Peran Indonesia-Jerman Mendukung Transisi Energi di Negara-Negara Berkembang

Mahasiswa S1 Hubungan Internasional UNS
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Badriyatus Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan iklim bukan lagi soal ancaman masa depan. Kini, ia sudah hadir, nyata, dan mendesak. Gelombang panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan makin sering terjadi, dan semua itu berakar dari satu hal, ketergantungan kita pada bahan bakar fosil.
Menurut laporan Climate Watch and World Resources Institute (2020), bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam menyumbang sekitar 73% dari total emisi gas rumah kaca global. Emisi inilah yang mempercepat laju pemanasan bumi dan bisa membuat dunia melampaui ambang batas aman 1,5°C seperti yang disepakati dalam Perjanjian Paris.
Karena itu, transisi ke energi bersih jadi satu-satunya jalan keluar. Energi terbarukan dan efisiensi energi tidak boleh hanya sekedar jargon, tapi jadi kunci penting dalam mewujudkan target pembangunan berkelanjutan, terutama poin SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Komitmen Indonesia: Dari JETP sampai CIPP
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memegang peran penting dalam transisi energi global. Salah satu langkah konkretnya adalah penandatanganan Just Energy Transition Partnership (JETP) pada KTT G20 di Bali, November 2022 lalu. Lewat kemitraan ini, negara-negara G7 dan mitra lain seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa menjanjikan pendanaan sebesar 20 miliar dolar AS untuk mendukung transisi energi di Indonesia. Tujuannya jelas untuk mempercepat peningkatan kapasitas energi terbarukan dan menjamin transisi yang adil bagi pekerja serta masyarakat yang terdampak.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia meluncurkan dokumen Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) pada November 2023. Dokumen ini berisi peta jalan detail soal kebijakan, kebutuhan investasi, dan strategi pendanaan untuk mencapai target energi hijau hingga 2030. Target ini termasuk penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 23–25 GW, penguatan jaringan transmisi, hingga pengurangan emisi karbon sebesar 29% (mandiri) sampai 41% (dengan dukungan internasional).
Indonesia Jadi Contoh melalui Program ENTRI
Menariknya, Indonesia tidak hanya bicara soal target nasionalnya saja. Negara ini juga aktif jadi motor penggerak di kawasan negara berkembang lewat kerja sama Renewable Energy Mini-Grids for South-South Triangular Cooperation (ENTRI).
Program ENTRI digagas oleh Jerman lewat GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dan dijalankan bersama Indonesia sebagai mitra utama. Diluncurkan pada Januari 2023 dan berlangsung hingga 2025, program ini fokus pada pengembangan sistem energi terdesentralisasi seperti mini-grids surya dan mikro-hidro untuk negara-negara berkembang.
Sebagai pivotal partner, Indonesia membagikan pengalamannya dalam elektrifikasi pedesaan seperti lewat program Desa Mandiri Energi dan kerja sama dengan PLN. Sementara GIZ berperan sebagai facilitating partner dengan memberikan dukungan teknis dan pendanaan. Negara-negara penerima manfaat (beneficiary) seperti Nepal, Madagaskar, Kenya, dan Afghanistan menjadi mitra belajar dalam skema ini.
Skema kerja sama triangular ini menekankan prinsip kesetaraan dan saling belajar, berbeda dari pendekatan donor–resipien konvensional. Itulah mengapa ENTRI dinilai relevan dan efektif untuk negara-negara dengan tantangan serupa dalam mengembangkan energi bersih.
Jejak Nyata Program ENTRI
Hingga kuartal III 2023, program Renewable Energy Mini-Grids for South-South Triangular Cooperation in Indonesia (ENTRI) telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat kapasitas teknis dan memperluas kerja sama energi terbarukan antara Indonesia, Jerman, dan negara-negara mitra di Global South. Program ini berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan, termasuk pertemuan komite pengarah, kunjungan pertukaran, dan diskusi kelompok terfokus yang melibatkan lebih dari 50 profesional energi dari negara-negara penerima manfaat.
