Alasan Mengapa Rumah Karya Soekarno di Bandung Tak Boleh Dibongkar

Rumah kembar karya arsitektur Soekarno di simpang Jalan Malabar-Gatot Subroto, Bandung. (Utara Jaya)
BANDUNG, bandungkiwari – Soekarno dikenal bukan hanya sebagai proklamator dan Presiden pertama RI, melainkan juga arsitek handal yang karya arsitekturnya tersebar di Bandung. Namun catatan resmi arsitektur karya Soekarno masih minim, dan kini salah satu karya yang ada menjadi korban pembongkaran.
Peninggalan Soekarno itu disebut rumah kembar yang berada di simpang Jalan Malabar-Gatot Subroto, Bandung. Salah satu rumah kembar yang di sisi barat Jalan Malabar kini menjadi polemik karena mengalami pembongkaran.
Pembongkaran rumah di Jalan Gatot Subroto Nomor 54 itu dilakukan dengan dalih direnovasi. Masalahnya, bangunan tersebut adalah bagian dari cagar budaya Kota Bandung.
Dalam sejarahnya, bangunan kembar yang dipisahkan oleh Jalan Malabar tersebut berfungsi sebagai gerbang kawasan dan sekaligus menunjukkan integrasi desain bangunan dengan lansekap ruang kota.
Pegiat sejarah Bandung, Ridwan Hutagalung, menyayangkan pembongkaran rumah karya Soekarno itu. Menurut dia, kehadiran bangunan cagar budaya adalah tolak ukur masyarakat mengapresiasi nilai-nilai sejarah sebuah kawasan.
"Nilai pentingnya bukan hanya pada bangunannya, tapi pada apreasiasi karya dari seorang tokoh masyarakat, yang kemudian menjadi tokoh politik dan akhirnya ambil peran penting dalam Kemerdekaan RI ini, bahkan menjadi presiden pertama RI," kata Ridwan Hutagalung, Selasa (23/7/2018).
Jejak-jejak Bung Karno termasuk karyanya selama di Bandung, kata dia, perlu untuk dipelihara. Hal itu dilakukan agar masyarakat sekarang bisa belajar apa saja yang pernah dilewatkan dan dilakukan oleh Soekano sebelum akhirnya dikenal sebagai Presiden RI. Bukan malah menutup bagian dari jejaknya.
"Walaupun saat ini informasi spesifik tentang karya-karya Bung Karno belum banyak dikenal, tapi kalau jejaknya masih ada, kita masih bisa berharap banyak akan ada penelitian lebih lanjut nanti oleh generasi yang lebih baru," ujar pendiri komunitas pecinta sejarah Aleut.
Ridwan menjelaskan, arsitektur Soekarno memiliki ciri khas, antara lain simbol bentuk gada di atap rumah yang menandakan kekuatan, keteguhan, dan perlawanan.
Soekarno merupakan lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) atau yang sekarang dikenal dengan ITB. Ia mendirikan sebuah biro arsitek pada tahun 1926 bersama rekannya, Ir. Anwari, dan setelah itu mendirikan biro lainnya bersama Ir. Rooseno.
Ada cukup banyak bangunan yang pernah dirancang dan dibangun oleh biro arsitek Soekarno di Bandung, tapi jejaknya masih perlu ditelisik. Disinyalir, banyak arsitektur Soekarno yang sudah punah.
"Dalam catatan saya dari 2014 tinggal 15 bangunan saja karya Soekarno yang masih dapat dilihat di Bandung," ucapnya.
Beberapa karya Soekarno di Bandung di antaranya, Penjara Sukamiskin, Hotel Preanger, Rumah Dinas Walikota, toko dan sejumlah rumah. (Ananda Gabriel)
