proklim Bodeyan berjalan efektif dan berkesinambungan.

Dari diskusi bersama, muncul berbagai ide praktis yang bisa segera diterapkan di Keprabon. Salah satunya adalah membuat jadwal piket penyiraman tanaman pada vertical garden yang sudah mulai dibangun. Warga juga diajak untuk memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam dengan cadangan air yang ditampung di bawahnya, sehingga tanaman tidak perlu disiram setiap hari. Untuk jenis tanaman, disarankan memilih sayuran yang relatif tahan dan mudah dibudidayakan di lingkungan perkotaan, seperti kembang kol, cabai, hingga kemangi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS bersama warga Keprabon berharap dapat mewujudkan kampung iklim yang bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu bersinergi dengan potensi wisata lokal. Dengan strategi yang tepat dan dukungan multipihak, Kelurahan Keprabon berpeluang besar menjadi contoh sukses bagaimana kawasan perkotaan dapat menyeimbangkan identitas sebagai kampung wisata sekaligus kampung iklim.