Mewujudkan Ekspektasi Tanpa Sakit Hati

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mewujudkan ekspektasi adalah idaman setiap orang. Ekspektasi dapat menjadi kebahagiaan, tapi juga berpeluang mendapatkan kesedihan. Hal ini dikarenakan tidak ada yang dapat menjamin ekspektasi itu dapat terwujud atau tidak.
Untuk meminimalisir sakit hati, ekspektasi harus relevan dengan potensi diri. Karena jika kita hanya mengandalkan keberuntungan, peluang terwujudnya justru akan menipis. Jika pepatah mengatakan, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." maka jangan lupa tentang usaha dan prosesnya.
Cita-cita adalah tujuan, ekspektasi adalah harapan, sedangkan yang bisa dilakukan adalah mewujudkannya. Bagaimana caranya? apakah hanya sekedar angan-angan belaka? rasanya tidak.
Cita-cita boleh kita gantungkan setinggi langit. Ekspektasi kita olah menjadi tangga. Jadi, apabila ada satu tangga yang membuat kita tergelincir, maka sakitnya tidak seberapa. Dari seratus tangga menuju cita, kita jatuh di tangga yang ke 64 misalnya. Artinya kita telah melewati 62 anak tangga dan berada pada tangga ke-63. Dengan membuat ekspektasi seperti tangga, jatuhnya kita tidak menjadi sia-sia alias tetap memiliki kesadaran bahwa telah mencapai beberapa tangga ekspektasi.
Jika kita tidak menaruh tangga ekspektasi dan langsung kepada cita-cita, bisa saja di ketinggian tertentu tergelincir dan merasa terjun bebas. Kegagalan ini bisa saja membawa kita kepada penyesalan dan akhirnya merasa bahwa semua sia-sia. Padahal sudah panjang proses yang telah dilalui. Namun kesadaran itu terdistraksi oleh ketiadaan tangga ekspektasi.
Jangan lupakan bahwa kebiasaan kecil dapat membawa perubahan besar. Begitu juga ekspektasi yang kecil dapat mengarahkan kepada cita yang besar. Tapi bagaimanapun juga, kehidupan ini tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Itu yang perlu dipahami.
Sekalipun kehidupan tidak menjamin kepastian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan baik. Sakit hari dapat diminimalisir dengan manajemen perasaan, pikiran, dan energi. Sebagaimana analogi di atas, dengan menciptakan tangga ekspektasi yang kecil-kecil akan lebih memudahkan kita dalam melangkah dibanding mendaki tangga yang tinggi dan curam.
Strategi tersebut dapat mengurangi beban perasaan, pikiran, bahkan energi. Tiap tangga yang dilangkahi, menumbuhkan kesadaran. Setiap ekspektasi yang dipenuhi, melahirkan kebahagiaan. Setidaknya, ekspektasi dapat diwujudkan tanpa perlu sakit hati.