Nepal: Integrasi Mini-Grid dan Pengelolaan Limbah
Pada Mei 2024, Indonesia, Nepal, dan Jerman meluncurkan kerja sama South-South Triangular Cooperation (SSTC) dalam bidang energi terbarukan terdesentralisasi. Fokus utama program ini adalah integrasi mini-grid ke jaringan nasional dan pengembangan teknologi waste-to-energy. Program ini juga menekankan pemberdayaan perempuan dalam sektor energi terbarukan. Delegasi Nepal menyambut baik inisiatif ini dan berharap dapat mereplikasi praktik terbaik dari Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan di komunitas terpencil.
Madagaskar: Pengembangan Mikrohidro dan Kunjungan Studi
Pada November 2023, delegasi Madagaskar yang terdiri dari perwakilan Kementerian Energi dan Hidrokarbon (MEH), Agence de Développement de l'Électrification Rurale (ADER), dan Office de Régulation de l'Électricité (ORE) melakukan kunjungan studi ke Indonesia. Mereka mengunjungi fasilitas mikrohidro seperti Heksa Hydro dan PLTMH Gunung Halu di Bandung, serta mengikuti pelatihan teknis yang mencakup aspek mekanikal, elektrikal, dan geospasial dalam perencanaan mikrohidro. Delegasi Madagaskar menunjukkan ketertarikan kuat untuk mereplikasi pendekatan tersebut di desa-desa terpencil di wilayah Atsimo-Andrefana dan Haute Matsiatra.
Kenya: Penguatan Kapasitas Geotermal
Pada November 2024, Indonesia dan Kenya mengadakan program pertukaran kerja sama pembangunan energi terbarukan dengan fokus pada energi panas bumi. Program ini merupakan bagian dari Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) yang bertujuan meningkatkan penggunaan energi terbarukan secara berkelanjutan dan inklusif. Delegasi Kenya mempelajari praktik terbaik Indonesia dalam pengembangan energi panas bumi, termasuk kunjungan ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dan Green Hydrogen Plant (GHP). Program ini juga menekankan pemberdayaan perempuan, dengan partisipasi 13 delegasi perempuan dari Kenya.
Afghanistan: Partisipasi dalam Pertukaran Pengetahuan
Meskipun informasi spesifik mengenai dampak program ENTRI di Afghanistan terbatas, Afghanistan telah terlibat dalam sesi pertukaran pengetahuan daring yang diselenggarakan oleh mitra Indonesia dan Jerman. Keterlibatan ini membuka peluang bagi Afghanistan untuk mengembangkan energi terbarukan berskala kecil di wilayah pegunungan, meskipun menghadapi tantangan geografis dan stabilitas.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Program ENTRI?
Program ENTRI menunjukkan bahwa kerja sama berbasis kesetaraan antar negara berkembang mampu menghasilkan inovasi energi terbarukan yang kontekstual dan berkelanjutan. Model kerja sama triangular seperti ini terbukti efektif dalam mendukung transisi energi, terutama bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan serupa. Pendekatan berbasis saling belajar antar mitra Selatan memungkinkan proses transfer teknologi dan pengetahuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, efisien, dan berdampak jangka panjang.
Namun demikian, agar program ini tidak berhenti pada kegiatan simbolik seperti pertukaran delegasi dan kunjungan studi semata, perlu ada upaya lanjutan untuk memperkuat dampaknya di lapangan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan modul pelatihan teknis yang distandardisasi namun fleksibel untuk diadaptasi oleh masing-masing negara penerima manfaat. Selain itu, pembentukan gugus tugas regional lintas negara mitra dapat menjadi langkah strategis untuk memantau implementasi proyek, mengatasi hambatan lokal, serta mempercepat replikasi model energi terdesentralisasi di wilayah lain yang lebih membutuhkan.
