Istana dan Harta Bukan Sumber Kebahagiaan

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istana adalah bangunan yang begitu megah dan mewah, yang biasa diimpikan oleh banyak orang. Banyak yang menggambarkan bahwa kehidupan di istana adalah menyenangkan dan serba tidak kesusahan. Dalam konteks yang lebih lokal, kita beralih dari Istana menuju Keraton.
Keraton adalah istana namun dalam konteks yang lebih lokal, yaitu kediaman raja dan ratu di Jawa. Umumnya Keraton ini sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, pendidikan, dan semacamnya. Dari sini telah tampak bahwa Keraton adalah tempat yang begitu ideal karena sangat strategis.
Pada umumnya, kehidupan di Keraton dan di luar Keraton memiliki perbedaan yang kontras. Ketika Keraton menjadi tempat raja dan ratu mendapatkan kemewahannya, hidangan yang lezat, dan fasilitas yang memadai, di luar Keraton justru hanya menjadi tempat tinggal rakyat biasa yang sederhana. Kehidupannya begitu kontras, ketika raja dan ratu dilayani berbagai pelayan, rakyat biasa justru harus bekerja keras untuk sesuap nasi.
Jika kita membicarakan Keraton, khususnya Yogyakarta, maka tidak lepas dari nama Sultan Hamengkubuwono. Diantara salah satu anak dari Sultan Hamengkubowono VII adalah Ki Ageng Suryomentaram, sebagai pangeran Keraton. Ki Ageng Suryomentaram atau KAS lahir dengan dianugerahi kemewahan dan fasilitas yang tersedia di Keraton.
Namun anugerah itu tidak dapat mententramkan hatinya, justru membuat ia gelisah tak karuan. Satu saat, KAS keluar dari Keraton dan melihat beberapa rakyat biasa yang bertani. KAS melihat bahwa kehidupannya begitu bahagia walau dengan kesederhanaan.
Ketika banyak orang justru ingin naik kelas sosial, KAS justru turun kelas sosial. Semula KAS menjadi pangeran Keraton, ia justru memilih untuk memnjadi rakyat biasa dan tinggal di desa dengan kesederhanaan. Pada saat itu ia mendapatkan kesadaran batin dan berhasil melepas segala kegelisahannya selama di Keraton.
Maka tidak heran, konsep Kramadangsa menjadi konsep yang dibawa oleh KAS begitu kental dengan pengalaman spiritual lokal. KAS memiliki konsep Kawruh Begja sebagai pengalamannya dalam mencari kebahagiaan. Salah satu kesadaran yang dihasilkan adalah menyadari kehadiran Kramadangsa sebagai atribut pelengkap dan perlu dilepaskan. Itulah yang membawa seseorang pada kebahagiaan.
