Konten dari Pengguna

Menangkal Egoisme dengan Melepas Kramadangsa (Ki Ageng Suryomentaram)

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ego. Photo by @victormoragriega From Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ego. Photo by @victormoragriega From Pexels.

Egoisme adalah tingkah laku yang dilandaskan pada keuntungan pribadi. Jika telah membicarakan keuntungan pribadi, maka secara otomatis menihilkan kesejahteraan orang lain. Hidup orang lain tidak lagi dipandang memiliki makna.

Egoisme seringkali dipandang sebagai tindakan yang mengarah pada keserakahan. Namun pada waktu yang bersamaan, egoisme juga merupakan alat pertahanan diri dalam konotasi negatif. Egoisme menjadi bentuk lain dari memiliki rasa takut kehilangan, baik takut kehilangan kuasa, kehilangan pengakuan, kehilangan keamanan, dan lainnya.

Egoisme tersebut berkaitan dengan ancaman dari pihak luar diri yang dianggap sebagai ancaman kepada diri. Padahal ancaman ini tidak serta merta menyerang diri yang sejati. Ancaman luar ini hanya menyasar pada atribut yang melekat pada diri yang sejati, itu yang diistilahkan oleh Ki Ageng Suryomentaram sebagai Kramadangsa.

Jika disederhanakan, Kramadangsa adalah sifat keakuan berupa identitas, kepentingan, dan segala hal yang berkaitan dengan diri sendiri. Istilah tersebut dekat dengan egoisme, yang hanya mementingkan diri sendiri. Maka dari itu, penangkal egoisme adalah dengan menyadari Kramadangsa dan melepasnya.

Melepas Kramadangsa bukan berarti kehilangan identitas, menjadi manusia tanpa kepentingan, dan tidak memiliki kehormatan. Menyadari Kramadangsa dan melepasnya berarti memahami bahwa identitas, kepentingan, kehormatan, dan keakuan lainnya bukanlah hakikat diri. Dengan melepas Kramadangsa, manusia tidak lagi diperdaya dengan ketakutan dan segala bentuk yang dianggap mengancam diri.

Ilustrasi Terbebas dari Kramadangsa. Photo by Pixabay

Membebaskan Kramadangsa berdampak kepada kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu manusia yang sejati, manusia yang bebas. Bebas dari obsesi validasi, bebas dari ambisi mempertahankan citra, dan bebas dari segala bentuk ketakutan spekulatif. Dengan melepaskan ketakutan yang sifatnya spekulatif meminimalisir tindakan agresif dan segala tindakan yang dibakar oleh egoisme.