BMKG Kembali Peringatkan Gelombang Tinggi di 40 Perairan Indonesia

Gelombang laut. (Pixabay)
BANDUNG, bandungkiwari - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali menerbitkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan Indonesia. Peringatan berlaku bagi 40 wilayah.
Menurut prakirawan BMKG Wilmar Lamhot P. Rajagukguk mengatakan, peringatan dini gelombang tinggi berlaku mulai 13 Agustus 2018 pukul 7.00 WIB - 16 Agustus 2018 pukul 7.00 WIB.
Peluang terjadinya gelombang tinggi dipicu akibat adanya kecepatan angin mencapai 46 kilometer per jam di Laut Andaman dan Laut Cina Selatan. Hal itu terjadi akibat pengaruh Tropical Depression (998 hPa) dan Tropical Storm YAGI (990 hPa) di perairan timur Vietnam dan Laut Cina timur yang memicu peningkatan tinggi gelombang.
"Tinggi gelombang terjadi di wilayah Laut Andaman, Laut Cina Selatan dan Perairan utara dan barat Sabang. Selain itu kondisi angin timuran yang persisten di barat Sumatra hingga selatan NTT juga memicu peningkatan tinggi gelombang di perairan barat Sumatra, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga NTT dan Laut Arafuru bagian barat dan tengah," kata Wilmar, dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/8/2018).
Wilmar mengatakan atas pantauan tersebut, diperkirakan gelombang dengan tinggi 1.25 - 2.50 meter terjadi di Selat Malaka bagian Utara, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Barat Aceh dan Timur Pulai Simeuleue, Perairan Kota Baru, Perairan Utara Kepulauan Nias, Selat Makasar bagian Selatan, Perairan Utara Kepulauan Nias, Selat Makasar bagian Selatan, Selat Sunda bagian Utara, Laut Flores dab Laut Banda.
Kemudian, Laut Sawu dan Perairan Selatan Flores, Perairan Baubau - Kepulauan Wakatobi, Selat Sumba bagian Barat dan Selat Ombai, Perairan Manui - Kendrai, Perairan Kepulauan Sermata - Kepulauan Letti, Perairan Selatan Pulau Buru - Pulau Seram, Perairan Kepulauan Kei - Kepulauan Aru, Perairan Selatan KEpulauan Banggai, Laut Arafuru bagian Timur, Perairan Timur Kepulauan Sula.
Selanjutnya, Laut Natuna Utara dan Laut Natuna, Laut Maluku, Perairan KEpulauan Anambas - Kepulauan Natuna, Perairan Kepulauan Sangihe - Kepulauan Talaud, Selat Karimata dan Selat Gelasa, Perairan Timur Bitung, Perairan Utara Pangkal Pinang, Laut Seram Bagian Timur, Laut Jawa dan Perairan Fakfak - Kaimana - Amamapre.
Untuk tinggi geombang 2.50 - 4.0 meter berpeluang di Perairan Utara dan Barat Sabang, Perairan Selatan Pulau Sumba - Pulau Sawu - Pulau Rote, Perairan Barat Pulau Simuelue - Kepulauan Mentawai, Laut Timor Selatan NTT, Perairan Bengkulu hingga Barat Lampung, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTT, Samudera Hindia Barat Sumatera, Perairan Selatan Kepulauan Babar - Kepulauan Tanibar, Selat Sunda bagian Selatan, Laut Arafuru bagian Barat dan Tengah, Perairan Selatan Jawa hingga Sumbawa dan Selat Bali - Selat Lombok - Selat Alas bagian Selatan.
"Harap diperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran seperti perahu nelayan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 Meter. Kapal tongkang harus memperhatikan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 Meter," ujar Wilmar.
Sedangkan untuk Kapal Ferry ujar Wilmar, harus memperhatikan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 Meter. Sementara kapal berukuran besar seperti Kapal Kargo atau Kapal Pesiar, harus waspada terhadap kecepatan angin ebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 Meter.
BMKG menghimbau masyarakat dan kapal-kapal yang melakukan aktivitas di pesisir barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, serta daerah lainnya yang berpotensi terjadinya gelombang tinggi, diharapkan mempertimbangkan kondisi tersebut. (Arie Nugraha)
