Makna Literasi di Tengah Ritual Gulir Era Media Sosial

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi bukan berarti sebatas membaca, melainkan juga memahami konteks. Di era modern, proses literasi kian berkembang dari teks tulis menjadi lisan dan pada era media sosial berbentuk vidio dengan narasi tertentu. Dalam hal ini, kemampuan literasi dibutuhkan untuk memahami konteks vidio singkat yang instan didapatkan oleh pengguna media sosial.

Media sosial yang lebih dominan memiliki konten berupa vidio singkat, membuat budaya masyarakat menjadi adaptif. Pengguna media sosial memiliki budaya yang baru yaitu scrolling atau ritual gulir. Hal ini dipengaruhi karena banyaknya informasi berupa konten yang dapat diakses dengan instan.
Permasalahan utama dari lahirnya budaya baru (ritual gulir), menimbulkan pertanyaan besar tentang kemampuan literasi. Apakah dengan mendapatkan informasi serba instan dapat menajamkan literasi atau justru sebaliknya?
Pada kenyataannya, ritual gulir berdampak kepada hasrat ingin mengetahui mengetahui formasi secepat-cepatnya. Budaya ini jika tidak diolah secara bijak, maka tentu akan mengurangi proses memaknai suatu konten. Sehingga, konteks dari suatu konten akan menjadi bias dan tidak terang. Fokus utamanya adalah melakukan ritual gulir secepat-cepatnya dan mendapatkan informasi baru dengan instan tanpa memikirkan lebih jauh konteks di belakangnya.
Padahal, fenomena ini dapat dijadikan sebagai alat pembingkaian atau framing. Sehingga, jika tidak dapat mengolah data dari konten dengan bijak akan mudah terbawa arus pembingkaian tanpa memahami konteks dan makna sebenarnya. Maka dari itu, makna literasi perlu dihayati lagi dengan memikirkan makna lain pada suatu konten agar mendapatkan maksud yang utuh dan terhindar dari salah persepsi.
