Konten dari Pengguna

Indikator Lelaki Ideal antara Patriarki dan Tanggung Jawab

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by pexels.com Timur Weber
zoom-in-whitePerbesar
Photo by pexels.com Timur Weber

Indikator lelaki ideal terkonstruksi ulang di tiap era. Pada era ini, perempuan lebih sensitif dengan sifat dominan, posesif, dan superior. Nilai tersebut sering direkatkan dengan konsep patriarki. Sedangkan lelaki ideal justru diasosiasikan dengan komunikasi, kesetaraan, dan keterbukaan kepada pasangan.

Perempuan mengkategorikan jenis lelaki patriarki sebagai lelaki yang tidak ideal dan dijuluki red flag. Namun disaat yang sama, ada ekspektasi lelaki untuk bertanggung jawab seperti menafkahi keluarga, memiliki inisiatif, dan menentukan arah rumah tangganya. Jadi apakah sebenarnya ekspektasi lelaki tanggung jawab adalah sisa dari konstruksi patriarkal?

Secara historis, peran lelaki sebagai pencari nafkah, pemimpin, dan pelindung dekat dengan konstruksi gender patriarkal. Ketika masyarakat memiliki kesadaran tentang kesetaraan gender, muncul sebuah pemikiran baru bahwa dalam rumah tangga, seorang lelaki itu tidak boleh patriarki. Namun realitanya masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan peran tradisional lelaki sebagai pencari nafkah, pemimpin, dan pelindung.

Lelaki tidak lagi diberikan kekuasaan, tetapi juga masih diharapkan menjadi "lelaki" dalam beberapa hal. Sehingga dalam praktiknya tidak sepenuhnya tradisional dan tidak pula sepenuhnya egaliter. Terdapat ruang samar antara peran lelaki dalam konteks tradisional dan egaliter. Secara ideologi, patriarki ditolak, tetapi perannya masih diharapkan.

Permasalahannya adalah bukan peran lelaki dalam menjalankan tanggung jawabnya, tetapi apakah peran itu menjadi alasan berkuasa. Karena peran tradisional lelaki itu menafkahi keluarga, tetapi bukan berarti bebas memiliki kuasa. Menjadi pemimpin juga bukan berarti selalu benar. Dalam pengambilan keputusan juga bukan berarti menghilangkan suara pasangan. Konteks ini membawa kita kepada peran tradisional dapat menjadi tanggung jawab apabila tidak disisipi dengan superioritas. Lelaki memiliki peran dan tanggung jawab tidak sama dengan memiliki kuasa penuh.

Photo by Alexa Popovich from Pexels

Tanggung jawab menjadi indikator yang penting untuk menentukan lelaki itu ideal atau tidak di era sekarang. Tanggung jawab yang dimaksud adalah memenuhi kebutuhan seseorang, dalam ajaran Islam tugas lelaki yaitu pemberi nafkah, pengajar akidah, dan pembimbing. Hal ini dapat menjadi bentuk cinta, namun di sisi lain juga dapat menjadi alat yang halus untuk membenarkan kekuasaan. Tanggung jawab menafkahi dapat bergeser menjadi "karena saya memberi nafkah, maka kamu harus nurut.", "karena saya melindungi, maka saya berhak menentukan hidupmu.", atau "karena saya kepala keluarga, maka keputusan saya adalah mutlak." Pada titik ini, tanggung jawab mulai kehilangan bentuk cinta dan beralih menjadi legitimasi dominasi.

Untuk menghilangkan dominasi, maka diperlukan upaya kesetaraan. Namun kesetaraan ini bukan berarti menghapus peran secara total, melainkan membatasi peran tersebut agar tidak menjadi kekuasaan. Sikap egaliter dapat menjadi alternatif karena dapat menghadirkan komunikasi, toleransi, dan menjunjung tinggi kesetaraan. Tetapi egaliter jangan dipandang sebagai penentuan peran yang harus sama 50:50. Egaliter dapat menjadi stabilitas ideologi bahwa lelaki masih dapat menjalankan peran tertentu, tapi pelaksanaannya mengakui pasangan sebagai subjek, bukan bawahan. Sehingga perbedaan peran tidak lagi menghasilkan perbedaan hak untuk mendominasi.

Photo by pexels.com M Münzevi

Namun apakah kita bisa menilai lelaki itu patriarki atau egaliter dengan mudah? Dalam realitas yang kompleks, keduanya dapat bersangkar pada satu lelaki pada situasi yang berbeda. Misalnya lelaki itu masih menganggap pemberian nafkah, pemimpin, dan pelindung itu adalah tanggung jawab. Namun dalam praktiknya ia tetap menerima kritik dan diskusi kepada pasangannya. Pada konteks ini, unsur tradisional dan egaliter hidup berdampingan.

Sebenarnya lelaki bagaimana yang dapat disebut sebagai lelaki ideal? Persoalan mendasarnya adalah bukan lelaki itu adalah patriarki atau egaliter, tetapi bagaimana konstruksi sosial membentuk ekspektasi tentang peran lelaki. Lelaki ideal tidak harus dipahami harus patriarki atau egaliter sepenuhnya, ia berada dalam negoisasi antara peran, tanggung jawab, dan kekuasaan. Lelaki ideal dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya tanpa berasumsi bahwa hal itu dapat memberikannya kekuasaan penuh.