Dia Masih Cinta, Tapi Sudah Tak Punya Energi untuk Romantis

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari lalu, seorang teman mengirim pesan tengah malam. Isinya bukan tentang putus cinta atau selingkuh, tapi sesuatu yang lebih sunyi:
"Aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku tahu dia masih sayang, tapi rasanya… kita cuma hidup bareng, bukan lagi saling merawat."
Kami tidak bicara soal ketidaksetiaan atau konflik besar. Yang ia rasakan justru jauh lebih pelan: kelelahan. Bukan hanya fisik, tapi kelelahan emosional — seperti baterai cinta yang terus dipakai tanpa sempat di-charge.
Dan mungkin, inilah wajah baru hubungan urban di era pasca-pandemi: bukan karena tidak cinta, tapi karena tidak punya energi untuk terus mencintai.
Cinta yang Tergerus oleh Rutinitas Tanpa Akhir
Bayangkan ini:
Pagi bangun buru-buru buat meeting online. Siang makan sambil nge-chat client. Malam lanjut kerja karena deadline mendadak. Jam 10 baru bisa lepas headphone. Pasangan sudah tidur. Besok, ulangi.
Di tengah ritme seperti itu, romantisme sering jadi hal pertama yang dikorbankan. Bukan karena tidak peduli, tapi karena otak dan hati sudah kehabisan kapasitas.
Banyak pasangan saat ini tidak bermasalah dengan komitmen, tapi dengan energi psikologis. Mereka masih ingin memeluk, ingin ngobrol panjang, ingin bikin kejutan kecil — tapi tubuh dan pikiran menolak. "Nanti saja," katanya. Tapi "nanti" itu tak pernah datang.
Dalam psikologi, ini disebut emotional fatigue — kondisi di mana seseorang tetap mampu berfungsi, tapi sudah kehilangan kapasitas untuk memberi emosi secara tulus. Dan dalam hubungan, ini sangat berbahaya. Karena cinta butuh perawatan harian, bukan cuma janji sekali seumur hidup.
WFH yang Melelahkan, Bukan Melembutkan
Awalnya, kerja dari rumah (WFH) terdengar ideal: lebih dekat dengan pasangan, lebih fleksibel. Tapi kenyataannya? Banyak pasangan justru merasa lebih terasing meski tinggal satu atap.
Kenapa? Karena ruang rumah berubah jadi kantor. Meeting Zoom mengganggu waktu bersama. Bahkan saat duduk bersebelahan, mata tertancap pada laptop masing-masing. Tidak ada lagi batas antara “kerja” dan “rumah”. Semuanya menyatu — dan melelahkan.
Sebuah survei oleh The Global Wellness Institute (2023) menunjukkan bahwa 64% pasangan yang WFH melaporkan penurunan kualitas interaksi romantis, bukan karena kurang waktu, tapi karena waktu yang ada dipenuhi stres kerja.
Pasangan bukan lagi tempat pulang, tapi bagian dari lingkungan yang sama-sama menguras.
Romantisme Bukan Kemewahan, Tapi Vitamin Hubungan
Kita sering mengira romantisme itu hal mewah: bunga, liburan, candlelight dinner. Padahal, dalam konteks hubungan modern, romantisme adalah hal-hal kecil yang menyampaikan, “Aku melihatmu", seperti:
Menyeduh kopi untuk pasangan tanpa diminta.
Mengirim voice note lucu di tengah hari.
Memilih duduk berdekatan saat makan, bukan main HP.
Mendengarkan curhatannya tanpa langsung kasih solusi.
Tanpa ritual-ritual kecil ini, cinta tetap ada—tapi seperti tanaman tanpa sinar matahari. Tidak mati, tapi layu perlahan. Dan ironisnya, semakin lelah seseorang, semakin sulit melakukan hal-hal kecil itu. Maka terjadilah siklus setan: capek → tidak romantis → pasangan merasa diabaikan → konflik → tambah stres → makin capek.
Lalu Haruskah Kita Menyerah?
Tentu tidak. Tapi kita perlu mengubah cara pandang. Merawat hubungan di era burnout bukan soal harus selalu romantis atau penuh tenaga. Tapi soal kesadaran dan prioritas.
Beberapa hal yang bisa membantu:
Bicara jujur soal kelelahan. Jangan menyalahkan, tapi katakan: "Aku pengen lebih perhatian, tapi belakangan aku benar-benar habis tenaga."
Buat ‘ritual recharge’ bersama. Bisa sesederhana 15 menit duduk diam tanpa gadget, atau jalan pagi bareng.
Terima bahwa ada musim-musim hubungan yang datar. Tidak apa-apa. Yang penting, masih ada usaha.
Yang paling penting: jangan biarkan kelelahan menjadi alasan untuk berhenti melihat satu sama lain.
Penutup: Cinta Itu Butuh Energi, Bukan Cuma Janji
Kita sering bilang, “Cinta sejati bisa melewati apa saja.” Tapi kenyataannya, cinta juga butuh oksigen, nutrisi, dan istirahat.
Di kota yang terus berlari, di tengah tekanan kerja dan ekspektasi sosial, merawat hubungan adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap rutinitas yang melelahkan, terhadap budaya yang menganggap perasaan sebagai hal sekunder.
Jadi, jika kamu merasa sudah tidak punya energi untuk romantis —
Itu bukan tanda kamu tidak mencintai.
Itu tanda kamu butuh bantuan.
Dan mungkin, pasanganmu butuh hal yang sama.
Karena cinta yang sehat bukan yang tanpa lelah.
Tapi yang mau saling mengisi ulang, bersama.
