Konten Media Partner

Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Ular?

BandungKiwari

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Organisasi nonprofit yang fokus terkait masalah ular, Sioux Indonesia, menunjukkan ular. (Ananda Gabriel)
zoom-in-whitePerbesar
Organisasi nonprofit yang fokus terkait masalah ular, Sioux Indonesia, menunjukkan ular. (Ananda Gabriel)

BANDUNG, bandungkiwari - Organisasi nonprofit yang fokus terkait masalah ular, Sioux Indonesia, mengungkap tingginya jumlah korban gigitan ular di Jawa Barat. Di sisi lain, penanganan terhadap korban gigitan ular juga masih kental dipengaruhi mitos.

Salah satu mitos yang sering digunakan untuk menangani korban gigitan ular ialah mengikat bagian yang tergigit ular sekeras-kerasnya.

Perwakilan Sioux Indonesia, Albiansyah, menyatakan perlakuan mengikat korban gigitan ular kurang tepat. Sebab dengan cara tersebut korban akan mengalami kesulitan aliran darah dan terjadi pembusukan.

"Bahkan dengan cara seperti itu ada yang berefek diamputasi," kata Albiansyah, di Bandung, Minggu (7/7).

Selain itu, Albiansyah menyebutkan penanganan juga masih ada yang memakai perdukunan. Padahal secara ilmiah hal itu tidak berpengaruh.

"Berdasarkan panduan yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, intinya penanganan awal ketika digigit ular adalah dilakukan imobilisasi. Hal itu dilakukan untuk mengurangi pergerakan korban. Semakin banyak bergerak apalagi situasi panik akan memicu jantung dan mengalir ke seluruh tubuh," katanya.

Dalam kondisi pasca digigit ular, lanjut Albiansyah, korban hanya perlu berbaring setelah dilakukannya imobilisasi. Upayakan semaksimal mungkin tenang cari bantuan dan bawa ke medis.

Adapun cara memastikan racun telah masuk ke dalam tubuh, perlu memperhatikan gejala-gejalanya yang berbeda-beda untuk setiap jenis racun.

Untuk racun neurotoksin dari gigitan ular King Cobra misalnya, gejalanya berupa rasa kantuk. Mata tak bisa dibuka karena terjadi kelumpuhan pada otot kelopak mata, sesak nafas, dan kelumpuhan pita suara.

"Selain itu jangan meminum kopi dan alkohol. Minuman yang mengandung kafein dapat memicu adrenalin dan memompa darah lebih cepat," kata Albiansyah. (Ananda Gabriel)