Konten dari Pengguna

Mengapa Remaja Putri Harus Menjadi Titik Awal Pencegahan Stunting?

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini pembicaraan mengenai stunting hampir selalu dimulai dari ibu hamil, bayi, atau balita. Posyandu diperkuat, pemberian makanan tambahan digencarkan, dan berbagai intervensi dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Semua langkah tersebut memang penting. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa kita baru bergerak ketika seorang perempuan sudah menjadi ibu?

Padahal, stunting sesungguhnya tidak lahir di ruang bersalin. Ia tumbuh jauh sebelumnya, bahkan sejak seorang anak perempuan memasuki masa remaja. Ketika seorang remaja putri mengalami anemia, kekurangan energi kronis, memiliki pola makan yang buruk, atau menikah pada usia terlalu muda, sesungguhnya fondasi lahirnya generasi yang berisiko stunting sedang dibangun. Dengan kata lain, pencegahan stunting yang sesungguhnya dimulai dari remaja putri.

Indonesia patut bersyukur karena prevalensi stunting terus menunjukkan tren penurunan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat angka stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023. Pemerintah bahkan menargetkan angka tersebut turun menjadi 14,2 persen pada 2029. Capaian ini tentu menggembirakan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa hampir satu dari lima balita Indonesia masih mengalami stunting. Artinya, pekerjaan besar belum selesai.

Persoalannya, selama ini pendekatan kita masih terlalu berorientasi pada "mengobati akibat", bukan "mencegah penyebab". Banyak program baru hadir ketika seorang perempuan telah hamil. Padahal kualitas kehamilan sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu jauh sebelum pembuahan terjadi.

Dalam ilmu kesehatan masyarakat dikenal konsep life cycle approach atau pendekatan siklus kehidupan. Artinya, kualitas seorang anak dipengaruhi oleh kualitas kesehatan perempuan sejak remaja. Remaja putri yang mengalami anemia akan memiliki cadangan zat besi yang rendah. Saat memasuki kehamilan, risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah meningkat. Bayi yang lahir kecil memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan hingga akhirnya menjadi stunting apabila tidak mendapatkan intervensi yang memadai.

Ironisnya, anemia pada remaja putri masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Banyak remaja tidak menyadari dirinya mengalami anemia karena menganggap mudah lelah, pusing, atau sulit berkonsentrasi sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, kekurangan zat besi bukan hanya menurunkan prestasi belajar, tetapi juga menjadi investasi buruk bagi kesehatan ibu dan anak di masa depan.

Sayangnya, perhatian terhadap remaja putri masih kalah dibandingkan perhatian terhadap ibu hamil. Padahal investasi yang dilakukan pada usia 12 hingga 18 tahun jauh lebih murah dan lebih efektif dibandingkan memperbaiki kondisi ketika seorang perempuan telah memasuki masa kehamilan.

Karena itu, pencegahan stunting seharusnya dibangun di atas tiga fondasi utama.

Pertama, membangun status gizi remaja putri. Tablet tambah darah tidak boleh dipandang sebagai program pembagian obat semata. Program ini harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan sekolah, keluarga, pesantren, organisasi kepemudaan, hingga media sosial. Edukasi mengenai konsumsi protein hewani, zat besi, asam folat, serta pola makan seimbang harus menjadi bagian dari pendidikan kesehatan remaja.

Kedua, menyiapkan kesehatan reproduksi sejak dini. Banyak remaja memahami perubahan fisik saat pubertas, tetapi belum memahami hubungan antara kesehatan reproduksi, kesiapan menjadi ibu, dan kualitas generasi berikutnya. Pendidikan kesehatan reproduksi yang berbasis ilmu pengetahuan justru menjadi investasi penting untuk melahirkan generasi yang sehat.

Ketiga, menunda perkawinan usia anak. Pernikahan dini bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat. Tubuh yang belum matang secara biologis memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan maupun melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Pencegahan perkawinan usia anak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi percepatan penurunan stunting.

Selain itu, kita perlu mengubah cara berpikir bahwa stunting hanyalah urusan sektor kesehatan. Sekolah memiliki peran melalui pendidikan gizi. Pemerintah daerah dapat memperkuat kebijakan ramah remaja. Dunia usaha dapat mendukung kampanye hidup sehat. Organisasi keagamaan dapat menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan calon ibu sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keturunan (hifz al-nasl). Keluarga pun memiliki tanggung jawab membangun kebiasaan makan sehat sejak anak perempuan masih duduk di bangku sekolah.

Ke depan, indikator keberhasilan program stunting semestinya tidak hanya diukur dari turunnya prevalensi balita pendek. Kita juga perlu mulai mengukur semakin sedikitnya remaja putri yang mengalami anemia, meningkatnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, membaiknya status gizi remaja, serta menurunnya angka perkawinan usia anak. Sebab indikator-indikator itulah yang sesungguhnya menentukan keberhasilan Indonesia beberapa tahun mendatang.

Membangun generasi unggul tidak dimulai ketika seorang bayi menangis untuk pertama kalinya. Ia dimulai ketika seorang anak perempuan tumbuh sehat, memperoleh gizi yang cukup, memiliki pengetahuan yang benar tentang tubuhnya, serta mendapatkan kesempatan untuk merencanakan masa depannya.

Karena pada akhirnya, pencegahan stunting bukan hanya soal menyelamatkan tinggi badan seorang anak. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjaga kualitas kecerdasan, produktivitas, dan daya saing bangsa. Dan semua itu dimulai dari satu keputusan penting: menempatkan remaja putri sebagai pusat strategi pencegahan stunting, bukan sekadar pelengkap dalam berbagai program pembangunan.