2.000 Penari Ditargetkan Meriahkan Car Free Day Dago

BANDUNG, bandungkiwari - Jika Anda berencana menikmati Car Free Day alias hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Dago, Jalan Ir H Djuanda, Bandung, 28 April mendatang, bersiaplah untuk melihat gelaran 2.000 penari Ronggeng Geber Bandung.
Pementasan Ronggeng Geber Bandung di tempat terbuka ini merupakan pembukaan kegiatan "Bandung Ayo Menari 24 Jam" dalam rangka Hari Tari Dunia (World Dance Day) 2019.
Menurut Mas Nanu Muda sebagai koordinator pelaksana dari komunitas Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (MASRI), saat ini sebanyak120 sanggar tari dari 14 Kabupaten dan kota di Jawa Barat akan terlibat dalam pelaksanaan Hari Tari Dunia tersebut.
"Dalam catatan panitia saat ini sudah mencapai 3.000 orang penari Ronggeng Geber Bandung sudah siap mengikuti acara Hari Tari Dunia. Mungkin menjelang hari-hari terakhir jumlah peserta dan kabupaten, kota yang terlibat mungkin akan bertambah," ucap di sela latihan bersama di gedung YPK Bandung, Kamis (7/3).
Acara yang disebar di beberapa titik kawasan Bandung tersebut akan menampilkan 144 repertoar tari, dengan puncak acara menampilkan kegiatan menari selama 24 jam dari berbagai sanggar dan seniman tari Jawa Barat.
Event Hari Tari Dunia yang dilaksanakan 28 April mendatang di kota Bandung, bukanlah kegiatan tari yang diselenggarakan untuk menyaingi acara yang sama di Solo selama 24 jam menari yang rutin diselenggarakan ISI Surakarta.
Namun menurut Nanu Muda sesungguhnya kegiatan di Bandung, sebagai sarana memperkuat dan meramaikan Hari Tari Dunia. Sekaligus mengakomodir sanggar-sanggar tari yang ada di Jawa Barat yang ingin pula memeringati Hari Tari Dunia tersebut.
Untuk menguatkan daya tarik acara tersebut di kota Bandung akan ditampilkan tarian kolosal yang dimainkan para penari dari anak-anak sampai dewasa. Tari yang akan dipentaskan tersebut berjudul "Ronggeng Geber Bandung" diiringi alunan lagu 'Siuh'.
Keseriusan acara tersebut dibuktikan dengan latihan tari yang berkelanjutan selama beberapa bulan oleh para pelatih secara langsung. Selain itu dikenalkan pula pelatihan tata rias penari agar para penari hadir dengan make up yang proporsional.
Tarian 'Ronggeng Geber Bandung' yang akan dipentaskan secara kolosal seperti halnya tarian rakyat lainnya yang berasal dari Jawa Barat. Namun dalam pementasannya Ronggeng Geber menggunakan media hihid atau kipas tradisional berbahan bambu (seperti biasa digunakan pedagang sate), dalam gerakan tariannya.
'Ronggeng Geber Bandung' memang hadir sebagai tarian peringatan Hari Tari Dunia yang sarat dengan makna, terutama terkait dengan kondisi negeri saat ini.
"Ronggeng, adalah penari perempuan dengan menampilkan ketrampilan menari di arena pertunjukan pergaulan. Sedangkan hihid atau kipas adalah alat untuk mengipas atau menggeber dalam bahasa Sunda untuk mendinginkan hawa agar menjadi adem.
Bandung adalah nama kota yang berada di daerah Jawa Barat, juga sebagai ibukota Jawa Barat," tegasnya.
Secara sederhana Nanu Muda menjelaskan 'Ronggeng Geber Bandung' adalah ungkapan semangat Bandung dengan segala kreativitasnya yang senantiasa terus menyala dan terpatri melalui suasana yang selalu hangat.
Acara yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung ini selain untuk memeringati Hari Tari Dunia, pun diharapkan mampu menjadi sarana promosi seni dan budaya kota Bandung, Jawa Barat baik lokal maupun internasional.
Jadi sebaiknya siapkan diri Anda untuk menari bersama para penari 'Ronggeng Geber Bandung' pada 28 April mendatang. (Agus Bebeng)
