Kemunculan Sastra Siber di Indonesia

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemunculan sastra siber berbarengan dengan masuknya internet di Indonesia yaitu tahun 1990-an. Permulaan ini menuai pro dan kontra dalam dunia sastra karena sastra siber adalah bidang ilmu sastra yang terbaru. Sastrawan konvensional masih berpegang teguh dengan sastra haruslah berbentuk buku fisik, bukan tulisan di internet. Tetapi, sebagian orang lainnya menjadikan internet adalah wadah baru, tempat berkembangnya karya sastra yang efektif dan efisien.
Sastra siber mendapatkan perhatian dan dukungan oleh Yayasan Multimedia Sastra (Bandung) yang menerbitkan buku Graffiti Gratitude pada 2001. Buku itu adalah kumpulan puisi dari internet baik Yahoo dan cybersastra.net. sekumpulan karya di internet tersebut dihimpun menjadi buku cetak yang diterbitkan pada 9 Mei 2001 dengan sebutan Gra-Gra.
Dalam peluncuran buku Gra-Gra dihadiri oleh W.S Rendra dan Soetardji. Pada peluncuran itu juga, Usman Suharjo mencetuskan usul bahwa pada 9 Mei itu dijadikan hari sastra siber Indonesia. Namun sayangnya, usul tersebut belum dapat diresmikan secara nasional.
Kemudian pada 2002, Yayasan Multimedia Sastra (Bandung) kembali melakukan pergerakan di bidang sastra siber. Kini, penerbit itu memiliki konsep baru untuk mendongkrak eksistensi sastra siber yang berbentuk CD (cakram padat atau compact disk) hasil dari penafsiran puisi menjadi gerak dengan Salindia. Kreativitasnya melahirkan satu produk baru yang berjudul Cyberpuitika.
Jika diperhatikan, kedua bentuk dukungan terhadap sastra siber memiliki dua langkah yang berbeda. Pertama, menghimpun karya sastra di internet baik Yahoo atau cybersastra.net. Sedangkan kedua, menafsirkan puisi di Internet dan mengubahnya menjadi bentuk baru yaitu CD dengan gerak melalui salindia. Bentuk pertama terkesan mengubah bentuk dari sastra digital menjadi konvensional saja (digital ke buku fisik). Sedangkan yang kedua, lebih kental inovasi modern dengan menggunakan CD dan salindia (digital - digital).
Dari awal kemunculan ini, banyak menuai pro dan kontra tentang sastra siber dan pemaknaanya. Merujuk pada pendapat Saut Situmorang, yang dapat dikatakan sastra siber adalah sastra yang diterbitkan secara cetak dan diumumkan kembali secara digital. Namun di sisi lain, sastra siber dipandang sebagai sebuah karya sastra yang lahir dalam bentuk digital.
Perihal definisi sastra siber, masih terdapat kerancuan dan kontroversi. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah jika karya sastra diterbitkan secara digital dan dicetak termasuk sastra siber? Apakah sastra cetak yang dipublikasikan secara digital apakah termasuk sastra siber? Apakah kedudukan sastra cetak lebih tinggi dari sastra siber?
Kontroversi ini menimbulkan berbagai macam stigma. Terlebih, masih ada dualisme pendapat tentang sastra tersebut. Ada yang mengatakan bahwa sastra itu bentuknya harus fisik (konvensional) dan pendapat lain mengatakan bahwa sastra siber adalah sastra yang dipublikasikan dengan bentuk baru (digital).
