PUBLISHER STORY
BMKG Monitor Sumber Gempabumi Sesar Cimandiri
11 July 2018 13:29 WIB
0
0
Pusat gempabumi Lebak, Banten, Sabtu (7/7/2018). (BMKG)
BANDUNG, bandungkiwari - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memonitor aktivitas sesar Cimandiri. Patahan gempabumi ini disebut sumber gempabumi yang menggoyang Lebak, Provinsi Banten, Sabtu (7/7/2018) lalu, seperti dikonfirmasi Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Tony Agus Wijaya.
Menurut Tony, gempabumi tiga kali berturut-turut di Lebak sekaligus menunjukkan aktivitas sesar Cimandiri, salah satu sesar gempabumi yang ada di Jawa Barat. “Gempa berpusat di Cimandiri, ada aktivitas tektonik di sana yang menyebabkan gempa dengan kekuatan kecil,” kata Tony, saat dihubungi Bandungkiwari.com.
Sebelumnya, Sabtu (7/7/2018), gempabumi berkekuatan di bawah Magnitude 5 mengguncang daerah Lebak, Provinsi Banten. BMKG mencatat tiga kali gempabumi. Pertama berupa gempa pendahuluan pukul 10.56 WIB, kemudian disusul gempa yang lebih besar berkekuatan magnitude 4,6 pada pukul 12.23 WIB, lalu gempa ketiga yang lebih kecil dengan kekuatan magnitude 2,4 pada pukul 13.35 WIB.
Gempabumi terjadi di kedalaman 6 kilometer, dengan lokasi 6.98 lintang selatan, 106.34 bujur timur. Pusat gempa berada di darat 47 kilometer tenggara Lebak, Banten. Gempa dirasakan di Cikatomas, Panggarangan, Panimbang, Malimping, Cisarua, dan Pelabuhanratu.
Tony mengingatkan, gempabumi merupakan kejadian alam yang bersifat alamiah. Sementara sesar Cimandiri merupakan salah satu sumber gempabumi aktif yang menjadi salah satu sumber gempa tektonik di darat Jawa Barat.
Sumber gempabumi sendiri terdiri dari darat dan laut. Sumber gempa di laut terjadi akibat subduksi (tumbukan antar lempeng bumi), sementara sumber gempa di darat terjadi karena aktivitas sesar atau patahan gempabumi.
“Dari dulu Jabar punya sejarahnya, sumber gempa darat beberapa di antaranya sesar Lembang, Cimandiri, Baribis, dan Garut Selatan. Tapi umumnya gempa di darat kekuatan kecil di bawah lima magnitude,” terangnya.
Masyarakat diminta tak perlu khawatir dengan aktivitas sesar Cimandiri, mengingat hal itu kejadian alamiah. Namun masyarakat juga diingatkan untuk tetap waspada. Jika terjadi gempa, masyarakat diminta menghindari bangunan atau berkumpul di tempat terbuka.
Masyarakat juga tidak boleh terpengaruh isu-isu tidak jelas seputar gempabumi. Misalnya, isu tsunami. Ia menegaskan, gempabumi yang bersumber dari darat tidak berpotensi tsunami. “Kalau sumber gempanya di laut ada kemungkinan tsunami,” katanya.
Dalam laporan Pola Struktur Regional Jawa Barat Laboratorium Geodinamik Jurusan Geologi FMIPA-Unpad, Feisal Hilmi dan Iyan Haryanto, mengidentifikasi bahwa sesar Cimandiri memiliki dua arah jalur sesar. Segmen pertama berarah barat-timur, membentang mulai dari teluk Pelabuhan Ratu hingga mendekati selatan kota Sukabumi.
Segmen kedua, tulis Feisal Hilmi dan Iyan Haryanto, berarah barat daya-timur laut yang membentang mulai dari selatan kota Sukabumi menerus ke arah timur laut menuju Rajamandala hingga ke kawasan komplek Burangrang, Kabupaten Bandung Barat. Jalur sesar ini bahkan diperkirakan masih berlanjut ke Subang, bergabung dengan sesar Baribis yang membentang dari Purwakarta hingga Majalengka.
Sementara pakar geologi Dr. Ir. Budi Brahmantyo dalam buku saku “Field Trip Sesar Lembang: Patahan yang Mengancam Bandung”, menyebutkan patahan atau sesar merupakan retakan di kerak bumi yang telah menggeser blok yang dipisahkannya. Contohnya sesar Lembang yang digolongkan sebagai sesar normal. Bagian blok Lembang di sebelah utara ambles menurun, sementara blok bagian selatan terangkat naik. Terbentuklah bidang geser patahan yang miring terjal ke arah utara. Bidang ini memanjang hingga lebih dari 22 kilometer.
Budi Brahmantyo juga mengulas beberapa analisa para ahli, di antaranya pakar dari Geoteknologi LIPI Dr. Danny Hilman Natawidjadja yang menyatakan kemungkinan jika gempa sesar Cimandiri merambat ke sesar Lembang akan menimbulkan gempa dengan kekuatan 6,9 hingga 7,5 skala richter (SR).
Ahli lainnya, menurut Budi Brahmantyo, Engkon Kertapati menyusun peta yang menunjukkan tingkat kerawanan gempa bumi di Kota Bandung akibat adanya sesar Lembang. Peta tersebut menunjukkan hubungan empiris antara panjang sesar dan magnitude gempa. Panjang sesar antara 25 sampai 40 kilometer atau lebih memungkinkan menghasilkan gempa dengan kekuatan 6,7 atau 6,9 SR.
Budi pun mengingatkan, pemerintah mesti menyadari kenyataan akan potensi gempabumi di Jawa Barat, pentingnya mitigasi bencana, sosialisasi kewaspadaan gempabumi dan memfasilitasi bangunan tahan gempa. (Iman Herdiana)

Tulisan ini adalah kiriman dari publiser, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: