kumparan
KONTEN PUBLISHER
9 Maret 2019 15:39

Fenomena Bunuh Diri Mahasiswa, Kampus Diminta Lakukan Pencegahan Dini

dr teddy hidayat.JPG
Dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat., dr., SpKJ (K). (Iman Herdiana)
BANDUNG, bandungkiwari – Kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa marak terjadi. Pada akhir 2018 hingga awal 2019, sedikitnya terjadi lima mahasiswa yang mengakhiri hidupnya.
ADVERTISEMENT
Data yang dihimpun Bandungkiwari, 5 mahasiswa yang melakukan bunuh diri antara lain inisial AR (21), mahasiswa di Bandung, ditemukan Jumat 20 Juli 2018; MB, mahasiswa di Jatinangor, ditemukan 17 Desember 2018; RWP mahasiswa di Jatinangor, ditemukan 24 Desember 2018; BM, mahasiswa di Bogor ditemukan 21 Februari 2019.
Kasus terbaru menimpa AH, mahasiswa di Jatinangor, yang ditemukan Jumat 8 Maret 2019. Menurut penyelidikan kepolisian, motif-motif bunuh diri yang dilakukan mahasiswa beragam. Mulai dari dugaan ekonomi, hubungan sosial, tugas kuliah, dan lainnya.
Dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat., dr., SpKJ (K) menilai kasus bunuh diri mahasiswa bisa dibilang marak. Kasus ini justru fenomena gunung es.
Ia memperkirakan jumlah mahasiswa yang depresi dan berniat bunuh diri lebih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
Terakhir kan terjadi lagi mahasiswa di Jatinangor bunuh diri. Jadi kalau saya pikir memang harus sudah waktunya untuk mejadi masalah kalangan mahasiswa yang selama ini kurang mendapat perhatian menganai aspek kesehatan jiwa meraka, karena bunuh diri yang terjadi seperti puncak gunung es,” papar Teddy Hidayat, saat dihubungi Bandungkiwari, Sabtu (9/3).
“Permasalahan yang dihadapi mahasiswa ini banyak sekali, mulai dari personal, akademis, psikososial, semua itu kalau tidak tahan akan alami depresi dan kemudian bunuh diri,” lanjut psikiater yang aktif memberikan konseling pada pasien ketergantungan narkoba ini.
Di sisi lain, ia melihat upaya pencegahan atau penanggulangan kasus bunuh diri mahasiswa sampai hari ini belum optimal baik dilakukan perguruan tinggi (kampus) maupun lembaga atau pihak di luar kampus.
ADVERTISEMENT
“Sampai hari ini perguruan tinggi belum peduli atau khawatir. Sebab kalau ini dilakukan deteksi dini atau cek ulang mahasiswanya (yang berpotensi bunuh diri), takut nama perguruan tingginya buruk kalau ada kasus,” kata Teddy.
Padahal, pencehagan dan penaggulangan bunuh diri di kalangan mahasiswa sanga penting dan bisa ditanggulangi jika ada kemauan serius terutama dari pihak perguruan tinggi.
“Jadi, tolong kepada penentu kebijakan pendidikan tinggi harus menyadari bahwa ada problem yang harus diatasi,” tandasnya.
Teddy sendiri siap membantu pihak kampus untuk melakukan pencegahan atau deteksi dini terhadap mahasiswa yang memiliki masalah kejiwaan. Ia menilai layanan konseling yang dibuka pihak kampus saat ini kurang efesien dan efektif.
“Saya sudah menawakan (bantuan) ke UPT kesehatan kampus,” katanya. Namun, lanjut dia, tawarannya tersebut belum mendapat respons serius dari pihak kampus. (Iman Herdiana)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan