Konten Media Partner

Aksi Ratusan Pedemo di Bandung: dari Pelajar, Buruh, Hingga Petani

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa peserta demonstrasi menolak berbagai rancangan undang-undang, salah satunya Revisi UU KPK. (Ananda Gabriel)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa peserta demonstrasi menolak berbagai rancangan undang-undang, salah satunya Revisi UU KPK. (Ananda Gabriel)

BANDUNG, bandungkiwari – Demonstrasi yang menolak RUU KPK, RUU KUHP, RUU Pertanahan, dan RUU Pemasyarakatan di Bandung kembali berlanjut, Selasa (24/9). Kali ini, mahasiswa bergabung bersama pelajar, petani hingga buruh.

Para mahasiswa menggunakan jas almamater mereka. Mereka berasal dari kampus-kampus di Bandung, antara lain, Universitas Pasundan, Universitas Widyatama, Itenas, Universitas Winaya Mukti, dan Universitas Islam Bandung.

Pantauan di lokasi, massa aksi yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Rakyat Menggugat (Alarm) memulai unjuk rasa mereka di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, pukul 10.00 WIB. Awalnya, mereka berjumlah sekitar 200 orang.

Setelah berorasi sekitar setengah jam, peserta aksi bergerak menuju DPRD Jabar di jalan yang sama. Berbagai spanduk dan poster dibentangkan sebagai bentuk protes. Massa semakin bertambah banyak dengan datangnya mahasiswa dari berbagai kampus.

Isu yang diusung peserta aksi masih sama. Mereka menolak pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), UU KPK, RUU Pertanahan, dan RUU Ketenagakerjaan.

Massa aksi juga menyoroti sejumlah persoalan seperti pelemahan KPK oleh pemerintah maupun DPR RI, serta masalah kebakaran hutan yang masih terjadi di sejumlah daerah.

Adanya gelombang aksi, kepolisian mempersiapkan rekayasa lalu lintas. Adapun jika Jalan Diponegoro di depan DPRD ditutup, arus kendaraan diarahkan menuju Jalan Cilamaya dan Sentot Alibasya. Selain itu, aparat keamanan berjaga ketat di dalam halaman Gedung DPRD Jabar.

Hari sebelumnya, Senin (23/9), aksi menolak sejumlah RUU dilakukan ribuan mahasiswa di depan Kantor DPRD Jabar. Aksi ini berakhir ricuh. Aparat kepolisian terpaksa membubarkan massa aksi karena merujuk aturan yang berlaku, aksi unjuk rasa hanya boleh berlangsung hingga pukul 18.00 WIB.

Pantauan di lapangan hingga pukul 20.10 WIB, tidak ada lagi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jabar. Kendaraan yang melintas di Jalan Diponegoro pun sudah bisa melintas. Jalur tersebut sempat ditutup saat peserta massa berunjuk rasa mulai pukul 13.45 WIB tadi.

Sementara petugas keamanan baik dari polisi maupun TNI yang sebelumnya berjaga di sekitar lokasi, juga telah membubarkan diri. Usai demo tersebut, masih terlihat berserakan batu-batu di depan Gedung DPRD Jabar. Batu-batu itu sebelumnya sempat dilempar mahasiswa saat ricuh massa aksi demo. (Ananda Gabriel)