Konten dari Pengguna

QRIS Bikin Boros? Ini Cara Mengendalikan Pengeluaran Belanja Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagas Aria Adriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu menyerahkan selembar uang kertas ke orang lain? Kopi pagi, ongkos parkir, makan siang, sampai gorengan di pinggir jalan, sekarang semuanya bisa dibayar cukup dengan sekali scan. Nggak ada uang yang berpindah tangan, nggak ada recehan yang dihitung ulang. Yang tersisa cuma notifikasi singkat di layar ponsel.

Kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) benar-benar mengubah cara kita bertransaksi. Menurut data Bank Indonesia (BI), transaksi QRIS pada semester I 2026 tembus 12,55 miliar, naik sekitar dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini jadi bukti kalau pembayaran digital makin berkembang. Tapi, di balik kepraktisannya, ada satu pertanyaan yang menggelitik: makin gampang bayar, jangan-jangan makin gampang juga uang keluar tanpa kita sadari?

Sensasi Keluar Uang yang Ikut Menghilang Saat Menggunakan QRIS

Dalam psikologi ekonomi, ada konsep yang disebut pain of paying, yaitu rasa nggak nyaman yang muncul saat kita harus mengeluarkan uang. Konsep ini dibahas oleh Drazen Prelec dan George Loewenstein pada 1998. Kalau bayar tunai, kita bisa lihat langsung uang berpindah tangan dan sadar isi dompet jadi berkurang. Tanpa disadari, pengalaman itu ikut membantu kita menahan diri buat belanja.

Beda dengan tunai, bayar pakai QRIS berlangsung cepat tanpa perlu menyerahkan uang secara fisik. Akibatnya, rasa “kehilangan uang” jadi berkurang. Kita mungkin nggak terlalu mikirin pengeluaran Rp15.000 buat kopi atau Rp10.000 buat parkir, karena transaksinya terasa sepele dan nggak langsung bikin kantong terasa berat.

Bukan berarti semua pengguna QRIS pasti jadi boros, ya. Tapi, makin kecil hambatan psikologis saat membayar, makin mudah kita tergoda buat beli sesuatu secara spontan.

Proses pembayaran digital menggunakan QRIS pada layar tablet kasir saat bertransaksi di kedai kopi.

Pengeluaran Receh, Dampaknya Nggak Receh

Masalah lainnya datang dari kebiasaan menyepelekan transaksi kecil. Dalam konsep mental accounting yang diperkenalkan Richard Thaler, manusia cenderung mengelompokkan uang ke dalam kategori-kategori tertentu di kepalanya. Hasilnya, pengeluaran kecil sering dianggap nggak penting dan nggak dihitung serius.

Padahal, kebiasaan beli minuman, pesan makanan, atau belanja dadakan bisa menumpuk jadi pengeluaran yang lumayan besar. Apalagi kalau tiap transaksi cuma butuh beberapa detik, kita gampang banget lupa sudah berapa banyak uang yang keluar.

Makin parah kalau pembayaran digital datang bareng promo, diskon, dan berbagai penawaran menggiurkan. Kita bisa tergoda beli bukan karena benar-benar butuh, tapi karena merasa lagi dapat untung.

Transaksi Makin Mudah, Kesadaran Finansial Pengguna Bagaimana?

Kalau dilihat dari kacamata Sistem Informasi Manajemen, teknologi pembayaran digital sebenarnya bisa mencatat dan menyimpan data transaksi, sehingga penggunanya bisa memantau keuangannya sendiri. Tapi, punya riwayat transaksi bukan berarti kita otomatis sadar sama pola pengeluaran sendiri.

Kalau cuma dicek sesekali, kita berisiko telat sadar dengan kebiasaan belanja sendiri. Jadi, masalahnya bukan cuma soal sistem yang bisa mencatat transaksi, tapi juga soal bagaimana kita memanfaatkan informasi itu untuk mengambil keputusan keuangan.

Saatnya Pegang Kendali Lagi

QRIS bukan biang kerok utama perilaku boros. Pada dasarnya, teknologi ini hadir untuk memudahkan transaksi. Tapi, kemudahan itu perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan kesadaran finansial.

Kamu bisa mulai dari hal-hal sederhana: rutin cek riwayat transaksi, bikin batas pengeluaran harian, pisahkan saldo untuk kebutuhan dan keinginan, dan pikir ulang sebelum membeli sesuatu yang nggak mendesak. Kebiasaan kecil ini bisa membantu mengembalikan kesadaran yang sering hilang saat transaksi terlalu gampang.

Pada akhirnya, ini bukan soal pilih tunai atau digital, tapi soal bagaimana kita mengendalikan perilaku konsumsi sendiri. Sebab, kemudahan membayar seharusnya bikin hidup lebih praktis, bukan bikin kita kehilangan kendali atas keuangan sendiri.